Produksi melimpah, petani sawit Muaraenim bingung
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 19:10 WIB
Produksi melimpah, petani sawit Muaraenim bingung
A
A
A
Sindonews.com - Harga tanda buah segar (TBS) sawit pada tingkat petani di Kabupaten Muaraenim masih relatif stabil, yakni antara Rp1.400- Rp1.500 per kg. Namun demikian, petani justru tidak memiliki tempat penjualan pasti karena pabrik Cruide Palm Oil (CPO) kini membatasi pembelian.
Salah satu petani Sawit di Desa Harapan Jaya Kecamatan Muaraenim Hanifah, 48, mengatakan, saat ini produksi buah sawit dari petani plasma di kawasan PTPN 7 SULI sedang membanjir. Rata-rata setiap kelompok tani mampu memproduksi TBS sebanyak 60 ton per hari.
Padahal, sebelumnya jumlah produksi hanya berkisar 20 hingga 30 ton saja per hari. Namun, akibat tingginya tingkat produksi ini, para petani justru tidak dapat menjual TBS yang sudah dipetik tersebut ke pabrik pengolahan CPO setempat.
Lantaran terbatasnya kuota pembelian oleh perusahaan kepada kelompok petani plasma. Sehingga, TBS yang sudah terlanjur dipanen oleh petani kini menumpuk dan terancam membusuk bila tak segera diangkut dan dibeli perusahaan.
“Sejak di panen pada Sepetember lalu, sudah ada sedikitnya 580 ton TBS yang belum diangkut,” ujar Hanifah di Muaraenim, Jumat (5/10/2012).
Senada, warga Desa Saka Jaya, Yandri, menuturkan, sejak dua bulan terakhir produksi sawitnya cukup tinggi. Dari dua hektar lahan yang ia miliki, ia mampu memetik sebanyak 1-2 ton per hari. Lantaran hal ini, kata dia, kelompok tani di desanya justru kebingungan. Sawit yang melimpah terancam tak dapat dijual dengan harga yang pantas.
“Kalau ingin jual ke tengkulak bisa saja, tetapi harganya jauh di bawah harga pabrik. Bisa jadi di bawah Rp1.000 per kilogram. Tapi untuk menjual TBS sawit ke pabrik harus antri dulu,”paparnya.
Sebelumnya, Sinder Umum PTPN 7 SULI, Domu Simanungkalit menjelaskan saat ini produksi rata-rata kebun inti milik BUMN itu juga mengalami over produksi dengan ght 4562 produksi rata-rata mencapai 1400 ton per harinya. Sedangkan, daya tampung pabrik CPO yang dimiliki perusahaan hanya 750 ton saja per hari.
"Jadi,jangankan harus membeli TBS dari petani plasma melalui KUD setempat, kebutuhan pabrik CPO milik PTPN 7 SULI juga kewalahan melayani TBS dari kebun sawit inti milik perusahaan," terang Domu.
Tak hanya itu, kata Domu, saat ini mesin pabrik juga sering mengalami masalah. Sehingga, proses produksi sering diundur dan TBS pun menumpuk. Sementara, saat ini tingkat produksi sawit juga cukup tinggi.Dan, untuk harga beli pihaknya masih memakai harga standar Dinas Perkebunan yakni antara Rp1.400-Rp1.500 per kilogram.
Selama ini, umumnya petani plasma yang ada di sekitar pabrik CPO kerap memanfaatkan kondisi naik turunnya harga TBS di pabrik PTPN 7 SULI. Bila PTPN 7 SULI membeli dengan harga tinggi, maka para petani plasma akan menjual TBS nya ke perusahaan. Sebaliknya, bila harga turun, maka para petani plasma akan menjual TBS nya ke perusahaan pabrik CPO swasta yang juga ada di Kabupaten Muaraenim.
“Sesungguhnya ini dilema juga, biasanya kalau buah sawit banyak seperti dua bulan terakhir ini justru menguntungkan perusahaan. Tetapi yang terjadi, kita dibuat bingung, bagaimana agar kerjasama dengan petani plasma tetap berjalan, dan TBS yang kita hasilkan dari kebun sendiri juga dapat ditampung di pabrik,” tukasnya.
Sementara itu, Manager Humas PT Cifta Futura (Cifu) Sofyan Simanjuntak turut membenarkan jika produksi buah sawit saat ini juga mengalami peningkatan produksi yang signifikan.
Namun, kata dia, pihaknya tidak melakukan pembelian TBS dari petani di luar perkebunan perusahaan. Selain itu, pabrik CPO milik PT. Cifta Futura juga hanya mengelola TBS dari perkebunan sawit milik perusahaan sendiri.
Salah satu petani Sawit di Desa Harapan Jaya Kecamatan Muaraenim Hanifah, 48, mengatakan, saat ini produksi buah sawit dari petani plasma di kawasan PTPN 7 SULI sedang membanjir. Rata-rata setiap kelompok tani mampu memproduksi TBS sebanyak 60 ton per hari.
Padahal, sebelumnya jumlah produksi hanya berkisar 20 hingga 30 ton saja per hari. Namun, akibat tingginya tingkat produksi ini, para petani justru tidak dapat menjual TBS yang sudah dipetik tersebut ke pabrik pengolahan CPO setempat.
Lantaran terbatasnya kuota pembelian oleh perusahaan kepada kelompok petani plasma. Sehingga, TBS yang sudah terlanjur dipanen oleh petani kini menumpuk dan terancam membusuk bila tak segera diangkut dan dibeli perusahaan.
“Sejak di panen pada Sepetember lalu, sudah ada sedikitnya 580 ton TBS yang belum diangkut,” ujar Hanifah di Muaraenim, Jumat (5/10/2012).
Senada, warga Desa Saka Jaya, Yandri, menuturkan, sejak dua bulan terakhir produksi sawitnya cukup tinggi. Dari dua hektar lahan yang ia miliki, ia mampu memetik sebanyak 1-2 ton per hari. Lantaran hal ini, kata dia, kelompok tani di desanya justru kebingungan. Sawit yang melimpah terancam tak dapat dijual dengan harga yang pantas.
“Kalau ingin jual ke tengkulak bisa saja, tetapi harganya jauh di bawah harga pabrik. Bisa jadi di bawah Rp1.000 per kilogram. Tapi untuk menjual TBS sawit ke pabrik harus antri dulu,”paparnya.
Sebelumnya, Sinder Umum PTPN 7 SULI, Domu Simanungkalit menjelaskan saat ini produksi rata-rata kebun inti milik BUMN itu juga mengalami over produksi dengan ght 4562 produksi rata-rata mencapai 1400 ton per harinya. Sedangkan, daya tampung pabrik CPO yang dimiliki perusahaan hanya 750 ton saja per hari.
"Jadi,jangankan harus membeli TBS dari petani plasma melalui KUD setempat, kebutuhan pabrik CPO milik PTPN 7 SULI juga kewalahan melayani TBS dari kebun sawit inti milik perusahaan," terang Domu.
Tak hanya itu, kata Domu, saat ini mesin pabrik juga sering mengalami masalah. Sehingga, proses produksi sering diundur dan TBS pun menumpuk. Sementara, saat ini tingkat produksi sawit juga cukup tinggi.Dan, untuk harga beli pihaknya masih memakai harga standar Dinas Perkebunan yakni antara Rp1.400-Rp1.500 per kilogram.
Selama ini, umumnya petani plasma yang ada di sekitar pabrik CPO kerap memanfaatkan kondisi naik turunnya harga TBS di pabrik PTPN 7 SULI. Bila PTPN 7 SULI membeli dengan harga tinggi, maka para petani plasma akan menjual TBS nya ke perusahaan. Sebaliknya, bila harga turun, maka para petani plasma akan menjual TBS nya ke perusahaan pabrik CPO swasta yang juga ada di Kabupaten Muaraenim.
“Sesungguhnya ini dilema juga, biasanya kalau buah sawit banyak seperti dua bulan terakhir ini justru menguntungkan perusahaan. Tetapi yang terjadi, kita dibuat bingung, bagaimana agar kerjasama dengan petani plasma tetap berjalan, dan TBS yang kita hasilkan dari kebun sendiri juga dapat ditampung di pabrik,” tukasnya.
Sementara itu, Manager Humas PT Cifta Futura (Cifu) Sofyan Simanjuntak turut membenarkan jika produksi buah sawit saat ini juga mengalami peningkatan produksi yang signifikan.
Namun, kata dia, pihaknya tidak melakukan pembelian TBS dari petani di luar perkebunan perusahaan. Selain itu, pabrik CPO milik PT. Cifta Futura juga hanya mengelola TBS dari perkebunan sawit milik perusahaan sendiri.
(gpr)
Lihat Juga :