Berkembang dengan dukungan Pemda
Minggu, 19 Agustus 2012 - 14:00 WIB
Berkembang dengan dukungan Pemda
A
A
A
Sindonews.com - Bukan sesuatu yang berlebihan tentunya bila para pengrajin Indonesia ingin menjadi tuan rumah atas berbagai karya kerajinan yang bersumber dari kekayaan alam di bumi Indonesia.
Hal tersebut sejalan dengan amanah undang-undang seperti UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba dan Kepmendag Nomor 29/M-DAG/PER/5/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan yang menitikberatkan peningkatan nilai tambah tambang ekspor melalui pengolahan.
Cita-cita itu juga yang saat ini tengah gencar ditanamkan Robby dan rekan-rekannya yang merupakan pengrajin fosil kayu dimana bahan baku fosil kayu banyak melimpah di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya Banten.
Demikian setidaknya gambaran perasaan Robby dan rekan-rekan pengrajin fosil kayu saat ditemui Sindonews dalam ajang 'Fashion and Craft 2012' yang digelar di JCC, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.
Sementara itu, di Banten sendiri cita-cita menjadi tuan atas kekayaan alam negeri sendiri tersebut rupanya juga mendapat dukungan dari pemerintah Provinsi setempat.
Staf Pelaksana Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, Agus Andriansyah mengungkapkan, baik bagi pengrajin maupun pemerintah memandang, pengolahan fosil kayu di dalam negeri mampu memberi nilai tambah ekonomis lebih tinggi ketimbang hanya mengekspor kekayaan alam dalam keadaan mentah.
"Industri binaan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten ini mampu mengekspor satu ton, dari berbagai jenis budidaya fosil kayu," tegasnya kala itu.
Diakui Andri, dukungan pemerintah ini memang berangkat dari rasa prihatin, dimana hingga saat ini masih marak ekploitasi dan ekspor fosil kayu yang masih dalam kondisi mentah secara besar-besaran. Seperti juga yang terjadi di wilayah kerjanya di Banten.
"Memang, cara orang paling mudah untuk menjual barang tambang beginian ya dijual kiloan. Biar lebih cepat dapat uangnya. Padahal jika kita berpikir, kalau menjualnya dalam bentuk raw material (mentah), misalnya ke China atau Korea, pastinya mereka akan menjualnya kembali dalam bentuk sudah jadi ke negara lain atau ke kita juga," ungkapnya merasa prihatin.
Hal tersebut sejalan dengan amanah undang-undang seperti UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba dan Kepmendag Nomor 29/M-DAG/PER/5/2012 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan yang menitikberatkan peningkatan nilai tambah tambang ekspor melalui pengolahan.
Cita-cita itu juga yang saat ini tengah gencar ditanamkan Robby dan rekan-rekannya yang merupakan pengrajin fosil kayu dimana bahan baku fosil kayu banyak melimpah di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya Banten.
Demikian setidaknya gambaran perasaan Robby dan rekan-rekan pengrajin fosil kayu saat ditemui Sindonews dalam ajang 'Fashion and Craft 2012' yang digelar di JCC, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.
Sementara itu, di Banten sendiri cita-cita menjadi tuan atas kekayaan alam negeri sendiri tersebut rupanya juga mendapat dukungan dari pemerintah Provinsi setempat.
Staf Pelaksana Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten, Agus Andriansyah mengungkapkan, baik bagi pengrajin maupun pemerintah memandang, pengolahan fosil kayu di dalam negeri mampu memberi nilai tambah ekonomis lebih tinggi ketimbang hanya mengekspor kekayaan alam dalam keadaan mentah.
"Industri binaan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Banten ini mampu mengekspor satu ton, dari berbagai jenis budidaya fosil kayu," tegasnya kala itu.
Diakui Andri, dukungan pemerintah ini memang berangkat dari rasa prihatin, dimana hingga saat ini masih marak ekploitasi dan ekspor fosil kayu yang masih dalam kondisi mentah secara besar-besaran. Seperti juga yang terjadi di wilayah kerjanya di Banten.
"Memang, cara orang paling mudah untuk menjual barang tambang beginian ya dijual kiloan. Biar lebih cepat dapat uangnya. Padahal jika kita berpikir, kalau menjualnya dalam bentuk raw material (mentah), misalnya ke China atau Korea, pastinya mereka akan menjualnya kembali dalam bentuk sudah jadi ke negara lain atau ke kita juga," ungkapnya merasa prihatin.
(gpr)
Lihat Juga :