Harga sembako naik akibat masyarakat konsumtif
Senin, 23 Juli 2012 - 14:44 WIB
Harga sembako naik akibat masyarakat konsumtif
A
A
A
Sindonews.com - Kenaikan harga sembako memang sudah menjadi langganan setiap bulan Ramadan dan Lebaran. Alasan pemerintah cenderung klasik, kenaikan harga disebabkan karena meningkatnya permintaan dan kurang stok kebutuhan pokok.
Di Depok, Jawa Barat, kenaikan harga sudah terjadi sejak dua minggu sebelum Ramadan. Harga sembako rata–rata naik hingga 30 persen. Bahkan harga daging sapi sudah menembus Rp85 ribu per kilogram, dan harga ayam potong mencapai Rp40 ribu per ekor.
Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Depok, Nuraeni mengatakan, resiko kenaikan harga selalu ada, di saat permintaan (demand) tinggi. Apalagi, kata dia, di saat bulan puasa dimana kebutuhan meningkat dan pola belanja masyarakat berubah menjadi konsumtif.
“Betul. Ini kebiasaan masyarakat kita, puasa justru menjadi konsumtif, inilah gerakan yang harus disosialisasikan perubahannya, seharusnya tak harus menambah masakan kan, puasa justru banyak orang yang jualan kan, demand tinggi. Pengaruh itu menyebabkan ketersediaan barang. Tak hanya Depok, gejala di 26 kabupaten kota se-Jabar juga terjadi,” jelasnya kepada wartawan di Balaikota Depok, Senin (23/07/12).
Nuraeni mengakui angka inflasi di Depok tertinggi se-Jabodetabek selama tiga bulan terakhir. Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta yang hanya 0,38 persen inflasi, Depok justru mencapai 0,83 persen di awal bulan Juli.
“Jawa Barat semua inflasi, tak ada yang deflasi, belum lagi ada spekulan, demand tinggi, muncul mikro–mikro baru. Pelaku usaha naik, tukang cendol dadakan banyak, es kelapa dadakan juga banyak, bicara demand pasti naik,” paparnya.
Untuk mengendalikan harga, Pemkot Depok menggelar pasar murah sembako yang akan digelar di 22 titik menjelang lebaran. Namun Pemkot Depok tak akan menggelar operasi pasar daging murah meski harga semakin tinggi.
Di Depok, Jawa Barat, kenaikan harga sudah terjadi sejak dua minggu sebelum Ramadan. Harga sembako rata–rata naik hingga 30 persen. Bahkan harga daging sapi sudah menembus Rp85 ribu per kilogram, dan harga ayam potong mencapai Rp40 ribu per ekor.
Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Depok, Nuraeni mengatakan, resiko kenaikan harga selalu ada, di saat permintaan (demand) tinggi. Apalagi, kata dia, di saat bulan puasa dimana kebutuhan meningkat dan pola belanja masyarakat berubah menjadi konsumtif.
“Betul. Ini kebiasaan masyarakat kita, puasa justru menjadi konsumtif, inilah gerakan yang harus disosialisasikan perubahannya, seharusnya tak harus menambah masakan kan, puasa justru banyak orang yang jualan kan, demand tinggi. Pengaruh itu menyebabkan ketersediaan barang. Tak hanya Depok, gejala di 26 kabupaten kota se-Jabar juga terjadi,” jelasnya kepada wartawan di Balaikota Depok, Senin (23/07/12).
Nuraeni mengakui angka inflasi di Depok tertinggi se-Jabodetabek selama tiga bulan terakhir. Jika dibandingkan dengan DKI Jakarta yang hanya 0,38 persen inflasi, Depok justru mencapai 0,83 persen di awal bulan Juli.
“Jawa Barat semua inflasi, tak ada yang deflasi, belum lagi ada spekulan, demand tinggi, muncul mikro–mikro baru. Pelaku usaha naik, tukang cendol dadakan banyak, es kelapa dadakan juga banyak, bicara demand pasti naik,” paparnya.
Untuk mengendalikan harga, Pemkot Depok menggelar pasar murah sembako yang akan digelar di 22 titik menjelang lebaran. Namun Pemkot Depok tak akan menggelar operasi pasar daging murah meski harga semakin tinggi.
(gpr)
Lihat Juga :