Paradigma ekspor gas harus diubah

Kamis, 14 Maret 2013 - 18:28 WIB
Paradigma ekspor gas...
Paradigma ekspor gas harus diubah
A A A
Sindonews.com - Sejumlah kalangan menilai ekspor gas merupakan pangkal dari defisit neraca perdagangan. Pasalnya, gas murah yang dimiliki negara justru di ekspor diganti dengan impor bahan bakar minyak (BBM) yang harganya jauh lebih mahal di banding harga gas setara liter BBM.

"Ke depan, kita mesti ubah paradigma ini. Namun kita tahu sekarang masih banyak kontrak gas ekspor yang sudah terikat sejak dulu," kata Anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha, di Jakarta, Kamis (14/3/2013).

Senada dengan satya, Anggota Komisi VII DPR lainnya, Milton Pakpahan mengatakan, kedepan paradigma bisnis dan pengelolaan gas harus diubah secara perlahan. Pasalnya pardigma sekarang merupakan warisan dari jaman orde baru, sehingga pemerintah dihadapkan antara masa lalu dan masa depan. "Ini harus kita pahami," katanya.

Menurut dia, negara saat ini masih terikat beberapa kontrak perjanjian jual beli gas jangka panjang dengan negara-negara pembeli. Sedangkan kontrak tersebut merupakan warisan masa lalu. "Sehingga tidak mudah untuk membatalkan secara sepihak," ungkapnya.

Namun secara perlahan, Milto meminta pada pemerintah agar mulai memprioritaskan pemanfaatan gas untuk kebutuhan dalam negeri. Di mana posisi pemanfaatan gas saat ini sudah lebih besar untuk kebutuhan nasional dan untuk mendukung alokasi dana untuk membangun jaringan infrastruktur gas seperti FSRU, Instalasi Pipa Transmisi, Mother Daughter Station, membangun PLTG baru, dan membangun SPBG. "Ini artinya, para wakil rakyat tidak berdiam diri," ujar Milto.

Kemudian, lanjut dia, terkait potensi kerugian negara dari ekspor gas. Hal itu harus dilihat secara makro dan konprehensif tidak sepotong-potong. "Jika dapat dibuktikan ada kerugian negara dari ekspor gas, silakan ini ditindak lanjuti aparat hukum yang berwenang," katanya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
CORE: Perdagangan Surplus,...
CORE: Perdagangan Surplus, Tapi Gara-gara Impornya Terkontraksi
Program SSMQC Resmi...
Program SSMQC Resmi Dilaunching untuk Efisiensi Waktu dan Biaya Ekspor Impor
Nilai Ekspor Impor Sulsel...
Nilai Ekspor Impor Sulsel Alami Penurunan
Aktivitas Ekspor-Impor...
Aktivitas Ekspor-Impor Sulsel Meningkat Pada Februari 2022
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Istilah-istilah dalam...
Istilah-istilah dalam Ekspor-Impor yang Wajib Diketahui Para Pebisnis
Berita Terkini
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
24 menit yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
58 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
10 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved