Suku Bunga Sulit Turun, Korporasi Pilih Kredit dari Luar Negeri

Rabu, 22 Januari 2020 - 16:35 WIB
Suku Bunga Sulit Turun,...
Suku Bunga Sulit Turun, Korporasi Pilih Kredit dari Luar Negeri
A A A
JAKARTA - Ekonom senior Indef Aviliani menilai dinamika perubahan ekosistem perbankan membuat persaingan kian ketat. Tuntutan regulator dan stakeholders untuk selalu prudent namun tetap profit juga semakin meningkatkan tantangan yang mesti dihadapi perbankan nasional.

Sementara, kinerja kredit yang turun, hingga belum cukup efektifnya pengawasan sektor keuangan yang berimplikasi pada kepercayaan masyarakat dan investor.

Berbagai tantangan sektor keuangan ini dapat disebut menjadi sandungan dalam mendorong akselerasi perekonomian dan memperkokoh stabilitas sistem keuangan ke depan.

Aviliani mengatakan, penurunan suku bunga acuan BI belum mampu mendorong pertumbuhan kredit perbankan karena persoalan rigiditas suku bunga di Indonesia. Faktanya, sejak Juni-Desember 2019, BI 7Days RR telah dikoreksi 100 basis poin atau 1% menjadi 5%. BI sudah menahan suku bunga acuan di level 5% sejak Oktober 2019.

Namun, kenyataannya suku bunga kredit untuk modal kerja pada bank umum hanya turun 16 basis poin sepanjang Juni-Oktober 2019. Kemudian pada kredit investasi turun 20 basis poin dan kredit konsumsi naik 6 basis poin.

"Untuk suku bunga kredit ekspor dan impor masing-masing justru naik 37 basis poin dan 22 basis poin," ujar Aviliani di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Lebih lanjut dia mengatakan, dampaknya nasabah korporasi cenderung memilih kredit dari luar negeri (offshore) karena lebih murah. "Biaya bunga perbankan luar negeri ditambah dengan biaya hedging masih lebih murah dari biaya kredit dari dalam negeri," ujarnya.

Alarm bahaya lain yang harus diwaspadai, sambung dia, adalah rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR) yang sudah di atas 94% pada Oktober 2019. Rasio tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2002 kecuali pada 2018 yang mencapai 95,16%.

"Tingginya LDR yang tidak diikuti dengan pertumbuhan DPK tinggi, ujungnya menjebak perbankan dalam masalah likuiditas," ujarnya.

Hingga Oktober 2019 data menunjukkan, masalah akibat pertumbuhan kredit yang mencapai 6,43% (yoy) sedangkan DPK hanya tumbuh 6,29%. "Sepanjang tahun lalu, kredit tumbuh 13,09% sedangkan uang simpanan atau DPK hanya 6,45% (yoy)," ujarnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ikuti Tren Suku Bunga...
Ikuti Tren Suku Bunga Acuan, Bunga Kredit Turun 4 Basis Poin
Mendorong Penurunan...
Mendorong Penurunan Suku Bunga Kredit
Bank Mandiri Turunkan...
Bank Mandiri Turunkan Suku Bunga Dasar Kredit
BRI Turunkan Bunga Kredit,...
BRI Turunkan Bunga Kredit, Respons Cepat Tren Rendah Suku Bunga Acuan BI
Walah! Suku Bunga Turun...
Walah! Suku Bunga Turun Kredit Masih Bisa Seret Lho
Bank Indonesia Kembali...
Bank Indonesia Kembali Tahan Suku Bunga di Level 3,5%
Berita Terkini
IHSG Siang Rebound 2,34%...
IHSG Siang Rebound 2,34% ke Level 5.881 Ditopang Saham Teknologi dan Perbankan
14 menit yang lalu
Ojol Keluhkan Harga...
Ojol Keluhkan Harga Pertamax Rp16.250 Kemahalan: Biasanya Naik Cuma Seribu, Ini 3 Ribu Lebih
34 menit yang lalu
Harga BBM Makin Mahal,...
Harga BBM Makin Mahal, Beban Bisnis Logistik Bakal Tambah Berat
1 jam yang lalu
Harga Pertamax Rp16.250...
Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
2 jam yang lalu
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
3 jam yang lalu
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
4 jam yang lalu
Infografis
Prabowo ke Luar Negeri,...
Prabowo ke Luar Negeri, Indonesia Dipimpin Gibran selama Dua Minggu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved