Pemerintah kesulitan bendung impor ilegal
Sabtu, 20 Oktober 2012 - 10:48 WIB
Pemerintah kesulitan bendung impor ilegal
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam acara kongres Ikatan Alumni Teknik Elektro ITS (IKA ELITS) pagi ini menyatakan bahwa pemerintah mengalami kesulitan dalam menutup pintu bagi masuknya barang-barang impor yang melanggar peraturan.
"Dalam tujuh bulan, Kemendag (Kementerian Perdagangan) sudah menemukan sekitar 4.000 produk impor yang melanggar SNI dan peraturan-peraturan lainnya. Agak sulit melawan arus ini," kata Mendag Gita di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Sebagai contoh, Gita menyebut helm dan apel impor yang sangat mudah dijumpai di pinggir jalan. Helm-helm impor tersebut banyak yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Adapun apel impor yang dijual di pasaran banyak yang menggunakan bahan kimia berbahaya agar terlihat mengkilat.
Lebih jauh, dia menyayangkan sikap masyarakat Indonesia yang tidak mempertimbangkan banyak aspek dalam memilih barang konsumsi. Akibatnya, barang impor berkualitas rendah yang beresiko bila digunakan malah laris di pasaran hanya karena harganya murah.
"Sayangnya budaya kita masih budaya kenyang murah, asal beli saja tanpa melihat resikonya. Karena itulah, kita bablas kemasukan barang impor," keluh Gita.
Pihaknya mengakui, kontrol pemerintah terhadap arus barang impor masih lemah. Barang-barang impor ilegal dapat dengan mudah melenggang masuk karena kurangnya pengawasan di pelabuhan, berbeda jauh dengan pelabuhan di negara-negara maju.
"Di Eropa, mereka punya 600 monitor di semua pelabuhan, sehingga mereka bisa mengawasi adanya pelanggaran-pelanggaran barang impor seperti dumping, standar kualitas, ketiadaan garansi, dan lain-lain," ujarnya.
"Dalam tujuh bulan, Kemendag (Kementerian Perdagangan) sudah menemukan sekitar 4.000 produk impor yang melanggar SNI dan peraturan-peraturan lainnya. Agak sulit melawan arus ini," kata Mendag Gita di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (20/10/2012).
Sebagai contoh, Gita menyebut helm dan apel impor yang sangat mudah dijumpai di pinggir jalan. Helm-helm impor tersebut banyak yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Adapun apel impor yang dijual di pasaran banyak yang menggunakan bahan kimia berbahaya agar terlihat mengkilat.
Lebih jauh, dia menyayangkan sikap masyarakat Indonesia yang tidak mempertimbangkan banyak aspek dalam memilih barang konsumsi. Akibatnya, barang impor berkualitas rendah yang beresiko bila digunakan malah laris di pasaran hanya karena harganya murah.
"Sayangnya budaya kita masih budaya kenyang murah, asal beli saja tanpa melihat resikonya. Karena itulah, kita bablas kemasukan barang impor," keluh Gita.
Pihaknya mengakui, kontrol pemerintah terhadap arus barang impor masih lemah. Barang-barang impor ilegal dapat dengan mudah melenggang masuk karena kurangnya pengawasan di pelabuhan, berbeda jauh dengan pelabuhan di negara-negara maju.
"Di Eropa, mereka punya 600 monitor di semua pelabuhan, sehingga mereka bisa mengawasi adanya pelanggaran-pelanggaran barang impor seperti dumping, standar kualitas, ketiadaan garansi, dan lain-lain," ujarnya.
(rna)
Lihat Juga :