Bursa dibayangi jalan terjal menantang

Selasa, 25 Desember 2012 - 11:12 WIB
Bursa dibayangi jalan...
Bursa dibayangi jalan terjal menantang
A A A
Sindonews.com - Sebentar lagi kita akan menutup tahun 2012 dengan membawa dua pekerjaan rumah besar menuju 2013. Adapun dua persoalan besar tersebut masalah fiscal cliff yang sampai diselesaikannya tulisan ini belum terdengar bagaimana penyelesaiannya.

Padahal batas waktu pemberlakuan semakin mendekat, yakni 1 Januari 2013, serta mengenai masalah besarnya utang publik maupun eksternal yang diderita negara-negara yang tergabung dalam Zona Euro beserta kontraksi ekonomi yang masih akan terjadi di beberapa negara anggotanya.

Apakah itu fiscal cliff? Secara sederhana fiscal cliff adalah suatu kegiatan yang akan terjadi secara bersamaan dari komponen fiscal cliff itu sendiri: Bush tax cuts, payroll tax cut, debt ceiling deal, AMT/other, unemployment benefit expiration, ACA taxes dan ”doc fix” expiration yang akan dimulai 1 Januari 2013.

Itu artinya, tingkat pajak pendapatan seluruh braket akan kembali ke asal ke dekade sebelumnya dan pajak atas capital gaindan dividen akan kembali ke dekade sebelumnya. Secara total, cost of renewal yang akan terjadi mulai tahun 2013 sampai dengan tahun 2022 berjumlah USD2,8 triliun.

Hal ini akan berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat, tetapi dampak terbesar akan lebih terasa di level masyarakat yang lebih kaya. Pasalnya, pajak atas capital gain akan kembali ke level 20 persen dari posisi saat ini, 15 persen, dan pajak atas dividen akan kembali ke tingkat pajak penghasilan secara umum (tertinggi mencapai sekitar 40 persen dalam braket pajak tertinggi) dari level saat ini sekitar 15 persen.

Pengecualian pajak perumahan juga tidak terkecuali akan mengecil. Berakhirnya era pemotongan pajak Bush adalah komponen terbesar tunggal dari fiscal cliff, menyumbang seperti dari perubahan total. Terdapat beberapa pemotongan pajak yang dilakukan selama tahun pertama era Presiden Obama, yakni mengurangi pemotongan pajak atas penghasilan atas kelas menengah AS di mana pajak tersebut akan berakhir secara bersamaan ini adalah komponen terbesar nomor dua dari fiscal cliff.

Defisit anggaran AS saat ini lebih USD1,2 triliun di mana CBO (The Conressional Budget Office) memperkirakan jika fiscal cliff tidak terjadi, maka defisit akan semakin tinggi dan ekonomi hanya tumbuh 1,3 persen di tahun 2013.

Jika fiscal cliff terjadi, defisit akan berkurang USD500 miliar, tetapi ekonomi akan terkontraksi sekitar 0,5–0,7 persen menuju resesi dan akan menyebabkan tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 9 persen kembali.

Persoalan eksternal kedua, yang tetap menjadi perhatian pelaku pasar pada 2012, adalah persoalan Zona Euro, yang dalam laporan IMF bulan Oktober 2012 memperkirakan beberapa negara yang tergabung dalam Zona Euro masih akan terkontraksi pada 2013, seperti Italia yang masih terkontraksi -0,7 persen dan Spanyol masih akan terkontraksi -1,3 persen, sedangkan Jerman sebagai anchor Zona Euro tidak akan bertumbuh alias flat 0,9 persen. Prancis sedikit membaik, dapat tumbuh 0,4 persen pada 2013 dibandingkan 0,1 persen pada 2012.

Bukan hanya masalah pertumbuhan ekonomi Zona Euro yang akan menjadi perhatian, tetapi tingkat utang, baik public debt terhadap GDP maupun external debt terhadap GDP seperti public debt Italia terhadap GDP masih sekitar 119 persen dan external debt terhadap GDP masih sekitar 108 persen.

Di Yunani, persentase public debt terhadap GDP masih sekitar 143 persen dan external debt terhadap GDP masih sekitar 174 persen, sehingga tidaklah mengherankan sepanjang 2013 persoalan mengenai Italia, Yunani bahkan Prancis (external debt terhadap GDP sekitar 182 persen) masih akan mendominasi permasalahan di Zona Euro.

Tema lain yang masih akan mendominasi pasar sepanjang 2013 diperkirakan besarnya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang harus dikeluarkan. Pemerintah diperkirakan tidak cukup berani untuk memotong besarnya subsidi atas BBM, terutama menjelang Pemilu 2014.

Kondisi ini yang mengakibatkan akan terus tertekannya nilai tukar rupiah terlebih jika defisit transaksi berjalan akan terus membesar, akibat masih akan rendahnya harga komoditas. Hal tersebut jika pemerintah cukup berani memotong subsidi BBM, maka dana tersebut bisa dialihkan untuk sektor infrastruktur.

Persoalan lain juga akan terus dipantau adalah apakah arus foreign direct investment akan tetap banjir seperti di tahun 2012. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 sekitar 6,5 persen didukung dengan pertumbuhan kredit perbankan sekitar 20–22 persen, ekspor akan bertumbuh 4 persen dengan pertumbuhan investasi sekitar 13 persen.

Harga batu bara kalori di atas 6000 kkal akan bergerak sekitar USD95-100/mt, nikel sekitar harga USD17.000-19.000/ton, timah antara USD18.000-22.000/ton dan emas akan bergerak di level USD1.700-1.900/troy ounce dan yang masih terpuruk adalah harga CPO yang bergerak di level RM 2.100-2.700/ton sepanjang tahun 2013.

Dengan asumsi setelah memperhitungkan kenaikan harga listrik, inflasi sepanjang 2013 akan berkisar 4,5-5 persen. Adapun indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun depan berpotensi menguat ke level 4.830, atau naik 10 persen dari closing tahun 2012 yang ditutup di level 4,390.

Faktor yang mendorong antara lain didukung kenaikan laba bersih, tingginya investasi. Kondisi bursa global khususnya AS dan Eropa masih belum pulih benar walaupun mulai ada kejelasan dan perkembangan. Terlihat dari pertumbuhan GDP AS dan Jerman tahun 2013 yang diperkirakan berkisar di level 2,3 persen dan 1,4 persen.

Sedangkan Indonesia masih memberikan pertumbuhan GDP hingga 6,5 persen membuat bursa Indonesia akan kembali dilirik oleh investor asing. Adapun faktor yang kemungkinan menjadi penghambat pergerakan indeks ialah terjadinya kenaikan tajam pada harga minyak mentah dunia jika harga minyak mentah mencapai USD105-110/barel dan bertahan selama 5-6 bulan. Selain itu, Zona Euro gagal mengurangi defisit APBN anggotanya dan kontraksi ekonomi terus berlanjut.

Tidak berhasilnya paket stimulus QE3 untuk mendorong kenaikan pertumbuhan ekonomi, penjualan rumah dan menurunkan tingkat pengangguran AS di tengah tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat item mana dari pajak yang harus diperpanjang dan mana yang tidak diperpanjang. Faktor dalam negeri yakni tingkat inflasi yang melebihi 6 persen.

Terjadi kenaikan BBM, kenaikan BI Rate melebihi level 6,5 persen. Diberlakukannya pajak atas capital inflow, ancaman terjadinya capital outflow, serta memanasnya pertarungan antar parpol menjelang pemilu.

EDWIN SEBAYANG
Head of Research MNC Securities
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
IHSG Tidak Terbendung,...
IHSG Tidak Terbendung, Pagi Ini Dibuka Terus Menguat ke Level 6.018
Lanjutkan Penguatan...
Lanjutkan Penguatan di Pagi Hari, IHSG Sentuh Level 6.085
Bergerak Dua Arah, IHSG...
Bergerak Dua Arah, IHSG Akhir Pekan Ditutup Melemah ke Level 6.104
Suku Bunga Acuan BI...
Suku Bunga Acuan BI Bakal Dirilis, Ramalan IHSG Bergerak Terbatas
IHSG Kehabisan Tenaga,...
IHSG Kehabisan Tenaga, Terkoreksi 2,38 Poin di Akhir Sesi
IHSG Punya Kekuatan...
IHSG Punya Kekuatan Sultan, Mendekati Level 6.200
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
5 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
5 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
6 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
6 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
6 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
6 jam yang lalu
Infografis
Khamenei Tewas, 4 Nama...
Khamenei Tewas, 4 Nama Masuk Bursa Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved