IHSG catat kinerja bulanan terburuk
Senin, 24 Desember 2012 - 08:54 WIB
IHSG catat kinerja bulanan terburuk
A
A
A
Sepanjang minggu lalu, pergerakan indeks utama di beberapa wilayah masih terpengaruh oleh penantian keputusan fiscal cliff yang masih belum berujung pada kesepakatan.
Hasil persetujuan yang ditunggu sangatlah penting guna memicu optimisme dan sudut pandang positif pelaku pasar, yang akan berlanjut seiring dengan terjaganya perbaikan kondisi aktivitas bisnis negara AS.
Pada transaksi minggu lalu, rally ketiga bursa utama AS terhenti dan ditutup melemah dengan pergerakan pasar futures yang tidak jauh berbeda. Namun demikian, bila melihat pergerakan yang terjadi sepanjang minggu dan bulan, kinerja ketiga indeks tersebut masih tercatat jauh lebih baik dibandingkan dengan bursa di wilayah lain.
Beberapa pemicu pergerakan datang dari update data makro yang sebagian besar dilaporkan berada di atas ekspektasi konsensus (GDP QoQ annualized naik menjadi 3,1 persen dan data produksi industri AS menguat 1,1 persen di bulan November kemarin). Di sisa transaksi perdagangan pada pengujung tahun ini, sentimen masih akan datang dari “sandiwara” update terkini hasil negosiasi di Washington. Selama belum adanya kesepakatan, keraguan dan spekulasi terhadap perbaikan kondisi makro AS masih negatif dan berdampak kuat pada tersendatnya kelangsungan rally indeks.
Sebaliknya, saat terdapat berita positif yang menyatakan terjadinya sebuah kesepakatan seputar fiscal cliff (meskipun tidak signifikan), maka refleksi atas informasi tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan ketiga indeks utama di AS yang sepanjang satu bulan terakhir masih mampu membukukan angka positif sebesar 3,7 persen (Dow), 3,79 persen (S&P 500) dan 4,23 persen (Nasdaq). Pada minggu ini, pergerakan ketiga indeks utama di AS berpotensi mengalami hal yang sama.
Dari pasar Eropa, pergerakan beberapa indeks acuan tercatat tidak jauh berbeda. Terpicu oleh sentimen yang sama, beberapa bursa di wilayah tersebut sepanjang minggu lalu mengalami masa fluktuasi yang cukup signifikan. Pascakenaikan yang sempat terjadi terdorong oleh data GDP AS dan rencana ECB serta The Fed yang akan memperkenalkan program pembelian kembali surat utang, salah satu benchmark indeks acuan, yakni Stoxx Europe 600 Indeks, juga mengalami rally yang melamban, seiring dengan pembatalan voting atas kenaikan pajak otomatis masyarakat AS kalangan atas (masyarakat berpenghasilan tinggi di AS).
Hal tersebut juga memperkuat anggapan pelaku pasar yang telah terbentuk selama ini bahwa kesepakatan negosiasi fiscal cliff tidak akan terjadi hingga akhir tahun ini. Pada minggu ini, pergerakan indeks di wilayah tersebut masih berpotensi mengalami stagnasi seiring dengan update berita terkini yang juga menunjukkan bahwa voting dan pembahasan yang dilakukan akan “ditunda” sementara hingga libur bursa pada 25 Desember 2012.
Spekulasi atas opini pelaku pasar juga cenderung masih kuat bahwa pada tiga hari perdagangan yang tersisa di akhir tahun 2012, tidak akan terjadi sebuah kesepakatan yang penting atas hasil pembahasan fiscal cliff tersebut.
Dari pasar Asia Pasifik, beberapa indeks utama di wilayah tersebut juga melaporkan angka penutupan yang tidak jauh berbeda. Bahkan tiga indeks acuan utama, yakni HSI,TWSE dan KOSPI membukukan penurunan pergerakan indeks secara mingguan masing-masing sebesar 0,44 persen, 2,32 persen dan 1,12 persen.
Return mingguan dan bulanan tertinggi dicatat oleh bursa di Tokyo, TOPIX dengan angka kenaikan 8,57 persen (1M) dan sebesar 3,95 persen (1W). Sementara secara bulanan, indeks yang mengalami kenaikan tertinggi berikutnya antara lain bursa di China (SHSZ 300, SHCOMP) dan SET Indeks.
