Terminal agro Bantaeng butuh Rp10 M
Jum'at, 09 November 2012 - 13:30 WIB
Terminal agro Bantaeng butuh Rp10 M
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Perindustrian Perdagangan Pertambangan dan Energi (Disperindagtamben) Kabupaten Bantaeng memperkirakan anggaran untuk pembangunan terminal Agro sekitar Rp10 miliar.
Menurut Kadisperindagtamben Bantaeng Abdul Gani, pihaknya sudah mengajukan proposal ke Kementrian Perdagangan (Kemendag), dan dalam waktu dekat kucuran dana tahap pertama akan diberikan sekitar Rp7,5 miliar.
“Anggaran tahap pertamanya dimasukkan dalam APBN 2013, kemudian sisanya akan dimasukkan dalam APBN perubahan 2013,” jelas Gani, Jumat (9/11/2012).
Pembangunan terminal Agro tersebut, akan dibangun pada lahan seluas 1 hektare, di kawasan peghasil sayur di Kampung Loka Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere.
Mengenai konsepnya sendiri, kata Gani, semua hasil pertanian harus masuk ke terminal agro, dan di sana nanti disortir. Setelah itu, baru bisa didistribusikan ke wilayah lain.
Selain pembangunan terminal agro, anggaran tersebut juga sudah termasuk dalam program rehabilitas pasar Loka. “Kami akan menambah kios, dan beberapa lods di Pasar Loka. Memang prospek pasar di sana (Loka) juga sangat bagus, sehingga kami juga harus memperhatikan pasar-pasar yang terletak di luar kota,” ujar Gani.
Dia mengatakan, pasar tersebut memang dirancang berbeda dengan pasar lain, sebab didalamnya juga ditempatkan terminal Argo. Pihaknya optimistis, bisa mendapat mendapat anggaran dari Kemendag, apalagi salah stu pasar percontohan nasional, binaan Kemendag ada di Bantaeng yakni Pasar Lambocca, yang menelan anggaran sekitar Rp15 miliar.
Beberapa waktu sebelumnya, Mendag Gita Wirjawan saat meresmikan Pasar Lambocca Bantaeng, sudah menyetujui pembanunan pasar dan terminal agro tersebut. Menurut Gita, hal tersebut untuk membantu pertanian dan juga peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Sementara itu, salah seorang anggota DPRD Bantaeng Nurdin Halim mengatakan, sebelumnya pihaknya memang sudah melakukan studi banding ke Malang dan Semarang yang merupakan kawasan agro politan (kawasan pertanian).
“Jadi nanti harusnya dilakukan kajian dan dibuat Peraturan Daerah (Perda) induk terlebih dulu,” jelas Nurdin.
Perda tersebut dimaksudkan, agar jelas pembagian tugas siapa yang akan mengelolah terminal Agro itu. Rencananya, Perdanya baru akan digarap pada 2013 mendatang. Dia menyebutkan, meskipun setuju dengan rencana tersebut, namun harus dikaji lebih mendalam, sebab hal itu merupakan program pemberdayaan petani di Bantaeng.
Menurut Kadisperindagtamben Bantaeng Abdul Gani, pihaknya sudah mengajukan proposal ke Kementrian Perdagangan (Kemendag), dan dalam waktu dekat kucuran dana tahap pertama akan diberikan sekitar Rp7,5 miliar.
“Anggaran tahap pertamanya dimasukkan dalam APBN 2013, kemudian sisanya akan dimasukkan dalam APBN perubahan 2013,” jelas Gani, Jumat (9/11/2012).
Pembangunan terminal Agro tersebut, akan dibangun pada lahan seluas 1 hektare, di kawasan peghasil sayur di Kampung Loka Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere.
Mengenai konsepnya sendiri, kata Gani, semua hasil pertanian harus masuk ke terminal agro, dan di sana nanti disortir. Setelah itu, baru bisa didistribusikan ke wilayah lain.
Selain pembangunan terminal agro, anggaran tersebut juga sudah termasuk dalam program rehabilitas pasar Loka. “Kami akan menambah kios, dan beberapa lods di Pasar Loka. Memang prospek pasar di sana (Loka) juga sangat bagus, sehingga kami juga harus memperhatikan pasar-pasar yang terletak di luar kota,” ujar Gani.
Dia mengatakan, pasar tersebut memang dirancang berbeda dengan pasar lain, sebab didalamnya juga ditempatkan terminal Argo. Pihaknya optimistis, bisa mendapat mendapat anggaran dari Kemendag, apalagi salah stu pasar percontohan nasional, binaan Kemendag ada di Bantaeng yakni Pasar Lambocca, yang menelan anggaran sekitar Rp15 miliar.
Beberapa waktu sebelumnya, Mendag Gita Wirjawan saat meresmikan Pasar Lambocca Bantaeng, sudah menyetujui pembanunan pasar dan terminal agro tersebut. Menurut Gita, hal tersebut untuk membantu pertanian dan juga peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
Sementara itu, salah seorang anggota DPRD Bantaeng Nurdin Halim mengatakan, sebelumnya pihaknya memang sudah melakukan studi banding ke Malang dan Semarang yang merupakan kawasan agro politan (kawasan pertanian).
“Jadi nanti harusnya dilakukan kajian dan dibuat Peraturan Daerah (Perda) induk terlebih dulu,” jelas Nurdin.
Perda tersebut dimaksudkan, agar jelas pembagian tugas siapa yang akan mengelolah terminal Agro itu. Rencananya, Perdanya baru akan digarap pada 2013 mendatang. Dia menyebutkan, meskipun setuju dengan rencana tersebut, namun harus dikaji lebih mendalam, sebab hal itu merupakan program pemberdayaan petani di Bantaeng.
(gpr)
Lihat Juga :