Produsen atap bidik pasar Bandung
Jum'at, 23 November 2012 - 15:39 WIB
Produsen atap bidik pasar Bandung
A
A
A
Sindonews.com - Produsen genteng (atap) bitumen asal Jerman PT Gutta Indonesia mulai menyasar kawasan Bandung Raya, sejalan pertumbuhan penjualan properti di kawasan ini. Perusahaan tersebut optimistis, penjualan produk material akan membaik di tahun 2013.
Commercial Director PT Gutta Indonesia Doddy Indra Prasetia mengakui, penjualan properti di Bandung Raya dalam bentuk perumahan, perkantoran, rumah toko (ruko), serta gedung mengalami pertumbuhan cukup signifikan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Membaiknya penjualan sektor properti, memberi peluang bagi industri material.
“Potensi penjualan produk material di Jawa Barat terutama Bandung Raya cukup menjanjikan, sejalan pertumbuhan penjualan properti di kawasan ini. Ini menjadi pertimbangan kami, sebagai produsen atap bituman membidik pangsa pasar Bandung Raya,” jelas Doddy kepada wartawan di Bandung, Jumat (23/11/2012).
Menurut dia, proyeksi membaiknya penjualan properti di Bandung Raya pada tahun 2013, juga dipastikan berimbas pada penjualan atap bituman. Pada 2013, perusahaannya memproyeksikan penjualan sebanyak 1,2 juta meter per segi.
Target tersebut optimistis akan terlampaui. Walaupun, PT Gutta Indonesia baru beroperasi 9 bulan lalu. “Kami optimistis, mampu merebut pangsa pasar Indonesia, termasuk Jabar,” ungkap dia.
Ekspansi produk bituman akan menyasar semua segmen perumahan. Selain dibandrol dengan harga terjangkau, atap tersebut juga cocok untuk semua karakter perumahan, termasuk perumahan di kawasan dataran rendah dan dataran tinggi. Doddy mengklaim, produknya mampu menahan terjaan angin puting beliung berkecepatan hingga 190 kilometer (km) per jam.
Diakui dia, untuk menjamin kualitas produk, pihaknya masih harus mendatangkann komponen bahan baku bituman dari Jerman, Swiss, dan Italia. Setiap bulannya, ucap Doddy, pihaknya mendatangkan genteng bitumen sebanyak 20 kontainer. Potensi pasar yang cukup besar, juga memungkinkan perusahaanya membangun pabrik genteng di Indonesia.
Ketika disinggung persaingan bisnis dengan genting buatan lokal, Doddy mengakui, produknya tidak akan berdampak terhadap pasar genteng lokal. Menurut dia, masing-masing produk memiliki segmen pasar yang berbeda. “Masing-masing produk punya segmen pasar sendiri,” pungkas dia.
Salah satu pangsa pasar yang akan dibidik perusahannya, yaitu pembangunan gedung. Dia mencontohkan, produk bituman telah digunakan di tiga proyek pembangunan gedung di Jawa Tengah, diantaranya proyek pembangunan bioskop yang membutuhkan atap bitumen yang kedap suara.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar Robby Dwikojuliardi menyatakan, atap bitumen merupakan hasil inovasi yang positif bagi masyarakat yang mengedepankan inovasi huniannya. “Inovasi ini bisa memenuhi kebutuhan bagi masyarakat yang sedang membangun perumahan dan gedung dengan spesifikasi tertentu,” kata dia singkat.
Commercial Director PT Gutta Indonesia Doddy Indra Prasetia mengakui, penjualan properti di Bandung Raya dalam bentuk perumahan, perkantoran, rumah toko (ruko), serta gedung mengalami pertumbuhan cukup signifikan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Membaiknya penjualan sektor properti, memberi peluang bagi industri material.
“Potensi penjualan produk material di Jawa Barat terutama Bandung Raya cukup menjanjikan, sejalan pertumbuhan penjualan properti di kawasan ini. Ini menjadi pertimbangan kami, sebagai produsen atap bituman membidik pangsa pasar Bandung Raya,” jelas Doddy kepada wartawan di Bandung, Jumat (23/11/2012).
Menurut dia, proyeksi membaiknya penjualan properti di Bandung Raya pada tahun 2013, juga dipastikan berimbas pada penjualan atap bituman. Pada 2013, perusahaannya memproyeksikan penjualan sebanyak 1,2 juta meter per segi.
Target tersebut optimistis akan terlampaui. Walaupun, PT Gutta Indonesia baru beroperasi 9 bulan lalu. “Kami optimistis, mampu merebut pangsa pasar Indonesia, termasuk Jabar,” ungkap dia.
Ekspansi produk bituman akan menyasar semua segmen perumahan. Selain dibandrol dengan harga terjangkau, atap tersebut juga cocok untuk semua karakter perumahan, termasuk perumahan di kawasan dataran rendah dan dataran tinggi. Doddy mengklaim, produknya mampu menahan terjaan angin puting beliung berkecepatan hingga 190 kilometer (km) per jam.
Diakui dia, untuk menjamin kualitas produk, pihaknya masih harus mendatangkann komponen bahan baku bituman dari Jerman, Swiss, dan Italia. Setiap bulannya, ucap Doddy, pihaknya mendatangkan genteng bitumen sebanyak 20 kontainer. Potensi pasar yang cukup besar, juga memungkinkan perusahaanya membangun pabrik genteng di Indonesia.
Ketika disinggung persaingan bisnis dengan genting buatan lokal, Doddy mengakui, produknya tidak akan berdampak terhadap pasar genteng lokal. Menurut dia, masing-masing produk memiliki segmen pasar yang berbeda. “Masing-masing produk punya segmen pasar sendiri,” pungkas dia.
Salah satu pangsa pasar yang akan dibidik perusahannya, yaitu pembangunan gedung. Dia mencontohkan, produk bituman telah digunakan di tiga proyek pembangunan gedung di Jawa Tengah, diantaranya proyek pembangunan bioskop yang membutuhkan atap bitumen yang kedap suara.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jabar Robby Dwikojuliardi menyatakan, atap bitumen merupakan hasil inovasi yang positif bagi masyarakat yang mengedepankan inovasi huniannya. “Inovasi ini bisa memenuhi kebutuhan bagi masyarakat yang sedang membangun perumahan dan gedung dengan spesifikasi tertentu,” kata dia singkat.
(rna)
Lihat Juga :