Hyundai Motor kejar investasi Rp5 T
Kamis, 13 September 2012 - 18:16 WIB
Hyundai Motor kejar investasi Rp5 T
A
A
A
Sindonews.com - Hyundai Motor Indonesia, berniat untuk mendirikan pabrik otomotif di tanah air. Mereka terus mendesak Hyundai Motor pusat di Korea untuk membangun pabrik mobil, dengan nilai investasi RP5 triliun. Jika ini terealisasi, Hyundai optimistis bisa bersaing dalam pasar mobil.
“Sudah, saya sudah usulkan itu ke Korea tetapi belum ada realisasi,” jelas Presdir Hyundai Motor Indonesia Jongkie D Sugiarto, disela reopening Hyundai Motor Adisutjipto di Yogyakarta, Kamis (13/9/2012).
Menurutnya pasar mobil di Indonesia masih cukup terbuka. Ini menjadi alasan utama, kenapa terus mengusulkan pembangunan pabrik. Di Indonesia, kepemilikan mobil baru 77/1.000 penduduk dengan penduduk yang cukup tinggi. Sedangkan di Thailand sudah 200/1000 dan Malaysia 300/1.000 penduduk, dengan penduduk yang jauh lebih kecil.
Pertimbangan lain terletak pada sisi harga jual mobil per unit. Saat ini mobil produk Hyundai dan sparepartnya masih banyak dikerjakan di Korea. Akibatnya harga jual dibanderol Rp300 jutaan, karena terbebani biaya impor yang mencapai 45 persen. Tingginya pajak dan biaya ini, karena Korea tidak masuk dalam Asian Free Trade Area (AFTA).
Pajak dan biaya ini, bisa ditekan jika diproduksi di tanah air atau negara tetangga yang masuk AFTA. Sehingga harga jual akan lebih murah dan bisa bersaing dengan produk Jepang yang sudah mendominasi pasar.
“Indonesia ibarat gadis cantik yang diperebutkan, makanya banyak yang tertarik menancapkan taringnya,” tandas ketua I Gabungan Industri Kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo).
Diakuinya, penjualan Hyundai masih jauh dibawah para competitornya. Hal ini dianggap wajar, karena Hyundai baru muncul pada 1995 silam. Namun trend penjualan cukup tumbuh, dan mampu meraih 3 persen segmen pasar. Akhir tahun lalu, penjualan sudah mencapai 7.000 unit.
Vice President Hyundai Indonesia, Mukiyat Sugiyanto mengatakan untuk mendongkrak penjualan pihaknya terus meyakinkan pabrikan untuk membangun pabrik pembuatan dan perakitan. Harga ini sangat menentukan peran penjualan mobil di Indonesia.
Hyundai juga terus melakukan perbaikan infrastruktur penjualan. Salah satunya dengan membangun showroom dan dealer penjualan yang lebih representatif sesuai standar perusahaan. Baik dari sisi SDM, pelayanan aftersales hingga seluruh tampilan. Dealer di Yogyakarta ini merupakan dealer ke 10 yang menggunakan konsep standar Hyundai (corporate identity). “Nanti semua dealer konsepnya sama, hanya mungkin luasannya yang beda,” jelasnya.
Direktur Utama Hyundai Adisutjipto Yogyakarta, Yap Halim Kurniawan mengatakan, untuk membangun dealer ini menghabiskan dana Rp1,2 miliar. Saat ini, penjualan Hyundai di Yogyakarta baru mencapai sekitar 15 unit perbulan. Penambahan fasilitas dealer dan peningkatan kapasitas personil, diharapkan bisa mendongkrak penjualan hingga 25 unit. “Kami akui, penjualan Hyundai memang masih kalah dengan pabrikan lain,” jelasnya.
“Sudah, saya sudah usulkan itu ke Korea tetapi belum ada realisasi,” jelas Presdir Hyundai Motor Indonesia Jongkie D Sugiarto, disela reopening Hyundai Motor Adisutjipto di Yogyakarta, Kamis (13/9/2012).
Menurutnya pasar mobil di Indonesia masih cukup terbuka. Ini menjadi alasan utama, kenapa terus mengusulkan pembangunan pabrik. Di Indonesia, kepemilikan mobil baru 77/1.000 penduduk dengan penduduk yang cukup tinggi. Sedangkan di Thailand sudah 200/1000 dan Malaysia 300/1.000 penduduk, dengan penduduk yang jauh lebih kecil.
Pertimbangan lain terletak pada sisi harga jual mobil per unit. Saat ini mobil produk Hyundai dan sparepartnya masih banyak dikerjakan di Korea. Akibatnya harga jual dibanderol Rp300 jutaan, karena terbebani biaya impor yang mencapai 45 persen. Tingginya pajak dan biaya ini, karena Korea tidak masuk dalam Asian Free Trade Area (AFTA).
Pajak dan biaya ini, bisa ditekan jika diproduksi di tanah air atau negara tetangga yang masuk AFTA. Sehingga harga jual akan lebih murah dan bisa bersaing dengan produk Jepang yang sudah mendominasi pasar.
“Indonesia ibarat gadis cantik yang diperebutkan, makanya banyak yang tertarik menancapkan taringnya,” tandas ketua I Gabungan Industri Kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo).
Diakuinya, penjualan Hyundai masih jauh dibawah para competitornya. Hal ini dianggap wajar, karena Hyundai baru muncul pada 1995 silam. Namun trend penjualan cukup tumbuh, dan mampu meraih 3 persen segmen pasar. Akhir tahun lalu, penjualan sudah mencapai 7.000 unit.
Vice President Hyundai Indonesia, Mukiyat Sugiyanto mengatakan untuk mendongkrak penjualan pihaknya terus meyakinkan pabrikan untuk membangun pabrik pembuatan dan perakitan. Harga ini sangat menentukan peran penjualan mobil di Indonesia.
Hyundai juga terus melakukan perbaikan infrastruktur penjualan. Salah satunya dengan membangun showroom dan dealer penjualan yang lebih representatif sesuai standar perusahaan. Baik dari sisi SDM, pelayanan aftersales hingga seluruh tampilan. Dealer di Yogyakarta ini merupakan dealer ke 10 yang menggunakan konsep standar Hyundai (corporate identity). “Nanti semua dealer konsepnya sama, hanya mungkin luasannya yang beda,” jelasnya.
Direktur Utama Hyundai Adisutjipto Yogyakarta, Yap Halim Kurniawan mengatakan, untuk membangun dealer ini menghabiskan dana Rp1,2 miliar. Saat ini, penjualan Hyundai di Yogyakarta baru mencapai sekitar 15 unit perbulan. Penambahan fasilitas dealer dan peningkatan kapasitas personil, diharapkan bisa mendongkrak penjualan hingga 25 unit. “Kami akui, penjualan Hyundai memang masih kalah dengan pabrikan lain,” jelasnya.
(gpr)