Bukber 3000
Minggu, 12 Agustus 2012 - 13:20 WIB
Bukber 3000
A
A
A
BUKBER alias “buka bersama” saya gambarkan layaknya gadis molek yang sedang mencorong di bulan puasa ini. Kalau artis sinetron atau bintang iklan, ia layaknya superstar yang sedang heboh diperebutkan stasiun TV dan pengiklan.
Kalau seorang model, wajahnya terpampang di billboard tiap perempatan, kover-kover majalah atau poster-poster yang tertempel di tembok-tembok gang. Semua kegiatan kita di bulan Ramadan ini rasanya kurang keren kalau tidak dilabeli dengan embel-embel bukber. Meeting dengan klien atau partner kerja rasanya kurang afdal jika tidak “berkedok” bukber.Reuni teman SMA kurang cool kalau nggak dipas-paskan dengan saat-saat menjelang buka puasa. Bahkan launching sebuah produk terkenal kurang paten rasanya kalau tidak dikaitkan dengan acara buka puasa bersama. Itulah bukber.
Di tangan kaum kelas menengah urban (yup,consumer 3000) ia telah tersulap menjadi sebuah ritual yang cool, awesome, dan keren abis.Dulu zaman saya kecil, detik-detik menjelang berbuka puasa adalah saat yang biasa saja. Kita sekeluarga kumpul di meja makan sambil ngobrol biasa saja. Di meja terhidang santapan yang juga biasa saja. Semuanya serba biasa, sederhana, dan bersahaja.
Tanpa gemerlap sorot lampu, tanpa sambutan- sambutan orang penting, tanpa musik dan tarian yang menghebohkan, juga tanpa makanan-makanan enak nan mahal yang menguras isi dompet. Kini semua itu berubah.Ini setidaknya yang saya lihat dan amati di Jakarta.Mari kitacermatiperistiwa-peristiwaunikbukber di seputar kita.Karena terjadi di zaman consumer 3000, enteng saya menyebutnya dengan istilah seksi: bukber 3000.
Narsis di Mal
Setiap lewat jam 4 sore selama bulan puasa ini jalanan Jakarta macet minta ampun .Rupanya pada jam tersebut karyawan- karyawan kantor sudah pada pulang. Mereka bukannya pulang ke rumah, tetapi tergopoh-gopoh menuju mal-mal di pusat kota. Tujuan mereka jelas: ada yang janjian dengan pacar atau istri untuk bukber, ada yang janjian reuni SMA sambil bukber, ada yang arisan ibu-ibu berkedok bukber, ada yang mau menghadiri talk show sambil bukber, ada yang mau ikutan bedah buku beraroma bukber.
Mal menjadi tempat paling menjanjikan bagi consumer 3000 untuk berbukber- ria karena di situ heboh dan happening, di situ makanan enak-enak (dan mahal-mahal) ada semua,dan yang terpenting di situ kita bisa narsis. Bukber di mal yang penting bukan cuma bersosialisasi dan makan-makannya, yang jauh lebih penting adalah foto-fotonya, lalu di-upload di Twitter atau Facebook.
Oasis
Di kota besar seperti Jakarta banyak orang yang tak cukup bersosialisasi dengan keluarga atau teman karena tertawan oleh jadwal pekerjaan yang begitu padat.Dalam kondisi seperti ini bukber menjadi sebuah “oasis” yang menyejukkan kita semua.Lama tak bersosialisasi, berkoneksi,dan bercengkerama dengan keluarga atau teman adalah “utang”yang harus dibayar.
Nah,bukber adalah momen yang tepat untuk “membayar” utang tersebut. Itu sebabnya di bulan puasa ini kita mendapati tren tempat-tempat publik seperti mal,kafe, restoran, atau hotel penuh sesak menjadi ajang bukber kawan arisan, teman reuni,atau sobat komunitas.
Kopdar Yuk!!!
Bukber juga menjadi “alasan” bagi kita yang demenberjejaring sosial di dunia untuk kopi darat (kopdar).Terus-menerus sepanjang hari atau sepanjang minggu berjejaring sosial lewat Twitter atau Facebook membuat kita tak tahan untuk sekadar melepas kangen,melempar senyum, atau curhat-curhatan secara langsung. Tak aneh jika 7-Eleven yang biasanya baru ramai setelah jam 9 malam di bulan puasa ramai lebih awal oleh para ABG yang bergerombol menggelar kopdar.
