Minyak menipis, teknik EOR sangat dibutuhkan
Senin, 05 November 2012 - 13:35 WIB
Minyak menipis, teknik EOR sangat dibutuhkan
A
A
A
Sindonews.com - Kendati dalam pelaksanaan metode Enchaced Oil Recovery/EOR (perolehan minyak tahap lanjut) diakui membutuhkan biaya produksi yang jauh lebih besar dibanding metode perolehan minyak secara reguler, namun EOR tetap perlu dilakukan karena eksplorasi regular belum tentu berhasil menemukan lapangan minyak baru yang potensial.
Deputi Perencanaan BP Migas, Widyawan Prawiraatmadja mengakui, ongkos produksi yang diperlukan untuk melakukan eksploitasi dengan metode EOR bisa mencapai 3 kali lipat dibanding ongkos produksi pada lepangan minyak baru.
"Memang, kalau biasanya kita hanya perlu USD10 per barel, kalau dengan EOR, cost per barelnya bisa lebih dari USD25 per barel," terangnya saat ditemui wartawan di Graha Bimasena, Jakarta, Senin (5/11/2012).
Kendati lebih mahal, kata Widyawan, langkah tersebut tetap perlu diambil pemerintah. Pasalnya, upaya selain EOR dalam hal ini eksplorasi guna menemukan lapangan minyak baru seringkali berbuntut pada kegagalan. Dimana, lapangan minyak baru tidak berhasil ditemukan.
EOR sendiri merupakan upaya untuk memperoleh minyak yang masih tersisa setelah primary recovery yang mengandalkan energi alami dan teknik-teknik yang menggunakan injeksi gas atau air. Dimana, kata Widyawan, injeksi gas atau air dan berbagai zat lain ke dalam perut bumi, dimaksudkan untuk membantu minyak di sumur tua agar lebih mudah untuk dikeluarkan.
"Jadi misalnya kalau di sumur tua itu minyaknya melekat di batuan, nah itu kita kasih zat yang serupa deterjen sehingga yang melekat itu terlepas dan mudah diangkat kepermukaan. Atau mungkin minyak di sumur tua itu masa jenisnya lebih berat, nah kita bantu dengan diinjeksi atau dipanaskan, sehingga minyaknya lebih ringan," paparnya.
Deputi Perencanaan BP Migas, Widyawan Prawiraatmadja mengakui, ongkos produksi yang diperlukan untuk melakukan eksploitasi dengan metode EOR bisa mencapai 3 kali lipat dibanding ongkos produksi pada lepangan minyak baru.
"Memang, kalau biasanya kita hanya perlu USD10 per barel, kalau dengan EOR, cost per barelnya bisa lebih dari USD25 per barel," terangnya saat ditemui wartawan di Graha Bimasena, Jakarta, Senin (5/11/2012).
Kendati lebih mahal, kata Widyawan, langkah tersebut tetap perlu diambil pemerintah. Pasalnya, upaya selain EOR dalam hal ini eksplorasi guna menemukan lapangan minyak baru seringkali berbuntut pada kegagalan. Dimana, lapangan minyak baru tidak berhasil ditemukan.
EOR sendiri merupakan upaya untuk memperoleh minyak yang masih tersisa setelah primary recovery yang mengandalkan energi alami dan teknik-teknik yang menggunakan injeksi gas atau air. Dimana, kata Widyawan, injeksi gas atau air dan berbagai zat lain ke dalam perut bumi, dimaksudkan untuk membantu minyak di sumur tua agar lebih mudah untuk dikeluarkan.
"Jadi misalnya kalau di sumur tua itu minyaknya melekat di batuan, nah itu kita kasih zat yang serupa deterjen sehingga yang melekat itu terlepas dan mudah diangkat kepermukaan. Atau mungkin minyak di sumur tua itu masa jenisnya lebih berat, nah kita bantu dengan diinjeksi atau dipanaskan, sehingga minyaknya lebih ringan," paparnya.
(gpr)
Lihat Juga :