Gula Langka, HIPPI Dorong Pengembangan Pemanis Alternatif

Senin, 09 Maret 2020 - 21:57 WIB
Gula Langka, HIPPI Dorong...
Gula Langka, HIPPI Dorong Pengembangan Pemanis Alternatif
A A A
JAKARTA - Mengatasi kelangkaan gula di pasaran, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) mendorong anggota untuk mengembangkan industri pemanis alternatif pengganti gula. Dalam sebulan terakhir harga gula naik lumayan tinggi, dari biasanya Rp12 ribu menjadi Rp16 ribu.

“Ini perlu diantisipasi dengan memperbanyak industri pemanis alternatif pengganti gula. Mendorong pemanis alternatif adalah solusi persoalan gula di Tanah Air,” kata Ketua Kompartemen Pangan DPP HIPPI Bambang Sutrisno, dalam pernyataan tertulis kepada media di Jakarta, Senin (9/3/2020).

Dari berbagai alternatif tersebut, imbuh Bambang, setidaknya terdapat tiga jenis pemanis alternatif yang potensial dikembangkan anggota HIPPI. Pertama, gula kelapa yang saat ini baru diproduksi sekitar 60 ribu ton/tahun.

Kedua, gula aren dengan produksi sekitar 40 ribu ton/tahun. Dan ketiga adalah gula jagung. “Selain itu, bisa juga dikembangkan gula stevia yang sudah banyak ditemui di pasaran,” tegas Bambang.

Di sinilah HIPPI menilai pentingnya peran Pemerintah. Dalam hal ini, lanjut Bambang, Pemerintah bisa mendorong para pengusaha pribumi untuk mengembangkan pemanis alternatif. “Misalnya saja, dengan memberikan insentif bagi pengusaha pribumi,” tegasnya.

Dorongan untuk mengembangkan pemanis alternatif, menurut Bambang merupakan tuntutan. Pasalnya, kelangkaan gula tahun ini sudah sangat mengkhawatirkan. Biasanya, siklus harga gula selalu naik pada saat Ramadhan dan Idul Fitri.

Namun tahun ini, lanjut Bambang, belum juga Ramadhan, tetapi harga gula sudah melambung. “Mendorong produksi pemanis alternatif adalah solusi terbaik, apalagi Indonesia memiliki lahan yang luas,” kata dia.

Pengembangan pemanis alternatif, menurut Bambang, memang sangat memungkinkan. Pasalnya, dari sekitar 5 juta ton lebih kebutuhan gula nasional per tahun, hanya sekitar 2 juta ton yang bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Untuk memenuhi sisa kebutuhan tersebut, Pemerintah biasanya melakukan impor gula. “Padahal, mengatasi defisit kebutuhan gula apalagi ketika gula sedang langka, idealnya bukan dengan impor. Impor gula akan menguras devisa negara,” jelasnya.

Tentang rendahnya produksi gula nasional, Bambang menyoroti industri gula yang tidak efisien. Hal itu bisa dilihat dari angka rendemen tebu yang hanya berkisar 7 sampai dengan 8%. Sebagai gambaran, kalau 1 ton tebu digiling, hanya menghasilkan 70 kg gula pasir. Sangat jauh dibandingkan Australia 14% dan Brasil yang bisa mencapai 13%. “Bahkan dibandingkan Thailand, rendemen kita jauh tertinggal,” kata Bambang.

Beberapa hal, menurut Bambang, menjadi penyebab rendahnya rendemen. Pertama, karena tebu di Indonesia sering telat masuk pabrik. Idealnya dalam waktu 2-3 hari setelah panen, tebu sudah harus digiling. Tetapi di Indonesia jauh lebih lama dari itu sehingga kadar airnya menjadi jauh berkurang. “Selain itu, mesin di pabrik gula Indonesia juga sudah tua, ada yang lebih dari 100 tahun,” ungkapnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
HIPPI DKI Sebut PP Tapera...
HIPPI DKI Sebut PP Tapera Membebani Pengusaha dan Pekerja
Mitra Strategis Pemprov...
Mitra Strategis Pemprov DKI, HIPPI Jakarta Kembangkan UMKM Wujudkan Pusat Ekonomi Global
Pengusaha Desak Perubahan...
Pengusaha Desak Perubahan Status Pandemi jadi Endemi
Pengusaha Pribumi Buka...
Pengusaha Pribumi Buka Suara Soal Wacana Penundaan Pilpres 2024
Pengusaha Minta RUU...
Pengusaha Minta RUU Cipta Kerja Dilanjutkan, Modal Besar Pasca Covid-19
Utang Pinjol Pengusaha...
Utang Pinjol Pengusaha Capai Rp2 Triliun, Ternyata Ini Sebabnya
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
7 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
7 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
7 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
7 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
8 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
8 jam yang lalu
Infografis
9 Manfaat Rebusan Daun...
9 Manfaat Rebusan Daun Beluntas, Bantu Kendalikan Kadar Gula Darah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved