Konsumen online optimistis
Kamis, 01 November 2012 - 08:53 WIB
Konsumen online optimistis
A
A
A
Sindonews.com – Tingkat kepercayaan konsumen online Indonesia pada kuartal III tahun ini masih tetap tinggi, yakni di peringkat kedua di bawah India, berdasarkan survei Nielsen di 58 negara.
Berdasarkan survei tersebut, Nielsen menilai empat dari lima konsumen Indonesia masih percaya dengan keadaan keuangannya untuk berbelanja melalui sistem online di masa depan. Survei Global Consumer Confidence Index dari Nielsen mencatat, Indonesia memiliki nilai indeks 119 dengan perbedaan satu poin dari India.
Managing Director Nielsen Indonesia Chaterine Edy mengungkapkan, indeks kepercayaan tersebut menunjukkan pertanda baik bagi peluang bisnis belanja online di Indonesia. “Ini menunjukkan kemampuan untuk membeli barangbarang yang mampu meningkatkan gaya hidup dan kenyamanan masih sangat menjanjikan,” kata dia seusai memaparkan hasil survei tersebut di Jakarta, kemarin.
Pada kuartal III/2012, sebanyak 80 persen konsumen online Indonesia masih optimistis dengan prospek kondisi keuangan ke depan, kendati sedikit turun dari 82 persen di kuartal sebelumnya. Bahkan, 57 persen konsumen menyatakan 12 bulan ke depan merupakan waktu yang baik untuk berbelanja kebutuhannya, dengan catatan kinerja ekonomi tetap baik selama periode tersebut.
Menurut dia, penurunan sebesar 2 persen dibanding kuartal sebelumnya terjadi karena Indonesia sedikit terkena imbas resesi global saat ini. “Ini khususnya untuk barang-barang elektronik, barang-barang tahan lama dan teknologi. Kemampuan produsen untuk memberikan kenyamanan tentu saja tetap memperhitungkan harga yang terjangkau untuk meraih konsumen kelas menengah Indonesia,” kata Chaterine.
Menurut dia, optimisme masyarakat bisa akan lebih tinggi lagi jika keadaan didukung dengan lingkungan ekonomi dan politik yang stabil. Berdasarkan peringkat 10 besar Global Consumer Confidence Index, Indonesia yang berada di bawah India yang menempati urutan pertama, mengungguli Filipina, Uni Emirat Arab, Thailand, Brasil, China, Malaysia dan Swiss.
Sebelumnya, lembaga Riset Marketing MarkPlus Inc juga membeberkan tingginya potensi belanja online di Indonesia. MarkPlus mencatat, 61 juta orang atau 40 persen pengguna internet biasa mengakses lebih dari tiga jam per hari.
Mereka didominasi kalangan kelas menengah dengan jumlah terbesar memanfaatkan perangkat mobile, yakni 58 juta jiwa. “Bayangkan saja jika jumlah 60 juta pemakai internet mengonsumsi barang lewat penjualan online, tentu bisa dilihat bahwa Indonesia adalah pasar yang prospektif, khususnya untuk brand-brand tertentu,” ungkap Vice Presiden MarkPlus Inc. Taufik, belum lama ini.
Fenomena pasar online di Indonesia saat ini memang marak disasar anak muda Indonesia. Selain memberikan keuntungan besar, sejumlah pewirausaha muda melihat peluang pasar di bisnis internet Indonesia unik karena Indonesia memiliki jumlah pelanggan yang segmentatif.
“Pasar kita itu unik. Kenapa? karena masyarakat Indonesia khususnya anak muda memiliki kelas yang segmentatif. Misalnya, penjualan akan ramai kalau kita menjual barang lewat online dengan jumlah edisi terbatas,” kata Tengku Rivan Satria Havas, wirausahawan penjualan sepatu yang memanfaatkan internet.
Di sisi lain, imbuh dia, urusan dengan perizinan pun tidak berbelit. Namun, ke depan mungkin bakal ada sedikit guncangan bagi bisnis belanja online. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak baru-baru ini mengumumkan akan menerapkan pajak di sektor perdagangan online.
