Subsidi bengkak, harga BBM idealnya naik

Selasa, 26 Maret 2013 - 15:22 WIB
Subsidi bengkak, harga...
Subsidi bengkak, harga BBM idealnya naik
A A A
Sindonews.com - Pemerintah diminta segera membatasi beban APBN untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) melalui skema menaikkan harga BBM bersubsidi atau model pembatasan lainnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kurtubi mengatakan, pemerintah mesti mulai melakukan pengurangan belanja APBN untuk subsidi BBM. Setiap tahunnya, realisasi subsidi BBM terus meningkat. Belanja APBN untuk subsidi BBM 2011 mencapai Rp165,1 triliun. Sementara pada APBN 2012, realisasi subsidi menyentuh Rp211,8 triliun. Tahun ini, pemerintah menetapkan pagu Rp193,8 trilun.

“Subsidi untuk BBM mesti dikurangi, agar tidak memberatkan fiskal. Kami khawatir, membengkaknya fiskal akan berujung pada terbitnya surat utang pemerintah yang menyebabkan nilai utang negara terus membengkak,” jelas Acuviarta di Bandung, Selasa (26/3/2013).

Pemerintah, lanjutnya, mestinya berkaca pada krisis Eropa, di mana beberapa negara mengalami kebangkrutan akibat tingginya utang pemerintah.

Komitmen pengurangan subsidi BBM, tambahnya, perlu kemauan kuat dari pemerintah. Saat ini, pemerintah justru cenderung kesulitan. Sejumlah opsi pengurangan konsumsi BBM bersubsidi justru tidak efektif. Baru baru ini, Kementrian ESDM juga mengusulkan dua opsi penggunaan BBM bersubsidi. Yaitu pembatasan untuk mobil plat hitam serta membuat BBM jenis Premix dengan kadar oktan 90. Jenis ini merupakan campuran premium beroktan 88 dan pertamax beroktan 92.

Lebih lanjut Acu menegaskan, pemerintah mesti mengambil keputusan atas pengurangan beban subsidi BBM. Misalnya melalui penaikan harga BBM subsidi atau melalui skema pembatasan penggunaan BBM bersubsidi.

Menurut dia, pemerintah memungkinkan menaikkan harga BBM bersubsidi pada batas tertentu. Misalnya di angka Rp6.000 per liter. Harga tersebut, lanjut dia, secara psikologis pernah terjadi di Indonesia. “Kalaupun pemerintah khawatir terhadap risiko ekonomi dan politik, kenaikannya bisa dilakukan bertahap,” ujar dia.

Untuk mengurangi beban ekonomi atas kemungkinan inflasi, pemerintah bisa menerbitkan kebijakan yang bersifat all out. Misalnya Departemen Perdagangan melakukan pengawasan terhadap kenaikan harga produk dan Departemen Perhubungan menjamin distribusi produk tepat waktu.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Penasaran, Ini Mahakarya...
Penasaran, Ini Mahakarya Gubernur DKI dari Sutiyoso hingga Anies
Saefullah, Sekda DKI...
Saefullah, Sekda DKI 4 Gubernur dari Jokowi, Ahok, Djarot hingga Anies
4 Gubernur Jakarta yang...
4 Gubernur Jakarta yang Dulunya Wagub dari Henk Ngantung hingga Djarot Saiful Hidayat
PDIP Godok Kader Internal...
PDIP Godok Kader Internal di Pilgub DKI: Ada Ahok, Djarot, Risma, dan Andika Perkasa
Kebijakan Kemendikbud...
Kebijakan Kemendikbud 2020 Jadi Angin Segar Pemerintahan Jokowi
PDIP Dorong Perempuan...
PDIP Dorong Perempuan Semakin Banyak Mengabdi di Politik
Berita Terkini
Hasilkan Riset Berkelanjutan,...
Hasilkan Riset Berkelanjutan, Kayla Raih Pendanaan Global Youth Action Fund
4 jam yang lalu
Potensi Tambahan Penerimaan...
Potensi Tambahan Penerimaan Negara dari DSI Masih Dihitung, Purbaya: Belum Ketemu Angkanya
5 jam yang lalu
BRImo Raih Penghargaan...
BRImo Raih Penghargaan Digital Innovation in Business Transformation di Ajang Digital Innovation Awards 2026
5 jam yang lalu
Atasi Kebocoran Data...
Atasi Kebocoran Data Ekspor, Mahfud MD Dorong Penguatan PT DSI
5 jam yang lalu
Tok! Eksportir SDA Wajib...
Tok! Eksportir SDA Wajib Pulangkan 100% Devisa Hasil Ekspor ke Dalam Negeri Mulai Juni 2026
9 jam yang lalu
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi...
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi Besok 1 Juni 2026! Terbagi 2 Fase, Eksportir Wajib Lapor DSI
9 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Potong Pajak Pembelian BBM 5%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved