Ekonomi Korsel tumbuh di laju tercepat 0,8%
Jum'at, 07 Juni 2013 - 11:18 WIB
Ekonomi Korsel tumbuh di laju tercepat 0,8%
A
A
A
Sindonews.com - Ekonomi Korea Selatan (Korsel) berkembang di laju tercepat dalam satu tahun pada kuartal pertama (Q1) 2013, meskipun pertumbuhan masih lambat untuk mendapat dukungan keuangan lanjutan.
Dilansir dari Wall Street Journal, Jumat (7/6/2013), Bank Sentral Korsel menunjukkan revisi data produk domestik bruto (PDB) periode Januari-Maret, disesuaikan musiman tumbuh 0,8% dari kuartal sebelumnya atau 3,2% secara tahunan.
Kenaikan ini merupakan peningkatan yang ditandai ekspansi 0,3% pada kuartal keempat 2012, namun sedikit di bawah perkiraan Bank Korsel pada April sebesar 0,9%.
Diberitakan sebelumnya, seiring krisis utang di zona euro dan masalah fiskal Amerika Serikat (AS), Korea Selatan menurunkan prospek pertumbuhan ekonominya untuk 2012 dan 2013.
Kementerian Keuangan Korsel akhir tahun lalu, merevisi angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 2,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Sementara untuk tahun ini direvisi menjadi 3 persen dari sebelumnya 4 persen.
"Perekonomian terus memperlambat karena permintaan global melemah akibat krisis utang zona euro yang berkepanjangan dan ketidakpastian yang lama-lama meredam sentimen," kata Kementerian Keuangan.
Dilansir dari Wall Street Journal, Jumat (7/6/2013), Bank Sentral Korsel menunjukkan revisi data produk domestik bruto (PDB) periode Januari-Maret, disesuaikan musiman tumbuh 0,8% dari kuartal sebelumnya atau 3,2% secara tahunan.
Kenaikan ini merupakan peningkatan yang ditandai ekspansi 0,3% pada kuartal keempat 2012, namun sedikit di bawah perkiraan Bank Korsel pada April sebesar 0,9%.
Diberitakan sebelumnya, seiring krisis utang di zona euro dan masalah fiskal Amerika Serikat (AS), Korea Selatan menurunkan prospek pertumbuhan ekonominya untuk 2012 dan 2013.
Kementerian Keuangan Korsel akhir tahun lalu, merevisi angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 2,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen. Sementara untuk tahun ini direvisi menjadi 3 persen dari sebelumnya 4 persen.
"Perekonomian terus memperlambat karena permintaan global melemah akibat krisis utang zona euro yang berkepanjangan dan ketidakpastian yang lama-lama meredam sentimen," kata Kementerian Keuangan.
(dmd)
Lihat Juga :