Imbas BBM, harga rumah di Depok naik 20%
Selasa, 25 Juni 2013 - 12:25 WIB
Imbas BBM, harga rumah di Depok naik 20%
A
A
A
Sindonews.com - Akibat dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berdampak pada sektor properti. Sebagai kota yang subur dengan bidang properti, harga rumah di Depok naik 10-20 persen.
Salah satu pengusaha properti di Depok, Pradi Supriatna mengatakan, kenaikan harga BBM berpengaruh pada penyusunan harga ulang setiap perumahan. Dia menyebutkan harga rumah yang laku di pasaran pada harga Rp250 juta, akibat kenaikan harga BBM bisa naik hingga Rp280 juta.
"Kalau saya lihat ini justru para pengusaha properti di Depok sudah mulai naikan harga. Kami arrange semua lagi, harga jual, tukang, bahan bangunan, upahnya," ungkap dia, Selasa (25/6/2013).
Namun, Pradi meyakini bahwa daya beli masyarakat Depok cenderung tinggi, sehingga kenaikan harga tak akan berpengaruh besar pada penjualan. Meski demikian, kata dia, pengembang saat ini tetap memberlakukan DP 30 persen dari harga jual.
"Harga barang fluktuatif seperti ini, kami enggak berani untuk DP suka-suka, kami atur pandai-pandai strategi pemasaran," jelasnya.
Tak hanya sektor bisnis properti, namun kenaikan harga BBM juga berpengaruh pada kenaikan harga pembangunan gedung perkantoran pemerintahan.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Depok, Nunu Heriana mengatakan, pihaknya juga terpaksa menghitung ulang biaya pembangunan.
"Dihitung lagi, kenaikan biaya 10-20 persen, tapi enggak bakal tertunda. Kami sedang membangun gedung Baleka di Balaikota, kecamatan, kantor kelurahan. Selain itu program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga akan naik tentunya," ungkap Nunu.
Salah satu pengusaha properti di Depok, Pradi Supriatna mengatakan, kenaikan harga BBM berpengaruh pada penyusunan harga ulang setiap perumahan. Dia menyebutkan harga rumah yang laku di pasaran pada harga Rp250 juta, akibat kenaikan harga BBM bisa naik hingga Rp280 juta.
"Kalau saya lihat ini justru para pengusaha properti di Depok sudah mulai naikan harga. Kami arrange semua lagi, harga jual, tukang, bahan bangunan, upahnya," ungkap dia, Selasa (25/6/2013).
Namun, Pradi meyakini bahwa daya beli masyarakat Depok cenderung tinggi, sehingga kenaikan harga tak akan berpengaruh besar pada penjualan. Meski demikian, kata dia, pengembang saat ini tetap memberlakukan DP 30 persen dari harga jual.
"Harga barang fluktuatif seperti ini, kami enggak berani untuk DP suka-suka, kami atur pandai-pandai strategi pemasaran," jelasnya.
Tak hanya sektor bisnis properti, namun kenaikan harga BBM juga berpengaruh pada kenaikan harga pembangunan gedung perkantoran pemerintahan.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Depok, Nunu Heriana mengatakan, pihaknya juga terpaksa menghitung ulang biaya pembangunan.
"Dihitung lagi, kenaikan biaya 10-20 persen, tapi enggak bakal tertunda. Kami sedang membangun gedung Baleka di Balaikota, kecamatan, kantor kelurahan. Selain itu program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga akan naik tentunya," ungkap Nunu.
(izz)
Lihat Juga :