Awal pekan, IHSG diproyeksi melemah
Senin, 11 Maret 2013 - 08:12 WIB
Awal pekan, IHSG diproyeksi melemah
A
A
A
Sindonews.com - Mengawali perdagangan pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi melemah sabagai akibat aksi ambil untung (profit taking) menyusul dicetaknya rekor baru pada penutupan perdagangan pekan lalu.
"Pada perdagangan Senin (7/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.825-4.860 dan resistance 4.888-4.915," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (11/3/2013).
Berpola menyerupai shooting star dekati upper bollinger bands (UBB). MACD kembali naik dengan histogram positif yang meningkat. RSI, William's %R, dan Stochastic terlihat mulai sedikit downreversal.
"Potensi penurunan atau pelemahan yang mungkin terjadi, tergantung dari sentimen di pasar nantinya. Diharapkan dengan menggunakan kisaran support dan resistance tersebut dapat dijadikan langkah antisipasi terhadap kondisi yang mungkin terjadi pada IHSG," kata Reza.
Sentimen dari luar negeri tampaknya masih akan mendominasi pergerakan IHSG. Rilis kenaikan data initial jobless claims, nonfarm productivity, dan consumer confidence AS secara tidak langsung memberikan sentimen positif bagi IHSG.
Penguatan IHSG juga seiring bursa saham regional yang positif setelah merespon rilis data ekspor China yang naik 21,8 petsen pada bulan Februari. Masih banyaknya sentimen positif dimanfaatkan IHSG untuk terus memperbarui rekor tertingginya.
"Akan tetapi, jika melihat dari perdagangan intraday, ada kecenderungan pola yang menurun setelah menyentuh level tertinggi terbarunya tersebut," menurut Reza.
Reza menganggap, bisa jadi penurunan yang terjadi benar disebabkan profit taking karena pencapaian IHSG yang (boleh dinilai) terlalu cepat. "Menghijaunya IHSG juga kemungkinan dimanfaatkan untuk “bersih-bersih” portofolio saham yang sebelumnya nyangkut dan mulai naik, sehingga pelaku pasar lebih memilih untuk melepasnya," simpul Reza.
Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.904,48 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4.853,15 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.874,50.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih menguat setelah para perbankan sentral, terutama di Eropa, tidak menyampaikan adanya penambahan stimulus. Dengan tidak bertambahnya stimulus, maka nilai tukar euro tidak melemah.
Di sisi lain, pelaku pasar melihat rencana The Fed untuk tetap memberikan stimulusnya kemungkinan akan membuat USD melemah. Kondisi inilah yang secara tidak langsung berpengaruh pada apresiasi rupiah.
Terkait pernyataan ECB, bahwa zona Eropa masih akan kontraksi hingga akhir 2013 tidak langsung direspon negatif karena di sisi lain juga disampaikan pemulihan ekonomi zona Eropa akan berlangsung bertahap dan adanya kenaikan optimisme dari sisi consumer confidence.
Bursa saham Asia variatif cenderung menguat dengan merespon positif kenaikan data-data di AS. Pelaku pasar melihat adanya perbaikan pada ekonomi AS dan juga diikuti dengan ekonomi di Eropa.
Kenaikan di atas estimasi dari data GDP Jepang dan trade balance China turut menambah sentimen positif dan memperkuat asumsi pelaku pasar bahwa ekonomi global berjalan menuju pemulihan.
Bursa saham Eropa masih menghijau setelah merespon rilis data-data ekonomi AS yang menunjukkan adanya pemulihan di sektor ketenagakerjaan dan optimisme bank sentral akan melanjutkan program stimulus ekonominya.
Selain itu, pelaku pasar juga merespon rilis kenaikan trade balance China dan naiknya GDP Jepang sehingga memicu optimisme perdagangan. Sentimen positif tersebut dapat mengimbangi sentimen negatif dari penurunan data industrial production (MoM) Jerman.
Bursa saham AS masih menghijau dengan respon positif terhadap rilis kenaikan nonfarm payrolls dan private nonfarm payrolls yang diikuti dengan penurunan unemployment rate.
"Rilis data-data ketenagakerjaan ini mengkonfirmasih rilis data sebelumnya dari penurunan initial jobless claims dan kenaikan nonfarm productivity. Sama seperti IHSG, indeks saham AS pun kembali mencetak new high record sepanjang masa," tutur dia.
"Pada perdagangan Senin (7/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.825-4.860 dan resistance 4.888-4.915," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Senin (11/3/2013).
Berpola menyerupai shooting star dekati upper bollinger bands (UBB). MACD kembali naik dengan histogram positif yang meningkat. RSI, William's %R, dan Stochastic terlihat mulai sedikit downreversal.
"Potensi penurunan atau pelemahan yang mungkin terjadi, tergantung dari sentimen di pasar nantinya. Diharapkan dengan menggunakan kisaran support dan resistance tersebut dapat dijadikan langkah antisipasi terhadap kondisi yang mungkin terjadi pada IHSG," kata Reza.
Sentimen dari luar negeri tampaknya masih akan mendominasi pergerakan IHSG. Rilis kenaikan data initial jobless claims, nonfarm productivity, dan consumer confidence AS secara tidak langsung memberikan sentimen positif bagi IHSG.
Penguatan IHSG juga seiring bursa saham regional yang positif setelah merespon rilis data ekspor China yang naik 21,8 petsen pada bulan Februari. Masih banyaknya sentimen positif dimanfaatkan IHSG untuk terus memperbarui rekor tertingginya.
"Akan tetapi, jika melihat dari perdagangan intraday, ada kecenderungan pola yang menurun setelah menyentuh level tertinggi terbarunya tersebut," menurut Reza.
Reza menganggap, bisa jadi penurunan yang terjadi benar disebabkan profit taking karena pencapaian IHSG yang (boleh dinilai) terlalu cepat. "Menghijaunya IHSG juga kemungkinan dimanfaatkan untuk “bersih-bersih” portofolio saham yang sebelumnya nyangkut dan mulai naik, sehingga pelaku pasar lebih memilih untuk melepasnya," simpul Reza.
Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level 4.904,48 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4.853,15 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.874,50.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih menguat setelah para perbankan sentral, terutama di Eropa, tidak menyampaikan adanya penambahan stimulus. Dengan tidak bertambahnya stimulus, maka nilai tukar euro tidak melemah.
Di sisi lain, pelaku pasar melihat rencana The Fed untuk tetap memberikan stimulusnya kemungkinan akan membuat USD melemah. Kondisi inilah yang secara tidak langsung berpengaruh pada apresiasi rupiah.
Terkait pernyataan ECB, bahwa zona Eropa masih akan kontraksi hingga akhir 2013 tidak langsung direspon negatif karena di sisi lain juga disampaikan pemulihan ekonomi zona Eropa akan berlangsung bertahap dan adanya kenaikan optimisme dari sisi consumer confidence.
Bursa saham Asia variatif cenderung menguat dengan merespon positif kenaikan data-data di AS. Pelaku pasar melihat adanya perbaikan pada ekonomi AS dan juga diikuti dengan ekonomi di Eropa.
Kenaikan di atas estimasi dari data GDP Jepang dan trade balance China turut menambah sentimen positif dan memperkuat asumsi pelaku pasar bahwa ekonomi global berjalan menuju pemulihan.
Bursa saham Eropa masih menghijau setelah merespon rilis data-data ekonomi AS yang menunjukkan adanya pemulihan di sektor ketenagakerjaan dan optimisme bank sentral akan melanjutkan program stimulus ekonominya.
Selain itu, pelaku pasar juga merespon rilis kenaikan trade balance China dan naiknya GDP Jepang sehingga memicu optimisme perdagangan. Sentimen positif tersebut dapat mengimbangi sentimen negatif dari penurunan data industrial production (MoM) Jerman.
Bursa saham AS masih menghijau dengan respon positif terhadap rilis kenaikan nonfarm payrolls dan private nonfarm payrolls yang diikuti dengan penurunan unemployment rate.
"Rilis data-data ketenagakerjaan ini mengkonfirmasih rilis data sebelumnya dari penurunan initial jobless claims dan kenaikan nonfarm productivity. Sama seperti IHSG, indeks saham AS pun kembali mencetak new high record sepanjang masa," tutur dia.
(rna)
Lihat Juga :