Jero klaim berprestasi dalam renegosiasi gas Tangguh

Selasa, 06 November 2012 - 15:20 WIB
Jero klaim berprestasi...
Jero klaim berprestasi dalam renegosiasi gas Tangguh
A A A
Sindonews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengklaim telah membuat prestasi dalam renegosiasi kontrak gas Tangguh dengan British Petroleum (BP). Menurut pengakuannya, dia telah berhasil menegosiasikan agar sebagian produksi gas dari kilang Tangguh digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

"Kontrak gas Tangguh itu tahun 2002. Pada waktu itu 100 persen ekspor. Separuhnya ke China, dan juga Jepang, dan Korea. Separuh lagi ke AS, ke Sempra. Untuk domestik di kontrak nol persen. Tak ada gas Tangguh untuk domestik. Sekarang total, dia berikan 20 persen kargo train 1 dan 2 dari yang tadinya nol," ungkap Jero Wacik saat konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, (6/11/2012).

Jero menceritakan, kontrak gas di Tangguh telah menjadi perhatiannya sejak awal diangkat sebagai Menteri ESDM. Dia telah berkomitmen untuk segera melakukan renegosiasi kontrak yang merugikan negara itu.

"Waktu saya baru jadi menteri, salah satu jadi pikiran saya adalah proyek gas Tangguh yang kita tahu dikerjakan BP dari Inggris. Akan tidak berprestasi saya kalau Tangguh tidak ada untuk domestik," tuturnya.

Karena itu, pria kelahiran Bali ini segera berusaha memperbarui kontrak gas Tangguh dengan BP begitu diangkat. "Minggu pertama saya jadi menteri, saya panggil bos BP Tangguh Indonesia. Saya undang ke kantor dan ajak bicara," sambungnya.

Akhirnya, kata Jero, usahanya ini membawa hasil. Kini, sebagian produksi gas dari kilang Tangguh dipakai untuk industri di dalam negeri. "Waktu dia datang berikutnya, mulai dia cair. Sehingga train 1 dan 2 yang eks Sempra bisa diambil ke domestik," tutupnya.

Pada kesempatan terpisah, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membuat penilaian berbeda dengan klaim keberhasilan Jero Wacik. Mereka mengeluhkan minimnya usaha pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gas perindustrian dalam negeri. Alih-alih memajukan industri nasional, dunia usaha justru harus menanggung biaya energi yang mahal dan instabilitas suplai maupun harga.

"Tidak ada terobosaan untuk bikin industri lebih maju. Malah kita harus bayar energi lebih mahal. Suplai tidak cukup, harga bisa naik seenaknya," ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi beberapa waktu lalu.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pemerintah Perpanjang...
Pemerintah Perpanjang Kontrak BP di Blok Tangguh Selama 20 Tahun
Bak Bumi dan Langit:...
Bak Bumi dan Langit: Blok M Hub Kian Hidup setelah District Blok M Sepi Ditinggal Pedagang
4 Fakta Blok M, Tempat...
4 Fakta Blok M, Tempat Penuh Kenangan Anak Jaksel
SKK Migas Beberkan Perkembangan...
SKK Migas Beberkan Perkembangan Alih Kelola Blok Rokan
Jumlah Pasien Positif...
Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Cluster Waru Turun, Ini Sebabnya
Kampung Tangguh Peduli...
Kampung Tangguh Peduli Lansia di Tengah Pandemi COVID-19 Sidoarjo
Berita Terkini
Asabri Kolaborasi Beri...
Asabri Kolaborasi Beri Kemudahan Kepemilikan Kendaraan bagi Peserta
5 menit yang lalu
Superbank Gandeng OVO...
Superbank Gandeng OVO Perluas Akses Pembiayaan Digital Satu Aplikasi
19 menit yang lalu
Koper Jadi Ukuran Baru...
Koper Jadi Ukuran Baru Kenyamanan, Piece Concept Mulai Dibicarakan Penumpang RI
19 menit yang lalu
Lagi-lagi, Rupiah Kembali...
Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
29 menit yang lalu
Komisi Ojol 8% Berlaku,...
Komisi Ojol 8% Berlaku, Menteri UMKM Klaim Mayoritas Pengemudi Diuntungkan
43 menit yang lalu
Aplikasi Strava Buka...
Aplikasi Strava Buka Suara soal Pungutan PPN 11%, Bagaimana Harga Berlangganan?
1 jam yang lalu
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved