Kenaikan harga sembako, bukan salah pedagang tradisional
Sabtu, 21 Juli 2012 - 13:40 WIB
Kenaikan harga sembako, bukan salah pedagang tradisional
A
A
A
Sindonews.com - Sekretaris Jendral (Sekjen) Asosiasi Pedagang Pasar Se-Indonesia Ngadiran meradang, saat kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok dilimpahkan kepada para pedagang tradisional.
"Kalau ada yang menyatakan ulah spekulan saya setuju. Tapi saya tidak setuju jika ini dikatakan ulahnya pedagang pasar tradisional. Itu (kenaikan harga) ulahnya pedagang yang punya uang banyak, punya gudang, dan punya jaringan," ujar Ngadiran di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7/2012).
Kendati begitu, dia memaklumi pembangunan minimarket dan supermarket yang kian menjamur. Namun dia mempertanyakan nasib warung-warung kecil yang terkena dampak langsung pembangunan minimarket. "Kalau sekarang merebaknya minimarket dan supermarket sebagai alterntif untuk belanja masyarakat itu sah. Tapi bagaimana nasib warung-warung," ungkapnya.
Ngadiran berharap, permasalahan pangan benar-benar menjadi perhatian pemerintah, pengusaha dan masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, kenaikan harga sembako yang terjadi sebelum Ramadan merupakan rutinitas tahunan yang disebabkan oleh hukum pasar. Seiring dengan permintaan pasar yang meningkat, pedagang juga mencari kesempatan dengan menaikan harga.
Apalagi menurutnya masyarakat juga cenderung panik menghadapi kondisi ini. Sehingga pelaku usaha semakin memanfaatkan dengan menaikan harga setinggi mungkin.
Dirinya memastikan, secara skematik kenaikan hanya akan terjadi saat menjelang Ramadan, kemudian pada minggu pertama dan kedua, harga kembali turun dan naik lagi menjelang Lebaran.
"Justru ketika masyarakat panik, ini dimanfaatkan oleh pedagang karena sudah kita katakan itu ada dan nanti biasanya mulai memasuki Ramadan minggu pertama, kedua, harganya drop, tapi setelah itu baru naik lagi menjelang Lebaran," jelasnya.
Wajarnya kenaikan harga, menurut Suswono ditoleransi pada angka 15 persen. Namun jika itu terlewati, maka mesti dicarikan faktor penyebab, misalnya dari pasokan, distribusi ataupun hal lainnya.
"Kalau sudah di atas itu, memang kita harus cari faktornya apa. Kalau ada kaitannya dengan harga pangan yang meningkat, tetapi sebetulnya secara umum dari laporan yang sudah kita bahas bersama dari asosiasi sebetulnya stok cukup," pungkasnya. (mai)
"Kalau ada yang menyatakan ulah spekulan saya setuju. Tapi saya tidak setuju jika ini dikatakan ulahnya pedagang pasar tradisional. Itu (kenaikan harga) ulahnya pedagang yang punya uang banyak, punya gudang, dan punya jaringan," ujar Ngadiran di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7/2012).
Kendati begitu, dia memaklumi pembangunan minimarket dan supermarket yang kian menjamur. Namun dia mempertanyakan nasib warung-warung kecil yang terkena dampak langsung pembangunan minimarket. "Kalau sekarang merebaknya minimarket dan supermarket sebagai alterntif untuk belanja masyarakat itu sah. Tapi bagaimana nasib warung-warung," ungkapnya.
Ngadiran berharap, permasalahan pangan benar-benar menjadi perhatian pemerintah, pengusaha dan masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, kenaikan harga sembako yang terjadi sebelum Ramadan merupakan rutinitas tahunan yang disebabkan oleh hukum pasar. Seiring dengan permintaan pasar yang meningkat, pedagang juga mencari kesempatan dengan menaikan harga.
Apalagi menurutnya masyarakat juga cenderung panik menghadapi kondisi ini. Sehingga pelaku usaha semakin memanfaatkan dengan menaikan harga setinggi mungkin.
Dirinya memastikan, secara skematik kenaikan hanya akan terjadi saat menjelang Ramadan, kemudian pada minggu pertama dan kedua, harga kembali turun dan naik lagi menjelang Lebaran.
"Justru ketika masyarakat panik, ini dimanfaatkan oleh pedagang karena sudah kita katakan itu ada dan nanti biasanya mulai memasuki Ramadan minggu pertama, kedua, harganya drop, tapi setelah itu baru naik lagi menjelang Lebaran," jelasnya.
Wajarnya kenaikan harga, menurut Suswono ditoleransi pada angka 15 persen. Namun jika itu terlewati, maka mesti dicarikan faktor penyebab, misalnya dari pasokan, distribusi ataupun hal lainnya.
"Kalau sudah di atas itu, memang kita harus cari faktornya apa. Kalau ada kaitannya dengan harga pangan yang meningkat, tetapi sebetulnya secara umum dari laporan yang sudah kita bahas bersama dari asosiasi sebetulnya stok cukup," pungkasnya. (mai)
(and)
Lihat Juga :