Beberapa anggota bisa meninggalkan zona euro

Kamis, 09 Agustus 2012 - 11:17 WIB
Beberapa anggota bisa...
Beberapa anggota bisa meninggalkan zona euro
A A A
Sindonews.com - Menurut salah satu arsitek dari euro, beberapa anggota zona euro mungkin harus meninggalkan blok itu akibat krisis utang yang terusmenerus.

"Semuanya berbicara demi menyelamatkan kawasan euro," kata seorang mantan kepala ekonom Bank Sentral Eropa, Otmar Issing, seperti dikutip dari BBC.co.uk, Rabu 8 agustus 2012.

"Berapa banyak negara akan dapat menjadi bagian dari itu dalam jangka panjang, masih harus dilihat," tambahnya.

Pesan ini muncul setelah Bank Central Erppa (ECB) memperingatkan kurangnya pinjaman di kawasan ini. Bank sentral menyoroti kemerosotan uang yang dipinjamkan dalam lintas batas antara 17 negara yang tergabung dalam euro, zona euro menjadi semakin terfragmentasi.

ECB mengatakan, lintas batas pinjaman di pasar uang dalam semalam turun menjadi 40 persen dari total kredit, dari 60 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sebuah laporan terbaru oleh Morgan Stanley difokuskan pada "balkanisasi" dari sistem perbankan zona euro.

"Tim perbankan dan keuangan telah menyoroti bagaimana ekonomi zona euro lebih lemah (Spanyol, Italia, Portugal, Siprus, Yunani dan Irlandia) telah semakin kekurangan kredit perbankan, negara yang memiliki ekonomi lebih besar dan lebih kuat seperti Jerman dan Perancis telah berhenti meminjamkan kepada mereka," ujar editor bisnis BBC, Robert Peston.

Issing menambahkan, tidak benar bahwa Jerman akan lebih baik kembali ke deutschmark, menurutnya euro sudah lebih stabil.

"Orang harus fokus pada membawa euro kembali ke apa itu dimaksudkan untuk menjadi: mata uang yang stabil, distabilkan oleh sebuah bank sentral yang independen, yang mengikuti mandat yang jelas, tidak ada yang lain. Dan bahwa yang lain protagonis, terutama pemerintah nasional, melakukan pekerjaan rumah mereka," kata Issing.

Komentar itu datang setelah Bank Sentral Prancis mengatakan bahwa ekonomi akan jatuh ke dalam resesi pada kuartal ini.

Bank Sentral Prancis memperkirakan bahwa perekonomian akan berkontraksi sebesar 0,1 persen pada bulan Juli sampai September. Ia telah memperkirakan jatuhnya tingkat yang sama antara April dan Juni.

Italia juga ditetapkan pada kuartal ketiga berturut-turut kontraksi, sementara Bank Sentral Inggris memangkas proyeksi pertumbuhan Inggris untuk mendekati nol dari sekitar 0,8 persen, diperkirakan pada bulan Mei. Dan Inggris tidak di zona euro.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mengapa Jerman Dijuluki...
Mengapa Jerman Dijuluki sebagai The Sickman of Europe?
Eropa Tak Punya Alternatif...
Eropa Tak Punya Alternatif untuk Gantikan Energi Rusia
Jerman Kesal, Perusahaan...
Jerman Kesal, Perusahaan Energi Minta Bantuan Padahal Untung Besar
Kekuatan Industri Eropa...
Kekuatan Industri Eropa Digerogoti Krisis Energi, Ancaman Eksodus Menghantui
Harga Energi Selangit...
Harga Energi Selangit Bisa Membunuh Ekonomi Uni Eropa
Ledakan Guncang Pipa...
Ledakan Guncang Pipa Gas Utama Rusia, Harga Energi di Eropa Kian Menggila
Berita Terkini
Sokong Mandatori B50...
Sokong Mandatori B50 Diproyeksi Butuh Anggaran Rp32,3 T, BPDP Beri Garansi Kesiapan Dana
23 menit yang lalu
Progres Tol Japek II...
Progres Tol Japek II Selatan Paket 2A Capai 84%, Siap Jadi Jalur Alternatif
58 menit yang lalu
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Global Dinilai Masih Kuat
1 jam yang lalu
TUKS Petrokimia Gresik...
TUKS Petrokimia Gresik Raih Predikat Pelabuhan Terbaik Nasional
1 jam yang lalu
Siap-siap Pendaftaran...
Siap-siap Pendaftaran Peserta Magang Nasional Angkatan II Dibuka Mulai 16 Juli
2 jam yang lalu
Harga Serat Naik, Pemilik...
Harga Serat Naik, Pemilik Brand Lokal Mulai Menghitung Ulang Pilihan Kainnya
3 jam yang lalu
Infografis
Ini Rincian Gaji Anggota...
Ini Rincian Gaji Anggota DPR Jadi Rp65,5 Juta usai Pemangkasan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved