Industri Indonesia harus bangun keunikan

Senin, 19 Agustus 2013 - 17:29 WIB
Industri Indonesia harus...
Industri Indonesia harus bangun keunikan
A A A
Sindonews.com - Pengamat perindustrian dari Alomet & Friend, Mathiyas Thaib mengkhawatirkan masa depan sektor industri di Indonesia. Menurutnya, APEC dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bukan hanya peluang tetapi juga ancaman.

“Kalau tidak hati-hati, Indonesia bisa terjebak sekedar menjadi pasar bagi produk-produk asing. Beberapa tahun ke belakang gejala-gejalanya sudah terlihat,” ungkap mantan ketua Ikatan Sarjana dan Master Teknik Industri Indonesia (ISTMI) ini dalam rilisnya, Senin (19/8/2013).

Menurut Mathiyas, produk-produk Indonesia masih kurang kompetitif di pasar global. Apalagi kebijakan fiskal dan moneter terkesan kontraproduktif. Suku bunga kredit yang tinggi, menjadi salah satu indikator. Belum lagi adopsi teknologi yang terseok-seok.

“Untuk dapat bersaing, industri Indonesia harus membangun keunikan. Perusahaan-perusahaan di Indonesia harus mampu merancang dan melaksanakan proses kerja yang tidak mudah ditiru pesaingnya. Jadi bukan hanya pencitraan atau jurus-jurus marketing,” lanjut pemilik sertifikat Project Management dari Project Styrning Institute, Stockholm, Swedia ini.

Mathiyas mencontohkan industri di China. Korporasi di negeri tirai bambu itu menargetkan diri sebagai produsen produk-produk bagi masyarakat kelas menengah-bawah. Pasalnya kalangan ini mencapai 68 persen dari total penduduk dunia. Lagipula pasar ini belum tergarap, karena industri Eropa dan AS berfokus pada masyarakat kelas atas.

“Dengan keunggulan ini, korporasi China merambah industri-industri mass-market, termasuk industri high-tech dan specialty. Inilah yang disebut keunikan yang tidak bisa ditiru oleh industri Eropa dan AS. Ini yang disebut daya saing sejati,” tegasnya.

Ke depannya, Mathiyas mengharapkan adanya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri tanah air. Pemerintah wajib memberlakukan kebijakan-kebijakan yang pro industri domestik. Tetapi para pelaku industri juga harus melakukan continues improvement melalui inovasi proses.

“Konsumen kita sudah cerdas. Mereka mengejar faster, cheaper, better. Jadi produk-produk kita ke depan harus berorientasi ke sana, kepada konsumen,” pungkasnya.
(gpr)
Berita Terkait
PKK Sumsel Gandeng Dinas...
PKK Sumsel Gandeng Dinas Perindustrian Fasilitasi UP2K
KPK Bekali Pemahaman...
KPK Bekali Pemahaman Antikorupsi Pejabat Tinggi Kementerian Perindustrian
Kemenperin Ciptakan...
Kemenperin Ciptakan Teknologi Pengolahan Limbah Cair
Izin Operasional dan...
Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri Dipermudah Saat Pandemi Corona
Kementerian Perindustrian...
Kementerian Perindustrian Cari Perusahaan Pencetus Teknologi Terbaik di 2022
Rekomendasi 7 Sekolah...
Rekomendasi 7 Sekolah Kedinasan di Bawah Naungan Kementerian Perindustrian
Berita Terkini
Ditampar Tarif Impor...
Ditampar Tarif Impor Baru Trump, IHSG Diramal Ambruk Lagi ke 6.150
1 jam yang lalu
Eropa Butuh Rp182,5...
Eropa Butuh Rp182,5 Triliun demi Mengamankan Pasokan 250 Kargo Gas Alam Cair
2 jam yang lalu
Tarif Impor Terbaru...
Tarif Impor Terbaru Trump Hantam Negara-negara Termiskin, Bagaimana Nasibnya
4 jam yang lalu
KAI Group Angkut 16,3...
KAI Group Angkut 16,3 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran 2025
6 jam yang lalu
Harga Minyak Ikut Lunglai...
Harga Minyak Ikut Lunglai Terpukul Tarif Resiprokal Trump
7 jam yang lalu
Pascalebaran, Harga...
Pascalebaran, Harga Beras, Bawang, Cabai, hingga Daging Mulai Turun
8 jam yang lalu
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2025 SINDOnews.com All Rights Reserved