Rupiah Akan Menguat Lawan Dolar AS Jelang Akhir Tahun 2019
Senin, 30 Desember 2019 - 09:10 WIB
Rupiah Akan Menguat Lawan Dolar AS Jelang Akhir Tahun 2019
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan awal pekan hari ini diperkirakan melanjutkan tren penguatan. Sentimen positif rupiah didorong aset berisiko seperti yang terlihat di bursa saham yang sedang menguat jelang akhir tahun 2019 ini, yang kelihatannya bisa menopang penguatan rupiah terhadap USD.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menjelaskan, rupiah akan menguat melawan dolar AS. "Rupiah kemungkinan masih bisa menguat mengikuti sentimen positif yang membayangi pergerakan aset berisiko di akhir tahun ini," ujar Ariston di Jakarta, Senin (30/12/2019).
Sambung dia melanjutkan, aset berisiko di akhir tahun ini mungkin terkait dengan potensi pelonggaran moneter lanjutan atau suku bunga acuan rendah di tahun 2020."IDR to USD hari ini berpotensi bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp13.970 per USD," jelasnya.
Sebelumnya, Perjanjian perdagangan Amerika Serikat dan China fase pertama memberi sentimen positif bagi pasar aset berisiko, termasuk rupiah. Data Bloomberg mencatat rupiah pada Jumat (27/12/2019) menguat 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.952 per USD.
Sesi pembukaan, rupiah sempat mundur 2 poin ke level Rp13.960 per USD, namun berbalik mantul dibanding Kamis kemarin di Rp13.958 per USD. Akhir pekan ini, rupiah bergerak di Rp13.948-13.960 per USD.
Rupiah bersama dengan sejumlah mata uang Asia lainnya, menguat terhadap USD pada Jumat ini, seperti peso Filipina bertambah 0,24%, ringgit Malaysia menguat 0,16%, yen Jepang berdaya 0,12%, dan rupiah yang menguat 0,04%. Sementara rupee India memimpin pelemahan dengan turun 0,11%.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menjelaskan, rupiah akan menguat melawan dolar AS. "Rupiah kemungkinan masih bisa menguat mengikuti sentimen positif yang membayangi pergerakan aset berisiko di akhir tahun ini," ujar Ariston di Jakarta, Senin (30/12/2019).
Sambung dia melanjutkan, aset berisiko di akhir tahun ini mungkin terkait dengan potensi pelonggaran moneter lanjutan atau suku bunga acuan rendah di tahun 2020."IDR to USD hari ini berpotensi bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp13.970 per USD," jelasnya.
Sebelumnya, Perjanjian perdagangan Amerika Serikat dan China fase pertama memberi sentimen positif bagi pasar aset berisiko, termasuk rupiah. Data Bloomberg mencatat rupiah pada Jumat (27/12/2019) menguat 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.952 per USD.
Sesi pembukaan, rupiah sempat mundur 2 poin ke level Rp13.960 per USD, namun berbalik mantul dibanding Kamis kemarin di Rp13.958 per USD. Akhir pekan ini, rupiah bergerak di Rp13.948-13.960 per USD.
Rupiah bersama dengan sejumlah mata uang Asia lainnya, menguat terhadap USD pada Jumat ini, seperti peso Filipina bertambah 0,24%, ringgit Malaysia menguat 0,16%, yen Jepang berdaya 0,12%, dan rupiah yang menguat 0,04%. Sementara rupee India memimpin pelemahan dengan turun 0,11%.
(akr)