Indeks Nikkei, yang sempat mengalami penurunan cukup aktif, bila melihat hasil return pergerakan secara bulanan dan mingguan juga masih melaporkan angka yang positif, yakni sebesar 7,78 persen dan 2,08 persen. Dari pasar dalam negeri, pergerakan IHSG justru mengalami masa “terburuknya”. Sepanjang minggu lalu IHSG bergerak turun dan tidak lebih baik dari minggu sebelumnya yang masih mampu membukukan angka flat atau naik meskipun tipis.
Tendensi atas libur bursa dan minimnya hari perdagangan serta sikap menunggu berita positif yang masih kental dianut oleh investor dalam negeri juga telah menjadi pemicu lain melemahnya IHSG hingga penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu yang tercatat sebesar -1,36 persen (1W) dan turun sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya. Bahkan bila melihat pergerakan dari sisi bulanan, IHSG membukukan angka return terendah atau berkinerja terburuk sekaligus menjadi satu-satunya indeks acuan di seluruh dunia yang mengalami penurunan di Desember (-1,55 persen).
Minggu ini, IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan terpicu oleh sentimen yang tidak jauh berbeda dengan bursa di wilayah lainnya. Asumsi atas pergerakan indeks yang berpotensi mengalami anomali di awal bulan Januari tahun depan, terlebih bila didukung oleh keputusan yang berarti seputar hasil pertemuan di Washington sepertinya masih menjadi wacana utama pelaku pasar di Indonesia. Pembelian selektif atas beberapa saham yang memiliki kekuatan ekonomi domestik juga stagnan.
Sepanjang minggu lalu, pergerakan indeks juga cenderung lebih dikuasai oleh saham lapis kedua. Kecenderungan atas hal tersebut juga dapat terjadi pada tren pergerakan IHSG sepanjang minggu ini. Satu-satunya harapan hanya datang dari hasil voting seputar keputusan fiscal cliff, yang hingga Jumat pekan lalu masih dipercaya akan terjadi pada awal pekan di tahun depan.
Di minggu pengujung tahun ini, IHSG potensi bergerak pada 4.250.70–4.309,38 dengan beberapa saham pilihan untuk dicermati antara lain: IMAS, MAIN, JPFA, AISA, CPIN, ACES, BBRI, BBCA, JSMR, PGAS.
AKHMAD NURCAHYADI
Analis BNI Securities
Hasil persetujuan yang ditunggu sangatlah penting guna memicu optimisme dan sudut pandang positif pelaku pasar, yang akan berlanjut seiring dengan terjaganya perbaikan kondisi aktivitas bisnis negara AS.
Pada transaksi minggu lalu, rally ketiga bursa utama AS terhenti dan ditutup melemah dengan pergerakan pasar futures yang tidak jauh berbeda. Namun demikian, bila melihat pergerakan yang terjadi sepanjang minggu dan bulan, kinerja ketiga indeks tersebut masih tercatat jauh lebih baik dibandingkan dengan bursa di wilayah lain.
Beberapa pemicu pergerakan datang dari update data makro yang sebagian besar dilaporkan berada di atas ekspektasi konsensus (GDP QoQ annualized naik menjadi 3,1 persen dan data produksi industri AS menguat 1,1 persen di bulan November kemarin). Di sisa transaksi perdagangan pada pengujung tahun ini, sentimen masih akan datang dari “sandiwara” update terkini hasil negosiasi di Washington. Selama belum adanya kesepakatan, keraguan dan spekulasi terhadap perbaikan kondisi makro AS masih negatif dan berdampak kuat pada tersendatnya kelangsungan rally indeks.
Sebaliknya, saat terdapat berita positif yang menyatakan terjadinya sebuah kesepakatan seputar fiscal cliff (meskipun tidak signifikan), maka refleksi atas informasi tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan ketiga indeks utama di AS yang sepanjang satu bulan terakhir masih mampu membukukan angka positif sebesar 3,7 persen (Dow), 3,79 persen (S&P 500) dan 4,23 persen (Nasdaq). Pada minggu ini, pergerakan ketiga indeks utama di AS berpotensi mengalami hal yang sama.
