OJK nilai jumlah emiten di Indonesia masih minim
Sabtu, 24 November 2012 - 12:42 WIB
OJK nilai jumlah emiten di Indonesia masih minim
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad memandang Indonesia tengah menjadi primadona bagi para investor dunia.
Sayangnya, jumlah emiten yang ada di tanah air rupanya masih tergolong sedikit dibanding potensi investasi yang akan tersedia baik dari investor global maupun domestik.
"Kita bisa lihat dari tingginya kunjungan para investor ke Indonesia, terutama yang ingin tahu masalah keuangan. Dari situ kita bisa simpulkan, minat terhadap Indonesia makin besar," ujar Muliaman di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (23/11/2012) malam.
Di tempat yang sama, Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengungkapkan, minat yang tinggi dari pasar yang sangat besar itu, belum bisa diimbangi oleh ketersediaan emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sehingga kemampuan pasar domestik untuk menyerap potensi investasi tersebut juga dipandang kurang optimal. "Saat ini jumlah perusahaan publik (emiten) yang terdaftar di BEI hanya 544, jumlah itu masih kalah jauh dari negara-negara lain seperti India misalnya," terang Nurhaida.
Sayangnya, jumlah emiten yang ada di tanah air rupanya masih tergolong sedikit dibanding potensi investasi yang akan tersedia baik dari investor global maupun domestik.
"Kita bisa lihat dari tingginya kunjungan para investor ke Indonesia, terutama yang ingin tahu masalah keuangan. Dari situ kita bisa simpulkan, minat terhadap Indonesia makin besar," ujar Muliaman di Hotel Bidakara Jakarta, Jumat (23/11/2012) malam.
Di tempat yang sama, Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengungkapkan, minat yang tinggi dari pasar yang sangat besar itu, belum bisa diimbangi oleh ketersediaan emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sehingga kemampuan pasar domestik untuk menyerap potensi investasi tersebut juga dipandang kurang optimal. "Saat ini jumlah perusahaan publik (emiten) yang terdaftar di BEI hanya 544, jumlah itu masih kalah jauh dari negara-negara lain seperti India misalnya," terang Nurhaida.
(gpr)