1,8 miliar orang Asia gunakan energi tradisional
Selasa, 09 April 2013 - 14:57 WIB
1,8 miliar orang Asia gunakan energi tradisional
A
A
A
Sindonews.com - Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) memperkirakan, masih ada 1,8 miliar orang atau 79 persen penduduk Asia yang menggunakan kayu dan energi tradisional sebagai sumber energi utama.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding kawasan lainnya, yang hanya sekitar 21 persen. Banyaknya masyarakat Asia yang masih menggunakan energi tradisional disebabkan terbatasnya akses ke listrik ataupun energi modern lainnya.
ADB memperkirakan hanya 50 persen penduduk Asia yang bisa menikmati energi listrik. Masih terbatasnya akses masyarakat Asia ke sumber energi modern inilah yang menjadi sorotan ADB dalam laporan utama mereka, Asian Development Outlook 2013 "Asia’s Energy Challenge" yang diterbitkan hari ini.
“Asia harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan energi serta bagaimana menyediakan energi murah karena energi murah adalah kunci pertumbuhan yang inklusif,” tutur ekonom ADB Priasto Aji pada peluncuran Asian Development Outlook 2013 "Asia’s Energy Challenge", di Jakarta, Selasa (9/4/2013).
Priasto mengingatkan, permasalahan energi di Asia tidak hanya terkait terbatasnya akses ke sumber energi modern tetapi juga ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara. ADB memperkirakan pada 2035, konsumsi minyak di Asia akan naik dua kali lipat, sementara konsumsi gas alam naik tiga kali lipat dan batu bara 80 persen.
Priasto mengingatkan, negara-negara Asia harus segera mengembangkan sumber energi terbarukan agar bisa menekan konsumsi energi fosil sekaligus mengurangi beban subsidi. Terlebih Asia diyakini bakal menjadi pemain utama ekonomi pada 2035.
Pada tahun tersebut, Asia akan menguasai 44 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Seiring pesatnya pertumbuhan di Asia serta peran besarnya di tataran global, kawasan Asia membutuhkan pasokan energi sangat besar.
ADB memperkirakan pada 2035 mendatang, Asia bakal mengkonsumsi lebih dari separuh dari total kebutuhan energi di dunia. “Kalau kita melihat tren konsumsi energi yang lebih less optimistic dalam 10 tahun terakhir, Asia bahkan membutuhkan pasokan energi 56 persen dari total energi dunia,” papar Priasto.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding kawasan lainnya, yang hanya sekitar 21 persen. Banyaknya masyarakat Asia yang masih menggunakan energi tradisional disebabkan terbatasnya akses ke listrik ataupun energi modern lainnya.
ADB memperkirakan hanya 50 persen penduduk Asia yang bisa menikmati energi listrik. Masih terbatasnya akses masyarakat Asia ke sumber energi modern inilah yang menjadi sorotan ADB dalam laporan utama mereka, Asian Development Outlook 2013 "Asia’s Energy Challenge" yang diterbitkan hari ini.
“Asia harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan energi serta bagaimana menyediakan energi murah karena energi murah adalah kunci pertumbuhan yang inklusif,” tutur ekonom ADB Priasto Aji pada peluncuran Asian Development Outlook 2013 "Asia’s Energy Challenge", di Jakarta, Selasa (9/4/2013).
Priasto mengingatkan, permasalahan energi di Asia tidak hanya terkait terbatasnya akses ke sumber energi modern tetapi juga ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara. ADB memperkirakan pada 2035, konsumsi minyak di Asia akan naik dua kali lipat, sementara konsumsi gas alam naik tiga kali lipat dan batu bara 80 persen.
Priasto mengingatkan, negara-negara Asia harus segera mengembangkan sumber energi terbarukan agar bisa menekan konsumsi energi fosil sekaligus mengurangi beban subsidi. Terlebih Asia diyakini bakal menjadi pemain utama ekonomi pada 2035.
Pada tahun tersebut, Asia akan menguasai 44 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Seiring pesatnya pertumbuhan di Asia serta peran besarnya di tataran global, kawasan Asia membutuhkan pasokan energi sangat besar.
ADB memperkirakan pada 2035 mendatang, Asia bakal mengkonsumsi lebih dari separuh dari total kebutuhan energi di dunia. “Kalau kita melihat tren konsumsi energi yang lebih less optimistic dalam 10 tahun terakhir, Asia bahkan membutuhkan pasokan energi 56 persen dari total energi dunia,” papar Priasto.
(rna)
Lihat Juga :