Dari pasar Eropa, pergerakan beberapa indeks acuan tercatat tidak jauh berbeda. Terpicu oleh sentimen yang sama, beberapa bursa di wilayah tersebut sepanjang minggu lalu mengalami masa fluktuasi yang cukup signifikan. Pascakenaikan yang sempat terjadi terdorong oleh data GDP AS dan rencana ECB serta The Fed yang akan memperkenalkan program pembelian kembali surat utang, salah satu benchmark indeks acuan, yakni Stoxx Europe 600 Indeks, juga mengalami rally yang melamban, seiring dengan pembatalan voting atas kenaikan pajak otomatis masyarakat AS kalangan atas (masyarakat berpenghasilan tinggi di AS).
Hal tersebut juga memperkuat anggapan pelaku pasar yang telah terbentuk selama ini bahwa kesepakatan negosiasi fiscal cliff tidak akan terjadi hingga akhir tahun ini. Pada minggu ini, pergerakan indeks di wilayah tersebut masih berpotensi mengalami stagnasi seiring dengan update berita terkini yang juga menunjukkan bahwa voting dan pembahasan yang dilakukan akan “ditunda” sementara hingga libur bursa pada 25 Desember 2012.
Spekulasi atas opini pelaku pasar juga cenderung masih kuat bahwa pada tiga hari perdagangan yang tersisa di akhir tahun 2012, tidak akan terjadi sebuah kesepakatan yang penting atas hasil pembahasan fiscal cliff tersebut.
Dari pasar Asia Pasifik, beberapa indeks utama di wilayah tersebut juga melaporkan angka penutupan yang tidak jauh berbeda. Bahkan tiga indeks acuan utama, yakni HSI,TWSE dan KOSPI membukukan penurunan pergerakan indeks secara mingguan masing-masing sebesar 0,44 persen, 2,32 persen dan 1,12 persen.
Return mingguan dan bulanan tertinggi dicatat oleh bursa di Tokyo, TOPIX dengan angka kenaikan 8,57 persen (1M) dan sebesar 3,95 persen (1W). Sementara secara bulanan, indeks yang mengalami kenaikan tertinggi berikutnya antara lain bursa di China (SHSZ 300, SHCOMP) dan SET Indeks.
Indeks Nikkei, yang sempat mengalami penurunan cukup aktif, bila melihat hasil return pergerakan secara bulanan dan mingguan juga masih melaporkan angka yang positif, yakni sebesar 7,78 persen dan 2,08 persen. Dari pasar dalam negeri, pergerakan IHSG justru mengalami masa “terburuknya”. Sepanjang minggu lalu IHSG bergerak turun dan tidak lebih baik dari minggu sebelumnya yang masih mampu membukukan angka flat atau naik meskipun tipis.
Tendensi atas libur bursa dan minimnya hari perdagangan serta sikap menunggu berita positif yang masih kental dianut oleh investor dalam negeri juga telah menjadi pemicu lain melemahnya IHSG hingga penutupan perdagangan pada Jumat pekan lalu yang tercatat sebesar -1,36 persen (1W) dan turun sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya. Bahkan bila melihat pergerakan dari sisi bulanan, IHSG membukukan angka return terendah atau berkinerja terburuk sekaligus menjadi satu-satunya indeks acuan di seluruh dunia yang mengalami penurunan di Desember (-1,55 persen).
Minggu ini, IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan terpicu oleh sentimen yang tidak jauh berbeda dengan bursa di wilayah lainnya. Asumsi atas pergerakan indeks yang berpotensi mengalami anomali di awal bulan Januari tahun depan, terlebih bila didukung oleh keputusan yang berarti seputar hasil pertemuan di Washington sepertinya masih menjadi wacana utama pelaku pasar di Indonesia. Pembelian selektif atas beberapa saham yang memiliki kekuatan ekonomi domestik juga stagnan.
Sepanjang minggu lalu, pergerakan indeks juga cenderung lebih dikuasai oleh saham lapis kedua. Kecenderungan atas hal tersebut juga dapat terjadi pada tren pergerakan IHSG sepanjang minggu ini. Satu-satunya harapan hanya datang dari hasil voting seputar keputusan fiscal cliff, yang hingga Jumat pekan lalu masih dipercaya akan terjadi pada awal pekan di tahun depan.
Di minggu pengujung tahun ini, IHSG potensi bergerak pada 4.250.70–4.309,38 dengan beberapa saham pilihan untuk dicermati antara lain: IMAS, MAIN, JPFA, AISA, CPIN, ACES, BBRI, BBCA, JSMR, PGAS.
AKHMAD NURCAHYADI
Analis BNI Securities
(rna)
Lihat Juga :