Kalbe cetak laba bersih Rp807 M
Rabu, 01 Agustus 2012 - 09:15 WIB
Kalbe cetak laba bersih Rp807 M
A
A
A
Sindonews.com - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membukukan laba bersih konsolidasi (belum diaudit) Rp807 miliar untuk semester I/2012, atau meningkat 19,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp675 miliar.
Laba bersih per saham meningkat sebesar 19,6 persen dari Rp72 per lembar saham menjadi Rp86 per lembar saham. Peningkatan tersebut didorong pertumbuhan penjualan yang kuat. Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan KLBF Vidjongtius mengatakan, peningkatan penjualan terutama didorong pertumbuhan volume yang baik.
Melihat kondisi pasar yang kondusif, perseroan melakukan peningkatan harga secara selektif untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan profitabilitas. “Kinerja yang menggembirakan pada semester pertama kami akan melanjutkan eksekusi strategi perseroan secara konsisten untuk mencapai hasil yang mantap tahun ini,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya kemarin.
Dia mengungkapkan, perseroan membukukan penjualan bersih Rp6,24 triliun atau tumbuh 26,2 persen dibandingkan dengan semester pertama 2011 sebesar Rp4,94 triliun.
Laba kotor meningkat 18,7 persen dan rasio laba kotor terhadap penjualan bersih menurun dari 52,1 persen pada semester pertama 2011 menjadi 49,1 persen pada 2012. Menurut Vidjongtius, penurunan margin laba kotor disebabkan perubahan komposisi bisnis pada 2012. Di mana kontri busi penjualan Divisi Distribusi dan Logistik meningkat dari 30 persen pada semester pertama 2011 menjadi 37 persen pada semester I/2012
Meskipun kurs nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dan mata uang utama lainnya mengalami pelemahan dibandingkan tahun 2011 namun tren harga bahan baku relatif stabil dan KLBF secara kon sisten mampu menjalankan upaya pengendalian biaya produksi. Menurut Vidjongtius, biaya operasional perseroan pada paruh pertama tahun ini tidak tumbuh secepat pertumbuhan penjualan, sehingga rasio biaya operasional terhadap penjualan mengalami penurunan.
Biaya operasional perseroan terdiri dari beban penjualan, beban umum dan administrasi serta beban penelitian dan pengembangan. Rasio beban penjualan terhadap penjual an bersih menurun 1,1 persen dari 27,8 persen ke 26,8 persen pada 2012. Sementara, rasio beban umum dan administrasi menurun dari 5,7 persen ke 5,0 persen pada 2012. Rasio beban penelitian dan pengembangan terhadap penjualan bersih stabil sebesar 0,8 persen pada semester I/2012 dan 2011.
Beban penjualan mening kat sebesar 21,3 persen sejalan dengan berbagai kegiatan pemasaran dan penjualan untuk mendorong pertumbuhan penjualan dalam jangka menengah dan panjang. Analis Semesta Indovest Muhamad Sugiarto memperkirakan, hingga akhir tahun pertumbuhan penjualan perseroan bisa meningkat hingga 20 persen.
Hal itu seiring dengan semakin agresifnya perseroan menjual berbagai produk obat serta rencana meningkatkan volume penjualan obat ke luar negeri. Dia menuturkan, obat akan terus dibutuhkan. Bahkan, cenderung telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Masyarakat tetap akan membeli obat walaupun harganya menga lami kenaikan.
Laba bersih per saham meningkat sebesar 19,6 persen dari Rp72 per lembar saham menjadi Rp86 per lembar saham. Peningkatan tersebut didorong pertumbuhan penjualan yang kuat. Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan KLBF Vidjongtius mengatakan, peningkatan penjualan terutama didorong pertumbuhan volume yang baik.
Melihat kondisi pasar yang kondusif, perseroan melakukan peningkatan harga secara selektif untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan profitabilitas. “Kinerja yang menggembirakan pada semester pertama kami akan melanjutkan eksekusi strategi perseroan secara konsisten untuk mencapai hasil yang mantap tahun ini,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya kemarin.
Dia mengungkapkan, perseroan membukukan penjualan bersih Rp6,24 triliun atau tumbuh 26,2 persen dibandingkan dengan semester pertama 2011 sebesar Rp4,94 triliun.
Laba kotor meningkat 18,7 persen dan rasio laba kotor terhadap penjualan bersih menurun dari 52,1 persen pada semester pertama 2011 menjadi 49,1 persen pada 2012. Menurut Vidjongtius, penurunan margin laba kotor disebabkan perubahan komposisi bisnis pada 2012. Di mana kontri busi penjualan Divisi Distribusi dan Logistik meningkat dari 30 persen pada semester pertama 2011 menjadi 37 persen pada semester I/2012
Meskipun kurs nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS dan mata uang utama lainnya mengalami pelemahan dibandingkan tahun 2011 namun tren harga bahan baku relatif stabil dan KLBF secara kon sisten mampu menjalankan upaya pengendalian biaya produksi. Menurut Vidjongtius, biaya operasional perseroan pada paruh pertama tahun ini tidak tumbuh secepat pertumbuhan penjualan, sehingga rasio biaya operasional terhadap penjualan mengalami penurunan.
Biaya operasional perseroan terdiri dari beban penjualan, beban umum dan administrasi serta beban penelitian dan pengembangan. Rasio beban penjualan terhadap penjual an bersih menurun 1,1 persen dari 27,8 persen ke 26,8 persen pada 2012. Sementara, rasio beban umum dan administrasi menurun dari 5,7 persen ke 5,0 persen pada 2012. Rasio beban penelitian dan pengembangan terhadap penjualan bersih stabil sebesar 0,8 persen pada semester I/2012 dan 2011.
Beban penjualan mening kat sebesar 21,3 persen sejalan dengan berbagai kegiatan pemasaran dan penjualan untuk mendorong pertumbuhan penjualan dalam jangka menengah dan panjang. Analis Semesta Indovest Muhamad Sugiarto memperkirakan, hingga akhir tahun pertumbuhan penjualan perseroan bisa meningkat hingga 20 persen.
Hal itu seiring dengan semakin agresifnya perseroan menjual berbagai produk obat serta rencana meningkatkan volume penjualan obat ke luar negeri. Dia menuturkan, obat akan terus dibutuhkan. Bahkan, cenderung telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Masyarakat tetap akan membeli obat walaupun harganya menga lami kenaikan.
(and)
Lihat Juga :