“Saat ini kami sedang mengkaji itu, rancangan aturannya, kerangka hukumnya, karena banyak transaksi perdagangan yang dilakukan secara online besar,” kata Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany belum lama ini.
Berdasarkan survei tersebut, Nielsen menilai empat dari lima konsumen Indonesia masih percaya dengan keadaan keuangannya untuk berbelanja melalui sistem online di masa depan. Survei Global Consumer Confidence Index dari Nielsen mencatat, Indonesia memiliki nilai indeks 119 dengan perbedaan satu poin dari India.
Managing Director Nielsen Indonesia Chaterine Edy mengungkapkan, indeks kepercayaan tersebut menunjukkan pertanda baik bagi peluang bisnis belanja online di Indonesia. “Ini menunjukkan kemampuan untuk membeli barangbarang yang mampu meningkatkan gaya hidup dan kenyamanan masih sangat menjanjikan,” kata dia seusai memaparkan hasil survei tersebut di Jakarta, kemarin.
Pada kuartal III/2012, sebanyak 80 persen konsumen online Indonesia masih optimistis dengan prospek kondisi keuangan ke depan, kendati sedikit turun dari 82 persen di kuartal sebelumnya. Bahkan, 57 persen konsumen menyatakan 12 bulan ke depan merupakan waktu yang baik untuk berbelanja kebutuhannya, dengan catatan kinerja ekonomi tetap baik selama periode tersebut.
Menurut dia, penurunan sebesar 2 persen dibanding kuartal sebelumnya terjadi karena Indonesia sedikit terkena imbas resesi global saat ini. “Ini khususnya untuk barang-barang elektronik, barang-barang tahan lama dan teknologi. Kemampuan produsen untuk memberikan kenyamanan tentu saja tetap memperhitungkan harga yang terjangkau untuk meraih konsumen kelas menengah Indonesia,” kata Chaterine.
Menurut dia, optimisme masyarakat bisa akan lebih tinggi lagi jika keadaan didukung dengan lingkungan ekonomi dan politik yang stabil. Berdasarkan peringkat 10 besar Global Consumer Confidence Index, Indonesia yang berada di bawah India yang menempati urutan pertama, mengungguli Filipina, Uni Emirat Arab, Thailand, Brasil, China, Malaysia dan Swiss.
Sebelumnya, lembaga Riset Marketing MarkPlus Inc juga membeberkan tingginya potensi belanja online di Indonesia. MarkPlus mencatat, 61 juta orang atau 40 persen pengguna internet biasa mengakses lebih dari tiga jam per hari.
Mereka didominasi kalangan kelas menengah dengan jumlah terbesar memanfaatkan perangkat mobile, yakni 58 juta jiwa. “Bayangkan saja jika jumlah 60 juta pemakai internet mengonsumsi barang lewat penjualan online, tentu bisa dilihat bahwa Indonesia adalah pasar yang prospektif, khususnya untuk brand-brand tertentu,” ungkap Vice Presiden MarkPlus Inc. Taufik, belum lama ini.
Fenomena pasar online di Indonesia saat ini memang marak disasar anak muda Indonesia. Selain memberikan keuntungan besar, sejumlah pewirausaha muda melihat peluang pasar di bisnis internet Indonesia unik karena Indonesia memiliki jumlah pelanggan yang segmentatif.
“Pasar kita itu unik. Kenapa? karena masyarakat Indonesia khususnya anak muda memiliki kelas yang segmentatif. Misalnya, penjualan akan ramai kalau kita menjual barang lewat online dengan jumlah edisi terbatas,” kata Tengku Rivan Satria Havas, wirausahawan penjualan sepatu yang memanfaatkan internet.
Di sisi lain, imbuh dia, urusan dengan perizinan pun tidak berbelit. Namun, ke depan mungkin bakal ada sedikit guncangan bagi bisnis belanja online. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak baru-baru ini mengumumkan akan menerapkan pajak di sektor perdagangan online.
“Saat ini kami sedang mengkaji itu, rancangan aturannya, kerangka hukumnya, karena banyak transaksi perdagangan yang dilakukan secara online besar,” kata Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany belum lama ini.
(rna)
Lihat Juga :