Produksi baja nasional terancam
Sabtu, 14 Juli 2012 - 12:25 WIB
Produksi baja nasional terancam
A
A
A
Sindonews.com - Industri baja khawatir produksi baja nasional tahun ini tak mencapai 6,5 juta ton akibat kurangnya pasokan bahan baku. Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Industry Associations (IISIA) Edward Pinem mengatakan, produksi pada tahun ini terhambat oleh kurangnya pasokan bahan baku.
Diketahui, sekitar 7.000 kontainer berisi bahan baku besi tua (scrap) masih tertahan di sejumlah pelabuhan, yakni Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,dan Pelabuhan Belawan Medan karena diduga mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
“Satu kontainer isinya 20 ton scrap. Kemarin kita ketemu dengan pemerintah,mungkin nanti berikutnya proses importasi itu sudah mempunyai kepastian hukum yang lebih mudah, karena sungguh berat bebannya menanggung di pelabuhan karena barangnya tertahan,” kata Edward seusai diskusi bertema “Kinerja Industri Baja di Tengah Kelangkaan Bahan Baku” di Jakarta kemarin.
Edward memperkirakan, produksi baja di semester II/2012 juga akan mengalami penurunan hingga 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dia menambahkan, pihaknya belum mengetahui berapa banyak perusahaan baja yang akan mengimpor scrap lagi setelah adanya masalah penahanan tersebut. Apabila mengimpor bahan baku, kemungkinan pengusaha akan memilih billet karena tidak terlalu bermasalah dibandingkan scrap.Namun, imbuh dia, harga billet jauh lebih mahal dibandingkan scrap.
“Produksi akan turun banyak di semester II karena enam bulan pertama ini kita enggak melakukan apa-apa, hanya ribut saja dengan pemerintah,” ucapnya. Edward mengatakan, akibat masalah pasokan bahan baku itu,ada beberapa perusahaan baja nasional yang terpaksa mengistirahatkan karyawannya karena tidak bisa melakukan kegiatan produksi akibat kekurangan bahan baku. Setidaknya, ada delapan perusahaan yang harus mengistirahatkan karyawannya.
Sebagian lagi, imbuh dia, terpaksa menurunkan produksi. Menurut Edward, ada sekitar 17 perusahaan yang memangkas produksinya. Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, permasalahan industri baja nasional adalah para pelaku industrinya belum mampu memproduksi produk hulu industri sehingga masih bergantung pada bahan baku impor.
“Selama belum bisa memperbaiki industri hulu, persoalan bahan baku ini tidak akan terselesaikan,”tandasnya.
Diketahui, sekitar 7.000 kontainer berisi bahan baku besi tua (scrap) masih tertahan di sejumlah pelabuhan, yakni Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,dan Pelabuhan Belawan Medan karena diduga mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
“Satu kontainer isinya 20 ton scrap. Kemarin kita ketemu dengan pemerintah,mungkin nanti berikutnya proses importasi itu sudah mempunyai kepastian hukum yang lebih mudah, karena sungguh berat bebannya menanggung di pelabuhan karena barangnya tertahan,” kata Edward seusai diskusi bertema “Kinerja Industri Baja di Tengah Kelangkaan Bahan Baku” di Jakarta kemarin.
Edward memperkirakan, produksi baja di semester II/2012 juga akan mengalami penurunan hingga 30 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Dia menambahkan, pihaknya belum mengetahui berapa banyak perusahaan baja yang akan mengimpor scrap lagi setelah adanya masalah penahanan tersebut. Apabila mengimpor bahan baku, kemungkinan pengusaha akan memilih billet karena tidak terlalu bermasalah dibandingkan scrap.Namun, imbuh dia, harga billet jauh lebih mahal dibandingkan scrap.
“Produksi akan turun banyak di semester II karena enam bulan pertama ini kita enggak melakukan apa-apa, hanya ribut saja dengan pemerintah,” ucapnya. Edward mengatakan, akibat masalah pasokan bahan baku itu,ada beberapa perusahaan baja nasional yang terpaksa mengistirahatkan karyawannya karena tidak bisa melakukan kegiatan produksi akibat kekurangan bahan baku. Setidaknya, ada delapan perusahaan yang harus mengistirahatkan karyawannya.
Sebagian lagi, imbuh dia, terpaksa menurunkan produksi. Menurut Edward, ada sekitar 17 perusahaan yang memangkas produksinya. Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, permasalahan industri baja nasional adalah para pelaku industrinya belum mampu memproduksi produk hulu industri sehingga masih bergantung pada bahan baku impor.
“Selama belum bisa memperbaiki industri hulu, persoalan bahan baku ini tidak akan terselesaikan,”tandasnya.
(and)
Lihat Juga :