Selamat tinggal sang Primadona ... atau, selamat datang?
Minggu, 23 Desember 2012 - 10:31 WIB
Selamat tinggal sang Primadona ... atau, selamat datang?
A
A
A
Sindonews.com - Produk-produk kelas dunia dalam beberapa tahun ini ada yang mulai berguguran. Bukan hanya penjualannya menyusut, namun saking parahnya, produksi terpaksa harus dihentikan.
Meski telah dirintis bertahun–tahun bahkan belasan tahun lamanya, bahkan sempat mengalami masa kejayaan serta mengundang decak kagum karena hasil penjualan yang luar biasa, ternyata produk–produk “primadona” tersebut harus mengalami kenyataan yang pahit seperti itu. Pertanyaannya: “Mengapa bisa terjadi?” Sebelumnya, apakah Anda masih menyimpan kaset yang berisi tentang lagu-lagu lama atau kenangan di rumah?
Dan masihkah Anda memiliki alat pemutar kasetnya, yang masih bisa berfungsi dengan baik? Berbicara tentang kaset, dan alat pemutar kaset; tentunya Anda mengenal produk ini: “walkman”. Kira-kira kenangan apa, atau apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata-kata walkman? Walkman merupakan salah satu produk yang sangat digemari era 1980–1990-an. Suatu produk yang sangat laris manis dan diminati berbagai kalangan.
Jutaan unit telah dipakai penikmat musik di berbagai belahan dunia, dan menjadi tren yang sangat fenomenal kala itu. Namun apa daya, kini itu semua tinggal kenangan. Masa keemasan walkman telah memudar dengan hadirnya pemutar musik digital yang memiliki bentuk lebih ramping dan bisa memuat jauh lebih banyak lagu, bahkan dengan harga yang sangat terjangkau. Orang tidak perlu lagi mengoleksi banyak kaset yang bisa menghabiskan banyak tempat pula.
Bahkan, pemutar musik digital kini hadir dengan bentuk yang lebih kecil, namun dengan kemampuan, fasilitas, dan kualitas suara yang lebih dahsyat. Dan mau tidak mau, walkman pun mulai dihentikan produksinya. Meskipun didukung dengan biaya iklan, promosi, pemasaran yang sangat besar pun ternyata harus diakui bahwa produk digital telah menyedot perhatian dan minat para penggemar musik pada khususnya.
Sebagai contoh lain, di era 1980–1990-an juga merupakan era keemasan dalam dunia bisnis film fotografi. Banyak bermunculan gerai, toko ataupun pusat penjualan film, pelayanan cuci cetak film di berbagai belahan dunia. Namun dalam waktu yang cukup singkat, ketika melesatnya era digital banyak yang harus gulung tikar. Dengan hadirnya teknologi kamera digital, telah membuat perubahan yang sangat dahsyat dalam dunia fotografi.
Dulu, ketika orang ingin mengabadikan suatu kejadian, ia harus membeli beberapa rol film (sekaligus untuk cadangan). Setelah itu harus memotret dengan hati–hati, karena tidak bisa mengecek langsung hasil jepretannya. Ketika sesi pemotretan selesai, ia masih harus mengantre untuk melakukan proses cuci dan cetak film, dan barulah ia bisa melihat hasil akhir jepretannya. Itu pun dengan catatan, Anda masih harus menyimpan negative film dalam jumlah besar tentunya jika ingin memotret 1.000 foto.
Kini, hanya berbekal beberapa ratus ribu rupiah, seseorang bisa memiliki kamera digital yang lumayan bagus. Bisa mengabadikan berbagai kenangan dengan lebih cepat, praktis dan efisien. Dan tidak harus menyimpan negative film dalam jumlah besar jika ingin mengambil 1.000 foto sekalipun; bisa melihat langsung hasil jepretan dan bisa mengedit sendiri di komputer, serta berbagai kemudahan dan kelebihan lainnya.
Bahkan, sekarang semakin banyak anak kecil pun yang mampu mengoperasikan kamera digital dengan baik dan menghasilkan jepretan yang bagus, lebih kerennya lagi… juga bisa mencetaknya sendiri. Tren produk, di satu sisi bisa merupakan hal yang menggembirakan bagi para produsen atau pebisnis yang cekatan untuk menangkap peluang yang ada. Namun di sisi lain, akan menjadi sesuatu yang “mengerikan” bagi pebisnis yang tidak bisa atau tidak mau mengikutinya, yang tidak segera melakukan suatu terobosan atau inovasi dahsyat untuk segera berbenah.
Karena produk-produk “Primadona” atau produk kebanggaannya di masa lalu akan dengan cepat ditinggalkan begitu saja oleh para pelanggan Secara umum suatu produk akan mengalami siklusnya, atau yang lebih dikenal sebagai Product Life Cycle, yang terdiri atas:
1.Introduction - Powerful Promise, Special Offer Strategy (Tahapan perkenalan - buat janji-janji, strategi penawaran khusus ) 2. Growth - Leverage (Tumbuh – berpengaruh) 3. Maturity & Innovation (Matang dan Inovasi) 4. Decline Vs Building Momentum (Penurunan vs membangun momentum)
Hal di atas sangatlah penting untuk diketahui,dipelajari, dan dipraktikkan oleh para pelaku bisnis agar mampu menyelamatkan produk- produk primadonanya bertahan lebih lama, lebih kuat, dan tentunya bisa lebih dahsyat hasil marketing-nya. Apa saja pengertian dan aplikasi dari Product Life Cycle untuk strategi pemasaran Anda supaya lebih dahsyat? Ikuti pembahasannya lebih lanjut dalam kesempatan mendatang.
TUNG DESEM WARINGIN Pelatih Sukses No. 1 Indonesia follow Twitter : twitter.com/tungdw & STEPHANUS PHARDJANTO(TDW Senior Coach Partner) follow Facebook: www.facebook.com/stephanus.ph
Meski telah dirintis bertahun–tahun bahkan belasan tahun lamanya, bahkan sempat mengalami masa kejayaan serta mengundang decak kagum karena hasil penjualan yang luar biasa, ternyata produk–produk “primadona” tersebut harus mengalami kenyataan yang pahit seperti itu. Pertanyaannya: “Mengapa bisa terjadi?” Sebelumnya, apakah Anda masih menyimpan kaset yang berisi tentang lagu-lagu lama atau kenangan di rumah?
Dan masihkah Anda memiliki alat pemutar kasetnya, yang masih bisa berfungsi dengan baik? Berbicara tentang kaset, dan alat pemutar kaset; tentunya Anda mengenal produk ini: “walkman”. Kira-kira kenangan apa, atau apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata-kata walkman? Walkman merupakan salah satu produk yang sangat digemari era 1980–1990-an. Suatu produk yang sangat laris manis dan diminati berbagai kalangan.
Jutaan unit telah dipakai penikmat musik di berbagai belahan dunia, dan menjadi tren yang sangat fenomenal kala itu. Namun apa daya, kini itu semua tinggal kenangan. Masa keemasan walkman telah memudar dengan hadirnya pemutar musik digital yang memiliki bentuk lebih ramping dan bisa memuat jauh lebih banyak lagu, bahkan dengan harga yang sangat terjangkau. Orang tidak perlu lagi mengoleksi banyak kaset yang bisa menghabiskan banyak tempat pula.
Bahkan, pemutar musik digital kini hadir dengan bentuk yang lebih kecil, namun dengan kemampuan, fasilitas, dan kualitas suara yang lebih dahsyat. Dan mau tidak mau, walkman pun mulai dihentikan produksinya. Meskipun didukung dengan biaya iklan, promosi, pemasaran yang sangat besar pun ternyata harus diakui bahwa produk digital telah menyedot perhatian dan minat para penggemar musik pada khususnya.
Sebagai contoh lain, di era 1980–1990-an juga merupakan era keemasan dalam dunia bisnis film fotografi. Banyak bermunculan gerai, toko ataupun pusat penjualan film, pelayanan cuci cetak film di berbagai belahan dunia. Namun dalam waktu yang cukup singkat, ketika melesatnya era digital banyak yang harus gulung tikar. Dengan hadirnya teknologi kamera digital, telah membuat perubahan yang sangat dahsyat dalam dunia fotografi.
Dulu, ketika orang ingin mengabadikan suatu kejadian, ia harus membeli beberapa rol film (sekaligus untuk cadangan). Setelah itu harus memotret dengan hati–hati, karena tidak bisa mengecek langsung hasil jepretannya. Ketika sesi pemotretan selesai, ia masih harus mengantre untuk melakukan proses cuci dan cetak film, dan barulah ia bisa melihat hasil akhir jepretannya. Itu pun dengan catatan, Anda masih harus menyimpan negative film dalam jumlah besar tentunya jika ingin memotret 1.000 foto.
Kini, hanya berbekal beberapa ratus ribu rupiah, seseorang bisa memiliki kamera digital yang lumayan bagus. Bisa mengabadikan berbagai kenangan dengan lebih cepat, praktis dan efisien. Dan tidak harus menyimpan negative film dalam jumlah besar jika ingin mengambil 1.000 foto sekalipun; bisa melihat langsung hasil jepretan dan bisa mengedit sendiri di komputer, serta berbagai kemudahan dan kelebihan lainnya.
Bahkan, sekarang semakin banyak anak kecil pun yang mampu mengoperasikan kamera digital dengan baik dan menghasilkan jepretan yang bagus, lebih kerennya lagi… juga bisa mencetaknya sendiri. Tren produk, di satu sisi bisa merupakan hal yang menggembirakan bagi para produsen atau pebisnis yang cekatan untuk menangkap peluang yang ada. Namun di sisi lain, akan menjadi sesuatu yang “mengerikan” bagi pebisnis yang tidak bisa atau tidak mau mengikutinya, yang tidak segera melakukan suatu terobosan atau inovasi dahsyat untuk segera berbenah.
Karena produk-produk “Primadona” atau produk kebanggaannya di masa lalu akan dengan cepat ditinggalkan begitu saja oleh para pelanggan Secara umum suatu produk akan mengalami siklusnya, atau yang lebih dikenal sebagai Product Life Cycle, yang terdiri atas:
1.Introduction - Powerful Promise, Special Offer Strategy (Tahapan perkenalan - buat janji-janji, strategi penawaran khusus ) 2. Growth - Leverage (Tumbuh – berpengaruh) 3. Maturity & Innovation (Matang dan Inovasi) 4. Decline Vs Building Momentum (Penurunan vs membangun momentum)
Hal di atas sangatlah penting untuk diketahui,dipelajari, dan dipraktikkan oleh para pelaku bisnis agar mampu menyelamatkan produk- produk primadonanya bertahan lebih lama, lebih kuat, dan tentunya bisa lebih dahsyat hasil marketing-nya. Apa saja pengertian dan aplikasi dari Product Life Cycle untuk strategi pemasaran Anda supaya lebih dahsyat? Ikuti pembahasannya lebih lanjut dalam kesempatan mendatang.
TUNG DESEM WARINGIN Pelatih Sukses No. 1 Indonesia follow Twitter : twitter.com/tungdw & STEPHANUS PHARDJANTO(TDW Senior Coach Partner) follow Facebook: www.facebook.com/stephanus.ph
(gpr)
Lihat Juga :