Ciri dari para social media freakdi Indonesia adalah bahwa mereka tak bisa lepas untuk melakukan engagement secara offline. Itu sebabnya kopdar menjadi tren sosial yang marak beberapa tahun terakhir.Tren inilah yang menyebabkan gerai-gerai seperti 7-Eleven atau McCafe meraup sukses luar biasa.
Komodifikasi
Bukber juga “dipelintir” para pemilik merek sebagai alat promosi yang powerful. Semua kegiatan promosi mulai dari launching produk, customer gathering, penganugerahan award,talk show,fashion show hingga konser musik digelar oleh pemilik merek dengan membumbuinya dengan aroma bukber. Rokok Djarum misalnya,sudah beberapa tahun terakhir menggelar acara konser musik dengan bumbu beraroma ngabuburitdan bukber.
Tak hanya itu, bukber juga menjadi tool yang luar biasa untuk membangun citra positif perusahaan di mata para karyawannya. Tak mengherankan jika beberapa tahun terakhir, seperti dikomando, perusahaan-perusahaan di seluruh Nusantara secara sukarela menggelar bukber untuk karyawannya.
Kampanye
Jangan lupa,bukber juga menjadi alat ampuh untuk menggalang massa. Para pemimpin yang sedang getol berkampanye untuk memperebutkan kursi bupati, gubernur,DPR,atau presiden menggunakan bukber untuk menggalang massa pemilih.Bukber bersama anak yatim atau kaum papa adalah modus operandi yang sering mereka jalankan.Tujuannya tak jauh dari pencitraan dan pemenangan hati pemilih. Di sini bukber menjadi medium yang powerful mengingat citra positif yang melekat di dalamnya.
Ya, karena bukber identik dengan hal-hal positif seperti suasana religi,keakraban silaturahmi,dan kebersamaan. Inilah consumer 3000. Karena saking pintarnya, otak dan cara berpikir mereka kini menjadi ruwet enggak keruan.Sesuatu yang dulunya simpel kini menjadi ruwet. Sesuatu yang dulunya bersahaja dan apa adanya kini menjadi topeng yang pekat dengan pencitraan.
Sesuatu yang dulunya genuinekini menjadi fake. Saya heran, bukber yang dulunya begitu sederhana dan murah kini menjadi rumit dan mahal minta ampun.Apa ini yang namanya zaman edan? Upsss...
YUSWOHADY
Pengamat Bisnis dan Pemasaran
Kalau seorang model, wajahnya terpampang di billboard tiap perempatan, kover-kover majalah atau poster-poster yang tertempel di tembok-tembok gang. Semua kegiatan kita di bulan Ramadan ini rasanya kurang keren kalau tidak dilabeli dengan embel-embel bukber. Meeting dengan klien atau partner kerja rasanya kurang afdal jika tidak “berkedok” bukber.Reuni teman SMA kurang cool kalau nggak dipas-paskan dengan saat-saat menjelang buka puasa. Bahkan launching sebuah produk terkenal kurang paten rasanya kalau tidak dikaitkan dengan acara buka puasa bersama. Itulah bukber.
Di tangan kaum kelas menengah urban (yup,consumer 3000) ia telah tersulap menjadi sebuah ritual yang cool, awesome, dan keren abis.Dulu zaman saya kecil, detik-detik menjelang berbuka puasa adalah saat yang biasa saja. Kita sekeluarga kumpul di meja makan sambil ngobrol biasa saja. Di meja terhidang santapan yang juga biasa saja. Semuanya serba biasa, sederhana, dan bersahaja.
Tanpa gemerlap sorot lampu, tanpa sambutan- sambutan orang penting, tanpa musik dan tarian yang menghebohkan, juga tanpa makanan-makanan enak nan mahal yang menguras isi dompet. Kini semua itu berubah.Ini setidaknya yang saya lihat dan amati di Jakarta.Mari kitacermatiperistiwa-peristiwaunikbukber di seputar kita.Karena terjadi di zaman consumer 3000, enteng saya menyebutnya dengan istilah seksi: bukber 3000.
Narsis di Mal
Setiap lewat jam 4 sore selama bulan puasa ini jalanan Jakarta macet minta ampun .Rupanya pada jam tersebut karyawan- karyawan kantor sudah pada pulang. Mereka bukannya pulang ke rumah, tetapi tergopoh-gopoh menuju mal-mal di pusat kota. Tujuan mereka jelas: ada yang janjian dengan pacar atau istri untuk bukber, ada yang janjian reuni SMA sambil bukber, ada yang arisan ibu-ibu berkedok bukber, ada yang mau menghadiri talk show sambil bukber, ada yang mau ikutan bedah buku beraroma bukber.
