2013, konsumsi daging diproyeksi 521 ribu ton
Minggu, 25 November 2012 - 11:30 WIB
2013, konsumsi daging diproyeksi 521 ribu ton
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, konsumsi daging pada tahun 2013 sebesar 521 ribu ton, meningkat sekitar 7,4 persen dibandingkan proyeksi tahun 2012 yang akan mencapai 485 ribu ton.
"Ini kondisi dari proyeksi kita di tahun 2013," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono di Hotel Palace, Cipanas, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012).
Sementara itu, produksi daging diproyeksikan akan cukup untuk memenuhi konsumsi tersebut. Dengan komposisi produk lokal sebesar 449 ribu ton dan impor 72 ribu ton.
"Untuk impor itu, proporsinya kita kurangi dari tahun 2012 yang sebesar 17,45 persen (lokal 390 ribu ton dan impor 84 ribu ton) menjadi 13,83 persen pada tahun 2013," jelasnya.
Terkait dengan kelangkaan daging, Adi mengaku, hal ini memang sering terjadi menjelang dan pasca Hari Raya Idul Adha. Dimana, sapi-sapi dalam jumlah banyak akan dipotong dan di konsumsi.
Akan tetapi jika separah ini, menurutnya, ada kesalahan pada sisi distribusi. Pasalnya, stok daging sebenarnya sangat mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Barang ada tapi tidak bisa dipotong karena tidak dikirim. Masalahnya didistribusi dan di beberapa daerah ada yang tidak mau jual sapinya," tandas Adi.
"Ini kondisi dari proyeksi kita di tahun 2013," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono di Hotel Palace, Cipanas, Jawa Barat, Sabtu (24/11/2012).
Sementara itu, produksi daging diproyeksikan akan cukup untuk memenuhi konsumsi tersebut. Dengan komposisi produk lokal sebesar 449 ribu ton dan impor 72 ribu ton.
"Untuk impor itu, proporsinya kita kurangi dari tahun 2012 yang sebesar 17,45 persen (lokal 390 ribu ton dan impor 84 ribu ton) menjadi 13,83 persen pada tahun 2013," jelasnya.
Terkait dengan kelangkaan daging, Adi mengaku, hal ini memang sering terjadi menjelang dan pasca Hari Raya Idul Adha. Dimana, sapi-sapi dalam jumlah banyak akan dipotong dan di konsumsi.
Akan tetapi jika separah ini, menurutnya, ada kesalahan pada sisi distribusi. Pasalnya, stok daging sebenarnya sangat mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Barang ada tapi tidak bisa dipotong karena tidak dikirim. Masalahnya didistribusi dan di beberapa daerah ada yang tidak mau jual sapinya," tandas Adi.
(rna)
Lihat Juga :