Lonjakan harga minyak hantam ekonomi Korsel
Selasa, 07 Agustus 2012 - 10:14 WIB
Lonjakan harga minyak hantam ekonomi Korsel
A
A
A
Sindonews.com – Pusat Keuangan Internasional Korea (KCIF) dan Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan, lonjakan harga minyak mentah dunia yang disebabkan adanya risiko geopolitik Timur Tengah berpotensi menghantam perekonomian Korea Selatan (Korsel).
Menurut kedua lembaga tersebut,meningkatnya kekhawatiran disebabkan masalah kebuntuan program nuklir Iran dan embargo minyak mentah oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Eropa dapat menyebabkan naiknya harga minyak di atas USD100 per barel dalam beberapa bulan mendatang.
Hal tersebut diperkuat dengan harga bahan fosil mulai naik kembali pada akhir Juni lalu. Volatilitas harga minyak tergambar dari minyak mentah west texas intermediate yang melonjak 29,3 persen pada Kamis 2 Agustus 2012, pekan lalu.
Sebelumnya harga minyak yang digunakan sebagai patokan juga telah mengalami kenaikan hingga 32,5 persen pada 20 Juli lalu. Peneliti KCIF Oh Jeongseok mengatakan, melihat risiko tersebut Seoul harus siap menghadapi fluktuasi mendadak dari harga minyak mentah global.
Sementara, IEA menyatakan, kenaikan harga baru-baru ini dapat menimbulkan tantangan serius bagi perekonomian global. “Importir minyak mentah dapat menghadapi tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan,” imbuh organisasi tersebut dilansir Yonhapnews.com, kemarin.
Sementara itu,harga minyak mentah jenis brent di pasar Asia kemarin mencapai USD108,95 per barel, atau naik satu sen dibanding penutupan akhir pekan lalu. Kenaikan tersebut didorong sentimen positif dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) dan rencana kebijakan pembelian obligasi dari otoritas moneter zona euro.
Menurut kedua lembaga tersebut,meningkatnya kekhawatiran disebabkan masalah kebuntuan program nuklir Iran dan embargo minyak mentah oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Eropa dapat menyebabkan naiknya harga minyak di atas USD100 per barel dalam beberapa bulan mendatang.
Hal tersebut diperkuat dengan harga bahan fosil mulai naik kembali pada akhir Juni lalu. Volatilitas harga minyak tergambar dari minyak mentah west texas intermediate yang melonjak 29,3 persen pada Kamis 2 Agustus 2012, pekan lalu.
Sebelumnya harga minyak yang digunakan sebagai patokan juga telah mengalami kenaikan hingga 32,5 persen pada 20 Juli lalu. Peneliti KCIF Oh Jeongseok mengatakan, melihat risiko tersebut Seoul harus siap menghadapi fluktuasi mendadak dari harga minyak mentah global.
Sementara, IEA menyatakan, kenaikan harga baru-baru ini dapat menimbulkan tantangan serius bagi perekonomian global. “Importir minyak mentah dapat menghadapi tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan,” imbuh organisasi tersebut dilansir Yonhapnews.com, kemarin.
Sementara itu,harga minyak mentah jenis brent di pasar Asia kemarin mencapai USD108,95 per barel, atau naik satu sen dibanding penutupan akhir pekan lalu. Kenaikan tersebut didorong sentimen positif dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) dan rencana kebijakan pembelian obligasi dari otoritas moneter zona euro.
(and)
Lihat Juga :