Pengembang masih waspadai krisis
Senin, 26 November 2012 - 08:55 WIB
Pengembang masih waspadai krisis
A
A
A
Sindonews.com - Konsultan properti internasional, Cushman & Wakefield menyatakan, tahun depan pengembang properti nasional akan berhati-hati membangun produk barunya terkait krisis ekonomi global yang dikhawatirkan masih terjadi pada 2013.
Senior Associate Director Research and Advisory Cushman & Wakefield, Arif Rahardjo mengatakan, menjelang pergantian tahun, pasar properti Indonesia memang masih belum menunjukkan stagnasi. Namun, kekhawatiran para pengembang properti ialah krisis ekonomi global masih berlanjut pada 2013.
”Tantangan ke depan adalah krisis global. Produk perkantoran sebagai salah satu sektor properti yang sangat terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi. Sebab itu, krisis global tetap menjadi faktor yang sangat menentukan,” kata Arif seusai talkshow Property Outlook 2013 bersama PT Senopati Aryani Prima di Jakarta akhir pekan lalu.
Selain ada dampak dari krisis ekonomi global, Arif menyatakan, tantangan lain pada 2013 bagi sektor properti nasional yaitu kemungkinan sulitnya pengembang mendapatkan ketersediaan lokasi baru untuk menampung permintaan pembangunan properti baru di lahan strategis di wilayah Ibu Kota.
”Tapi tidak ada kekhawatiran mendasar untuk pasar properti pada tahun depan. Para pakar relatif optimistis dalam menghadapi 2013. Satu-satunya hal yang akan sulit untuk diprediksi dan diantisipasi adalah kondisi keuangan global,” ungkapnya.
Untuk pasar kondominium di wilayah Jakarta, ketersediaannya hingga saat ini telah mencapai 100.000 unit yang baru dibangun. Sedangkan yang baru dipasarkan oleh pengembang mencapai 60.000 unit dan baru akan dibangun.
”Jumlah unit atau ketersediaannya hanya 10 persen, kami kategorikan upper class, dengan harga Rp25 juta per meternya. Kita lihat jumlah pesaingnya tidak banyak, tapi jumlah permintaannya sedikit. Konsekuensinya buyer profile unik. Mereka beli sesuatu lain daripada yang lain,” tambah Arif.
Dia juga menjelaskan, setiap tahun di Jakarta sebanyak 20.000 unit kondominium baru masuk dan siap dikomersialkan. Tingkat penjualan presale properti jenis apartemen kondominium mencapai 55–60 persen.
”Tingkat penjualan pun terus meningkat, biasanya tingkat penjualan naik sampai 70 persen sampai selesai proyek,” ungkapnya.
Sementara itu, PT Nusantara Konstruksi Enjiniring Tbk atau nama lain dari kontraktor PT Duta Graha Indah Tbk menginvestasikan dana Rp250 miliar untuk pembangunan Apartemen Senopati Penthouse.
Perusahaan yang selama ini membangun gedung bertingkat baik perkantoran maupun hotel ini akan melebarkan sayap usahanya di bidang apartemen berjenis penthouse di wilayah selatan Jakarta.
”Kami siap melakukan pekerjaan sesuai dengan rencana selama 16 bulan, sesuai dalam kontrak,” kata Direktur Utama PT Nusantara Konstruksi Enjiniring Sutiono Teguh saat ditemui di tempat yang sama.
Apartemen Senopati Penthouse yang berlokasi di Jalan Senopati Raya, Jakarta Selatan ini, bakal menyasar segmen pasar kelas atas (upper class). Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi berkisar Rp4,5-5 miliar per unit.
Senior Associate Director Research and Advisory Cushman & Wakefield, Arif Rahardjo mengatakan, menjelang pergantian tahun, pasar properti Indonesia memang masih belum menunjukkan stagnasi. Namun, kekhawatiran para pengembang properti ialah krisis ekonomi global masih berlanjut pada 2013.
”Tantangan ke depan adalah krisis global. Produk perkantoran sebagai salah satu sektor properti yang sangat terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi. Sebab itu, krisis global tetap menjadi faktor yang sangat menentukan,” kata Arif seusai talkshow Property Outlook 2013 bersama PT Senopati Aryani Prima di Jakarta akhir pekan lalu.
Selain ada dampak dari krisis ekonomi global, Arif menyatakan, tantangan lain pada 2013 bagi sektor properti nasional yaitu kemungkinan sulitnya pengembang mendapatkan ketersediaan lokasi baru untuk menampung permintaan pembangunan properti baru di lahan strategis di wilayah Ibu Kota.
”Tapi tidak ada kekhawatiran mendasar untuk pasar properti pada tahun depan. Para pakar relatif optimistis dalam menghadapi 2013. Satu-satunya hal yang akan sulit untuk diprediksi dan diantisipasi adalah kondisi keuangan global,” ungkapnya.
Untuk pasar kondominium di wilayah Jakarta, ketersediaannya hingga saat ini telah mencapai 100.000 unit yang baru dibangun. Sedangkan yang baru dipasarkan oleh pengembang mencapai 60.000 unit dan baru akan dibangun.
”Jumlah unit atau ketersediaannya hanya 10 persen, kami kategorikan upper class, dengan harga Rp25 juta per meternya. Kita lihat jumlah pesaingnya tidak banyak, tapi jumlah permintaannya sedikit. Konsekuensinya buyer profile unik. Mereka beli sesuatu lain daripada yang lain,” tambah Arif.
Dia juga menjelaskan, setiap tahun di Jakarta sebanyak 20.000 unit kondominium baru masuk dan siap dikomersialkan. Tingkat penjualan presale properti jenis apartemen kondominium mencapai 55–60 persen.
”Tingkat penjualan pun terus meningkat, biasanya tingkat penjualan naik sampai 70 persen sampai selesai proyek,” ungkapnya.
Sementara itu, PT Nusantara Konstruksi Enjiniring Tbk atau nama lain dari kontraktor PT Duta Graha Indah Tbk menginvestasikan dana Rp250 miliar untuk pembangunan Apartemen Senopati Penthouse.
Perusahaan yang selama ini membangun gedung bertingkat baik perkantoran maupun hotel ini akan melebarkan sayap usahanya di bidang apartemen berjenis penthouse di wilayah selatan Jakarta.
”Kami siap melakukan pekerjaan sesuai dengan rencana selama 16 bulan, sesuai dalam kontrak,” kata Direktur Utama PT Nusantara Konstruksi Enjiniring Sutiono Teguh saat ditemui di tempat yang sama.
Apartemen Senopati Penthouse yang berlokasi di Jalan Senopati Raya, Jakarta Selatan ini, bakal menyasar segmen pasar kelas atas (upper class). Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi berkisar Rp4,5-5 miliar per unit.
(rna)
Lihat Juga :