Tahu-tempe di Indramayu masih diproduksi

Rabu, 25 Juli 2012 - 17:17 WIB
Tahu-tempe di Indramayu...
Tahu-tempe di Indramayu masih diproduksi
A A A
Sindonews.com - Produsen tahu dan tempe di kabupaten Indramayu tetap berproduksi meski sejumlah produsen tahu tempe di Indonesia melakukan aksi mogok produksi secara massal.

Firman, 24, pemilik produksi tahu di desa Bojongsari kecamatan Indramayu mengatakan produksi tahu dan tempe tetap berjalan karena belum ada instruksi secara langsung dari pengurus asosiasi tahu tempe di daerah.

Selain kebutuhan dapur juga menjadi pertimbangan lain. "Kalau tidak produksi ya tidak dapat penghasilan. Jadi hari ini dan seterusnya akan tetap produksi," ungkapnya.

Selain itu, hal lainnya adalah produsen tahu lainnya di sentra produksi desa Bojongsari juga tidak melakukan mogok produksi.

"Semua produsen di sini tetap jalan produksinya dan tidak terpengaruh dengan mogok produksi massal di daerah lain," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh H.Lani, 42, pengusaha tahu lainnya. Ia mengaku tetap memproduksi tahu meski sejumlah daerah melakukan mogok produksi. "Pinginnya sih sama-sama melakukan mogok massal, tapi karena di sini sebagian besar tetap berjualan, jadi kita ikut temen-temen pengusaha lain saja," ungkapnya.

Selain itu, pengusaha tahu juga mengeluhkan tingginya harga kedelai di pasaran saat ini. Pasalnya harga kedelai sebesar Rp8 ribu per kg cukup memberatkan pengusaha tahu. "Kami terpaksa memperkecil ukuran tahu, agar tidak mengalami kerugian. Kalau harga jual tahu dinaikkan, kami khawatir pembeli malah berkurang," ungkapnya.

Selain mengurangi ukuran, pengusaha tahu juga mengurangi jumlah produksi. Bahan baku yang disiapkan biasanya 3 kuintal kedelai per hari, kini dikurangi menjadi 2 kuintal. "Ini karena modal kita terbatas karena kenaikan harga kedelai," katanya.

Produksi kedelai di kabupaten Indramayu masih sangat minim. Dari kebutuhan kedelai sebesar 700 ton per bulan, produksi kedelai lokal hanya mampu menyerap sekitar 35 ton atau 5 persen dari kebutuhan yang ada.

Ketua Wahana Masyarakat Tani Nelayan (Wamti) kabupaten Indramayu, Wawan Sugiarto mengatakan, kebutuhan kedelai sebesar 700 ton per bulan belum dapat dipenuhi oleh petani lokal. Hal itu membuat sejumlah produsen terpaksa memasok kebutuhan kedelai dari daerah lain serta impor.

"Petani lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan kedelai sekira 5 persen. Jadi, untuk pemenuhan kedelai masih bergantung pada impor," ungkapnya.

Wawan menilai, jika petani Indramayu mampu menyuplai sekitar 25 persen dari kebutuhan yang diperlukan, maka harga jual dari pengrajin tahu dan tempe tidak begitu tinggi.

Minimnya produksi kedelai lokal ini diprediksi karena minimnya minat petani lokal untuk menanam kedelai. "Sebagian besar petani masih bergantung pada pola tanam padi, padahal potensi tanam kedelai juga cukup menjanjikan," ujarnya.

Di kabupaten Indramayu terdapat sejumlah sentra produksi kedelai seperti di kecamatan Gantar, Haurgeulis dan Kroya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Kedelai Meroket,...
Harga Kedelai Meroket, Disperindag dan Polda Banten Sidak Gudang
Mencari Solusi Meredam...
Mencari Solusi Meredam Gejolak Harga Kedelai
Abai dengan Impor Kedelai,...
Abai dengan Impor Kedelai, Sampai Kapan?
Masih Ada Peluang Indonesia...
Masih Ada Peluang Indonesia Tak Bergantung pada Kedelai Impor
Ironi Tanaman Kedelai...
Ironi Tanaman Kedelai di Indonesia: Tanahnya Terbaik, tapi Impor Terus
Solutif! Harga Kedelai...
Solutif! Harga Kedelai Melonjak, Partai Perindo: Perbaiki Tata Kelola Impor & Tingkatkan Produksi Lokal
Berita Terkini
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
6 menit yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
1 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
1 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
2 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
5 jam yang lalu
Cargo Murah Kian Dibutuhkan...
Cargo Murah Kian Dibutuhkan di Tengah Meningkatnya Aktivitas Pengiriman Barang
11 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved