Rupiah terdepresiasi signifikan
Selasa, 20 Agustus 2013 - 16:14 WIB
Rupiah terdepresiasi signifikan
A
A
A
Sindonews.com - Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada hari kedua pekan ini mengalami depresiasi signifikan seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menyentuh level terendah di tahun ini.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Selasa (20/8/2013) berada di level Rp10.504 per USD, melemah 53 poin dibanding hari kemarin di level Rp10.451 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah terdepresiasi signifikan sebanyak 190 poin ke level Rp10.723 per USD pada penutupan sore ini dibanding Senin (19/8/2013) di Rp10.533 per USD.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup melemah 75 poin dari level Rpp10.415 per USD menjadi Rp10.490 per USD, dengan kisaran harian Rp10.650-Rp10.725 per USD. Adapun data Sindonews bersumber dari Limas mencatat rupiah diperdagangkan di harga Rp10.493/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, gerak rupiah sore ini dipengaruhi nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) yang terus menguat seiring dengan rencana pertemuan The Fed terkait kebijakan paket stimulus moneter.
Selain itu, belum adanya langkah yang akan diambil untuk menahan laju pelemahan mata uang lokal juga mendorong pelemahan rupiah makin agresif.
Sementara itu, penyampaian asumsi-asumsi makro dalam pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya dinilai tidak sesuai kondisi riil dan justru membuat pelaku pasar melepas rupiah.
Bahkan pemerintah berpendapat, nilai tukar rupiah masih dalam level aman karena tidak separah pelemahan mata uang negara-negara berkembang lainnya, seperti rupee dan dolar Australia.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Selasa (20/8/2013) berada di level Rp10.504 per USD, melemah 53 poin dibanding hari kemarin di level Rp10.451 per USD.
Sementara data Bloomberg mencatat bahwa kurs rupiah terdepresiasi signifikan sebanyak 190 poin ke level Rp10.723 per USD pada penutupan sore ini dibanding Senin (19/8/2013) di Rp10.533 per USD.
Sedangkan berdasarkan data yahoofinance, mata uang domestik ditutup melemah 75 poin dari level Rpp10.415 per USD menjadi Rp10.490 per USD, dengan kisaran harian Rp10.650-Rp10.725 per USD. Adapun data Sindonews bersumber dari Limas mencatat rupiah diperdagangkan di harga Rp10.493/USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, gerak rupiah sore ini dipengaruhi nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) yang terus menguat seiring dengan rencana pertemuan The Fed terkait kebijakan paket stimulus moneter.
Selain itu, belum adanya langkah yang akan diambil untuk menahan laju pelemahan mata uang lokal juga mendorong pelemahan rupiah makin agresif.
Sementara itu, penyampaian asumsi-asumsi makro dalam pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebelumnya dinilai tidak sesuai kondisi riil dan justru membuat pelaku pasar melepas rupiah.
Bahkan pemerintah berpendapat, nilai tukar rupiah masih dalam level aman karena tidak separah pelemahan mata uang negara-negara berkembang lainnya, seperti rupee dan dolar Australia.
(rna)