Sentimen ini picu IHSG tinggalkan level 5.000
Senin, 03 Juni 2013 - 16:17 WIB
Sentimen ini picu IHSG tinggalkan level 5.000
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini meninggalkan level psikologis 5.000 setelah hampir sebulan berada di atas level tersebut.
Analis Riset PT Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan bahwa anjloknya IHSG pada hari ini didorong oleh aksi jual dari investor asing yang tercatat cukup signifikan. "Aksi jual asing ini merupakan kesembilan hari berturut-turut," kata dia, Senin (3/6/2013).
Menurut dia, meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan deflasi pada Mei, namun pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian akan masalah kebijakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, kata Purwoko, juga menimbulkan spekulasi kemungkinan dinaikkannya suku bunga sebagai salah satu langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah.
Sementara dari luar negeri, data consumer confidence Amerika Serikat (AS) dan PMI Chicago yang di atas ekspektasi, justru membuka kekhawatiran akan mendorong The Fed untuk mengurangi stimulus.
Data Manufaktur China periode Mei yang di atas ekspektasi juga gagal memberikan sentimen positif bagi indeks. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, tercatat IHSG mengalami penurunan sekitar 4,4 persen.
Sore ini, IHSG terkoreksi tajam sebesar 97,27 poin atau 1,92 persen ke level 4.971,35. Seluruh sektor saham melemah, dengan pelemahan tertinggi dipimpin sektor properti yang minus 3,87 persen, diikuti sektor agri turun 2,88 persen dan konsumer melemah 2,8 persen.
Sementara nilai transaksi tercatat sebesar Rp9,87 triliun dengan 8,37 miliar lembar saham diperdagangkan. IHSG mengalami tekanan jual, dengan transaksi jual asing tercatat mencapai Rp1,63 triliun. Tercatat sebanyak 56 saham menguat, 257 saham melemah dan 74 saham stagnan.
Analis Riset PT Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan bahwa anjloknya IHSG pada hari ini didorong oleh aksi jual dari investor asing yang tercatat cukup signifikan. "Aksi jual asing ini merupakan kesembilan hari berturut-turut," kata dia, Senin (3/6/2013).
Menurut dia, meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan deflasi pada Mei, namun pasar masih dibayangi oleh ketidakpastian akan masalah kebijakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, kata Purwoko, juga menimbulkan spekulasi kemungkinan dinaikkannya suku bunga sebagai salah satu langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah.
Sementara dari luar negeri, data consumer confidence Amerika Serikat (AS) dan PMI Chicago yang di atas ekspektasi, justru membuka kekhawatiran akan mendorong The Fed untuk mengurangi stimulus.
Data Manufaktur China periode Mei yang di atas ekspektasi juga gagal memberikan sentimen positif bagi indeks. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, tercatat IHSG mengalami penurunan sekitar 4,4 persen.
Sore ini, IHSG terkoreksi tajam sebesar 97,27 poin atau 1,92 persen ke level 4.971,35. Seluruh sektor saham melemah, dengan pelemahan tertinggi dipimpin sektor properti yang minus 3,87 persen, diikuti sektor agri turun 2,88 persen dan konsumer melemah 2,8 persen.
Sementara nilai transaksi tercatat sebesar Rp9,87 triliun dengan 8,37 miliar lembar saham diperdagangkan. IHSG mengalami tekanan jual, dengan transaksi jual asing tercatat mencapai Rp1,63 triliun. Tercatat sebanyak 56 saham menguat, 257 saham melemah dan 74 saham stagnan.
(rna)
Lihat Juga :