Daging langka, hotel berbintang hapus menu daging
Jum'at, 23 November 2012 - 18:47 WIB
Daging langka, hotel berbintang hapus menu daging
A
A
A
Sindonews.com - Jakarta International Hotel Asosciation (JIHA) mengemukakan, menu daging sapi menghilang dari hotel-hotel berbintang lima di Jakarta akibat kelangkaan daging yang telah berlangsung hampir sepekan.
"Kafetaria aja kita nggak bisa serve beef lagi. Susah sekali dapatnya," kata Ketua Umum JIHA Indah Ariani di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (23/11/2012).
Menurut Indah, hotel berbintang lima di Jakarta sangat membutuhkan daging impor karena kualitas daging lokal masih belum memenuhi standar kualitas yang mereka miliki. Bila dipaksakan menggunakan daging lokal, tingkat kepuasan para tamu hotel akan berkurang.
"Di international hotel kita punya standar beef untuk tamu-tamu kita. Berasa sekali dampak kelangkaan daging impor ini. Untuk hotel, dan restoran bintang lima itu harus daging import," jelas dia.
Pihaknya menyebutkan, setiap tahun hotel-hotel berbintang lima di Jakarta membutuhkan kurang lebih 1.600 ton daging impor. Karena itu, dia meminta pemerintah untuk tidak memaksakan penurunan kuota impor.
"Kebutuhan kita 1.600 ton per tahun. Tetapi pemerintah mengurangi kuota 66 persen. Dari bulan Agustus kita sudah minta ke Menparekraf, tetapi Mentan-nya yang masih kurang," tutup Indah.
"Kafetaria aja kita nggak bisa serve beef lagi. Susah sekali dapatnya," kata Ketua Umum JIHA Indah Ariani di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (23/11/2012).
Menurut Indah, hotel berbintang lima di Jakarta sangat membutuhkan daging impor karena kualitas daging lokal masih belum memenuhi standar kualitas yang mereka miliki. Bila dipaksakan menggunakan daging lokal, tingkat kepuasan para tamu hotel akan berkurang.
"Di international hotel kita punya standar beef untuk tamu-tamu kita. Berasa sekali dampak kelangkaan daging impor ini. Untuk hotel, dan restoran bintang lima itu harus daging import," jelas dia.
Pihaknya menyebutkan, setiap tahun hotel-hotel berbintang lima di Jakarta membutuhkan kurang lebih 1.600 ton daging impor. Karena itu, dia meminta pemerintah untuk tidak memaksakan penurunan kuota impor.
"Kebutuhan kita 1.600 ton per tahun. Tetapi pemerintah mengurangi kuota 66 persen. Dari bulan Agustus kita sudah minta ke Menparekraf, tetapi Mentan-nya yang masih kurang," tutup Indah.
(gpr)
Lihat Juga :