Mal menjadi tempat paling menjanjikan bagi consumer 3000 untuk berbukber- ria karena di situ heboh dan happening, di situ makanan enak-enak (dan mahal-mahal) ada semua,dan yang terpenting di situ kita bisa narsis. Bukber di mal yang penting bukan cuma bersosialisasi dan makan-makannya, yang jauh lebih penting adalah foto-fotonya, lalu di-upload di Twitter atau Facebook.
Oasis
Di kota besar seperti Jakarta banyak orang yang tak cukup bersosialisasi dengan keluarga atau teman karena tertawan oleh jadwal pekerjaan yang begitu padat.Dalam kondisi seperti ini bukber menjadi sebuah “oasis” yang menyejukkan kita semua.Lama tak bersosialisasi, berkoneksi,dan bercengkerama dengan keluarga atau teman adalah “utang”yang harus dibayar.
Nah,bukber adalah momen yang tepat untuk “membayar” utang tersebut. Itu sebabnya di bulan puasa ini kita mendapati tren tempat-tempat publik seperti mal,kafe, restoran, atau hotel penuh sesak menjadi ajang bukber kawan arisan, teman reuni,atau sobat komunitas.
Kopdar Yuk!!!
Bukber juga menjadi “alasan” bagi kita yang demenberjejaring sosial di dunia untuk kopi darat (kopdar).Terus-menerus sepanjang hari atau sepanjang minggu berjejaring sosial lewat Twitter atau Facebook membuat kita tak tahan untuk sekadar melepas kangen,melempar senyum, atau curhat-curhatan secara langsung. Tak aneh jika 7-Eleven yang biasanya baru ramai setelah jam 9 malam di bulan puasa ramai lebih awal oleh para ABG yang bergerombol menggelar kopdar.
Ciri dari para social media freakdi Indonesia adalah bahwa mereka tak bisa lepas untuk melakukan engagement secara offline. Itu sebabnya kopdar menjadi tren sosial yang marak beberapa tahun terakhir.Tren inilah yang menyebabkan gerai-gerai seperti 7-Eleven atau McCafe meraup sukses luar biasa.
Komodifikasi
Bukber juga “dipelintir” para pemilik merek sebagai alat promosi yang powerful. Semua kegiatan promosi mulai dari launching produk, customer gathering, penganugerahan award,talk show,fashion show hingga konser musik digelar oleh pemilik merek dengan membumbuinya dengan aroma bukber. Rokok Djarum misalnya,sudah beberapa tahun terakhir menggelar acara konser musik dengan bumbu beraroma ngabuburitdan bukber.
Tak hanya itu, bukber juga menjadi tool yang luar biasa untuk membangun citra positif perusahaan di mata para karyawannya. Tak mengherankan jika beberapa tahun terakhir, seperti dikomando, perusahaan-perusahaan di seluruh Nusantara secara sukarela menggelar bukber untuk karyawannya.
Kampanye
Jangan lupa,bukber juga menjadi alat ampuh untuk menggalang massa. Para pemimpin yang sedang getol berkampanye untuk memperebutkan kursi bupati, gubernur,DPR,atau presiden menggunakan bukber untuk menggalang massa pemilih.Bukber bersama anak yatim atau kaum papa adalah modus operandi yang sering mereka jalankan.Tujuannya tak jauh dari pencitraan dan pemenangan hati pemilih. Di sini bukber menjadi medium yang powerful mengingat citra positif yang melekat di dalamnya.
Ya, karena bukber identik dengan hal-hal positif seperti suasana religi,keakraban silaturahmi,dan kebersamaan. Inilah consumer 3000. Karena saking pintarnya, otak dan cara berpikir mereka kini menjadi ruwet enggak keruan.Sesuatu yang dulunya simpel kini menjadi ruwet. Sesuatu yang dulunya bersahaja dan apa adanya kini menjadi topeng yang pekat dengan pencitraan.
Sesuatu yang dulunya genuinekini menjadi fake. Saya heran, bukber yang dulunya begitu sederhana dan murah kini menjadi rumit dan mahal minta ampun.Apa ini yang namanya zaman edan? Upsss...
YUSWOHADY
Pengamat Bisnis dan Pemasaran
(and)
Lihat Juga :