Ini hasil kesepakatan negara G20 di Moskow

Sabtu, 20 Juli 2013 - 19:51 WIB
Ini hasil kesepakatan...
Ini hasil kesepakatan negara G20 di Moskow
A A A
Sindonews.com -Kelompok negara G20 sepakat meningkatkan pertumbuhan dan lapangan kerja sebagai prioritas jangka pendek ekonomi global, karena menghadapi pemulihan yang rapuh dan tidak merata.

Kepala keuangan dari negara maju dan berkembang itu juga mendukung rencana aksi yang disusun OECD (organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan) menindak penghindaran pajak oleh perusahaan multinasional dan membantu mengisi kekurangan anggaran negara.

"Kami sepakat bahwa prioritas jangka pendek kami adalah meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan," kata komunike dalam catatan akhir pertemuan KTT G20 di Moskow, Rusia, seperti dilansir dari AFP, Sabtu (20/7/2013).

Para menteri keuangan mengatakan, mereka sepakat bahwa pemulihan ekonomi global diperlukan agar menjadi lebih kuat dan lebih stabil. "Ekonomi global masih terlalu lemah dan pemulihan masih rapuh serta tidak merata," kata komunike tersebut.

Beberapa negara besar menjelang pertemuan meminta kejelasan, setelah Federal Reserve AS (Fed) mengatakan, pihaknya bisa mulai memotong program pelonggaran kuantitatif, yang menyuntikkan dana sekitar USD85 miliar per bulan ke dalam ekonomi, melalui pembelian obligasi pada akhir tahun ini, dan mengakhiri program pada pertengahan 2014.

Untuk itu, mereka bersumpah setiap perubahan tersebut akan dibuat dengan hati-hati dan dikomunikasikan dengan jelas. "Masa Depan perubahan ke pengaturan kebijakan moneter akan terus hati-hati dikalibrasi dan dikomunikasikan dengan jelas."

Pernyataan itu juga menyebutkan, pekerjaan bisa ditingkatkan dengan mengurangi fragmentasi pasar keuangan, melanjutkan dukungan keuangan yang diperlukan, rebalancing permintaan global, dan mengambil langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan.

Sebelumnya, G20 telah sepenuhnya menyetujui rencana aksi yang disampaikan OECD untuk menekan penghindaran pajak. "Kami sepenuhnya mendukung rencana aksi ambisius dan komprehensif yang disampaikan atas permintaan G20, yang bertujuan mengatasi erosi keuntungan dan pergeseran laba."
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Pasok BBM ke SPBU, Ajak Masyarakat Awasi Penyalahgunaan Subsidi
30 menit yang lalu
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
42 menit yang lalu
Perang dengan AS Kian...
Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
1 jam yang lalu
Menteri PU Jawab Isu...
Menteri PU Jawab Isu Keponakan Jadi Komisaris: Lu Bisa Buktikan, Gue Kasih Umrah
11 jam yang lalu
Menteri Dody Akui Mutasi...
Menteri Dody Akui Mutasi Pejabat PU, Tapi Tepis karena Bocornya Surat Perjalanan ke AS
12 jam yang lalu
Sering Kena Zonk & Trauma...
Sering Kena Zonk & Trauma Promo PHP Saat Belanja Online? Resep Ini Dijamin Bikin Happy
12 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved