40% pengrajin tempe Solo hentikan produksi
Kamis, 26 Juli 2012 - 13:56 WIB
40% pengrajin tempe Solo hentikan produksi
A
A
A
Sindonews.com - Inpeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima di sejumlah pengrajin tempe dan tahu menemukan sejumlah fakta. Ternyata 40 persen pengrajin telah menghentikan produksinya sejak seminggu lalu akibat melonjaknya harga bahan baku kedelai.
Padahal di sentra industri pengrajin tempe dan tahu terbesar di Solo, Jawa Tengah ini, 120 kepala keluarga (KK) tidak ada masalah dengan harga kedelai sebelum dinaikkan.
"Ini bukti nyata dari dampak kenaikan bahan kedelai. Padahal, baru seminggu harga tersebut melonjak dengan kondisi ini pemerintah harus memberikan subsidi kepada pengrajin tempe dan tahu agar bisa bertahan," jelas Aria Bima, di Jebres, Solo, Kamis (26/7/2012).
Menurut Aria Bima, pembebasan bea masuk kedelai sebesar Rp400 per kilogram (kg) tidak berdampak. Aria menyebut, seharusnya pemerintah memberikan subsidi Rp1.000 kepada para pengrajin tempe dan tahu.
"Sehingga pemberian subsidi dan pemberian bea masuk ini baru cukup untuk menolong para pengrajin dari ancaman gulung tikar," paparnya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, APBN pun cukup untuk memberikan subsidi. Mengingat bahan baku tersebut sebagian besar masih diimpor dari Amerika Serikat (AS). Jika pemerintah tidak segera mengambil solusi atas kenaikan harga kedelai tersebut, para perajin akan gulung tikar.
"Komoditas kedelai harus dimonopoli oleh pemerintah seperti halnya monopoli beras yang dilakukan oleh Bulog. Dengan begitu pemerintah bisa mengontrol harga kedelai di pasar karena saat ini harga kedelai ditentukan oleh kartel pedagang," tandasnya.
Sementara itu, Ketua RT 03 RW 03 Krajan, Mojosongo, Aan Setiyono menyebutkan hampir 90 persen dari 120 KK di sana merupakan pengrajin tahu dan tempe. Kenaikan harga tersebut menyebabkan jumlah perajin yang masih berproduksi tinggal 40 persen.
"Mereka sudah tidak mampu menutupi kenaikan biaya produksi sehingga mereka memilih berhenti memproduksi tempe dan tahu," keluhnya.
Jika tetap bertahan, kata dia, satu-satunya cara yang dilakukan mereka hanya dengan mengecilkan ukuran tahu maupun tempe.
"Ukurannya dikurangi saja belum untung. Mereka memilih bertahan seperti itu. Karena mata pencaharian mereka ya cuma menjadi perajin tahu dan tempe," pungkasnya.
Padahal di sentra industri pengrajin tempe dan tahu terbesar di Solo, Jawa Tengah ini, 120 kepala keluarga (KK) tidak ada masalah dengan harga kedelai sebelum dinaikkan.
"Ini bukti nyata dari dampak kenaikan bahan kedelai. Padahal, baru seminggu harga tersebut melonjak dengan kondisi ini pemerintah harus memberikan subsidi kepada pengrajin tempe dan tahu agar bisa bertahan," jelas Aria Bima, di Jebres, Solo, Kamis (26/7/2012).
Menurut Aria Bima, pembebasan bea masuk kedelai sebesar Rp400 per kilogram (kg) tidak berdampak. Aria menyebut, seharusnya pemerintah memberikan subsidi Rp1.000 kepada para pengrajin tempe dan tahu.
"Sehingga pemberian subsidi dan pemberian bea masuk ini baru cukup untuk menolong para pengrajin dari ancaman gulung tikar," paparnya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, APBN pun cukup untuk memberikan subsidi. Mengingat bahan baku tersebut sebagian besar masih diimpor dari Amerika Serikat (AS). Jika pemerintah tidak segera mengambil solusi atas kenaikan harga kedelai tersebut, para perajin akan gulung tikar.
"Komoditas kedelai harus dimonopoli oleh pemerintah seperti halnya monopoli beras yang dilakukan oleh Bulog. Dengan begitu pemerintah bisa mengontrol harga kedelai di pasar karena saat ini harga kedelai ditentukan oleh kartel pedagang," tandasnya.
Sementara itu, Ketua RT 03 RW 03 Krajan, Mojosongo, Aan Setiyono menyebutkan hampir 90 persen dari 120 KK di sana merupakan pengrajin tahu dan tempe. Kenaikan harga tersebut menyebabkan jumlah perajin yang masih berproduksi tinggal 40 persen.
"Mereka sudah tidak mampu menutupi kenaikan biaya produksi sehingga mereka memilih berhenti memproduksi tempe dan tahu," keluhnya.
Jika tetap bertahan, kata dia, satu-satunya cara yang dilakukan mereka hanya dengan mengecilkan ukuran tahu maupun tempe.
"Ukurannya dikurangi saja belum untung. Mereka memilih bertahan seperti itu. Karena mata pencaharian mereka ya cuma menjadi perajin tahu dan tempe," pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :