alexametrics

Pasar Keuangan Bergejolak, Rupiah Kian Melemah

loading...
A+ A-
JAKARTA - Gejolak pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir berimbas pada nilai tukar rupiah yang terus menunjukkan pelemahan. Kemarin rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ditutup pada level Rp14.818 per dolar AS. Angka tersebut melemah signifikan bila dibandingkan dengan awal pekan lalu yang masih berada di level Rp14.342 per dolar AS.

Namun kondisi ini tidak hanya dirasakan di Tanah Air. Sejumlah mata uang negara-negara lain juga bernasib sama. Pelemahan terbesar terjadi pada baht Thailand sebanyak 1,38%, disusul peso Filipina 1,20%, ringgit Malaysia 0,70%, rupee India 0,53%, dan dolar Singapura 0,48%. Adapun rupiah mengalami depresiasi 1,05%.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengakui kondisi rupiah terhadap dolar AS (USD) saat ini sangat berat. "Rupiah mendekati Rp15.000 (per dolar AS) dan kondisi ini sangat berat," ujar Luhut di Jakarta kemarin.



Dia mengatakan, terus melemahnya nilai tukar rupiah dan pasar saham Indonesia karena pasar keuangan sedang bergejolak. Menurutnya gejolak rupiah dan pasar saham bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi semua negara mengalami penurunan cukup besar. “Tapi kita masih cukup baik daripada negara lain," ujar Luhut.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, sentimen pasar masih sangat negatif selama pandemi virus korona belum jelas kapan berakhirnya. Hal ini berdampak pada pelemahan rupiah yang berpotensi akan terus melemah.

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini tidak ada batasannya. Jika semakin lama pandemi korona tidak tertangani, rupiah akan berpotensi terus melemah.

"Tidak ada faktor yang benar-benar positif menenangkan pasar. Selama ketidakpastian ini masih begitu besar, rupiah akan terus dalam posisi tertekan. Intervensi Bank Indonesia (BI) juga ada batasnya," ujarnya.

Selain pandemi corona, pelemahan rupiah juga ditengarai akibat dampak kasus corona yang meluas di Tanah Air. Hingga kemarin jumlah warga yang positif terinfeksi kembali bertambah menjadi 134 orang dan 5 orang meninggal dunia.

Hal itu ditambah langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang memangkas suku bunga hingga 0-0,25%. Kondisi ini disinyalir membuat investor akan menarik dana dari aset berisiko. Investor pun diperkirakan melarikannya ke instrumen aman seperti surat utang Pemerintah AS sehingga semakin menekan nilai tukar rupiah.

Diketahui pada Minggu lalu (15/3), The Fed memangkas suku bunga acuannya menjadi mendekati nol dan berjanji untuk meningkatkan kepemilikan obligasi sedikitnya USD700 miliar di tengah meningkatnya kekhawatiran atas wabah virus corona.

Pengamat perbankan Paul Sutaryono menilai penurunan suku bunga The Fed sebagai langkah moneter untuk meningkatkan gairah pasar AS yang sedang lesu sebagai dampak virus corona."Apa pengaruhnya bagi pasar keuangan Indonesia? Tentu secara pelan dana asing akan kembali masuk ke Indonesia," ujar Paul saat dihubungi di Jakarta.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, penurunan FFR yang drastis kemarin menjadi 0–0,25% boleh jadi akan diikuti bank-bank sentral negara lain, termasuk BI. Dengan ekspektasi inflasi 2020 masih on the target 2,5% +/- 1%, hal itu memberikan ruang bagi BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dalam minggu ini untuk menurunkan BI rate 25 bps menjadi 4,5%.

"Jika ini terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan outlook ekonomi RI," ungkap Ryan.

Adapun ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, dengan diturunkannya suku bunga AS seharusnya aliran dana asing akan masuk ke bank dan surat utang di Indonesia. Karena bunga deposito perbankan masih di atas 5% sehingga dianggap menarik. Sementara surat utang pemerintah dengan tenor 10 tahun yieldnya 7,34%.

"Spread yang lebar antara treasury yield dan SBN menguntungkan Indonesia dalam jangka pendek," kata Bhima. (Kunthi Fahmar Sandy/Hafid Fuad/Oktiani Endarwati)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top