Rupiah sore ini kembali melempem
Jum'at, 27 September 2013 - 16:44 WIB
Rupiah sore ini kembali melempem
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sore ini berakhir melempem di tengah keberhasilan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di zona hijau.
Posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg sore ini ditutup di level Rp11.284/USD, melemah 81 poin dibanding penutupan sore kemarin di level Rp11.203/USD. Posisi rupiah terlemah hari ini berada di level Rp11.221/USD, sedangkan terkuat di level 11.557/USD
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari ini ditutup di level Rp11.532/USD, menguat 41 poin dibanding Kamis (26/9/2013) di Rp11.573/USD.
Sedangkan data yahoofinance mencatat, mata uang domestik siang hari ini di level Rp11.550/USD dengan kisaran Rp11.538. Posisi ini melemah 65 poin dibanding kemarin di harga Rp11.485/USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas juga mencatat bahwa rupiah sore ini diperdagangkan di harga Rp11.458/USD, menguat 30 poin dibanding hari kemarin di Rp11.488/USD.
Sementara itu, IHSG pada sore ini berhasil balik arah dan mempertahankan posisinya di zona hijau sejak dibuka positif pada awal perdagangan pagi tadi. IHSG berakhir naik 17,83 poin atau 0,4 persen ke level 4.423,72.
Meski IHSG berhasil menguat, namun Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, rupiah yang masih melemah hari ini didorong sentimen dari Amerika Serikat.
"Sentimen masih adanya potensi tapering off dan perkiraan negatif akan pembicaraan debt ceiling di bulan Oktober masih mewarnai laju rupiah," ujar dia.
Sementara pengamat pasar uang Rahadyo Anggoro Widagdo mengatakan bahwa pelemahan rupiah mulai terbatas. Kondisi itu didukung asumsi positif dari diluncurkannya mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC), dimana permintaan akan mobil tersebut di pasaran cukup tinggi.
Tingginya permintaan mobil murah, dia menjelaskan, akan memberikan harapan terhadap prospek industri automotif yang makin baik, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih positif.
"Tingginya penjualan mobil murah ini juga akan memberikan imbas positif pada industri-industri turunannya, sehingga ekonomi kita lebih kuat dan diharapkan ketergantungan pada mata uang asing seperti USD juga akan menurun," tutur Anggoro.
Posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg sore ini ditutup di level Rp11.284/USD, melemah 81 poin dibanding penutupan sore kemarin di level Rp11.203/USD. Posisi rupiah terlemah hari ini berada di level Rp11.221/USD, sedangkan terkuat di level 11.557/USD
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI hari ini ditutup di level Rp11.532/USD, menguat 41 poin dibanding Kamis (26/9/2013) di Rp11.573/USD.
Sedangkan data yahoofinance mencatat, mata uang domestik siang hari ini di level Rp11.550/USD dengan kisaran Rp11.538. Posisi ini melemah 65 poin dibanding kemarin di harga Rp11.485/USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas juga mencatat bahwa rupiah sore ini diperdagangkan di harga Rp11.458/USD, menguat 30 poin dibanding hari kemarin di Rp11.488/USD.
Sementara itu, IHSG pada sore ini berhasil balik arah dan mempertahankan posisinya di zona hijau sejak dibuka positif pada awal perdagangan pagi tadi. IHSG berakhir naik 17,83 poin atau 0,4 persen ke level 4.423,72.
Meski IHSG berhasil menguat, namun Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, rupiah yang masih melemah hari ini didorong sentimen dari Amerika Serikat.
"Sentimen masih adanya potensi tapering off dan perkiraan negatif akan pembicaraan debt ceiling di bulan Oktober masih mewarnai laju rupiah," ujar dia.
Sementara pengamat pasar uang Rahadyo Anggoro Widagdo mengatakan bahwa pelemahan rupiah mulai terbatas. Kondisi itu didukung asumsi positif dari diluncurkannya mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC), dimana permintaan akan mobil tersebut di pasaran cukup tinggi.
Tingginya permintaan mobil murah, dia menjelaskan, akan memberikan harapan terhadap prospek industri automotif yang makin baik, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih positif.
"Tingginya penjualan mobil murah ini juga akan memberikan imbas positif pada industri-industri turunannya, sehingga ekonomi kita lebih kuat dan diharapkan ketergantungan pada mata uang asing seperti USD juga akan menurun," tutur Anggoro.
(rna)