IHSG pekan ini diproyeksi di kisaran 4.282-4.415
Senin, 25 November 2013 - 08:54 WIB
IHSG pekan ini diproyeksi di kisaran 4.282-4.415
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan berada pada rentang support 4.282-4.310 dan resisten 4.386-4.415.
"IHSG mampu bertahan di kisaran atas target support (4.268-4.300), meski belum mampu mendekati target resisten (4.430-4.496) yang menunjukkan masih dominannya aksi jual yang terjadi. Diharapkan laju bursa saham global dapat positif, sehingga berimbas baik pada IHSG," kata Reza, Senin (25/11/2013).
Bila menilik lajunya, tampak IHSG masih dalam teritori negatif sepanjang sepekan kemarin. Meski sempat mendapat berita positif dari tetapnya rating peringkat utang Indonesia di level BBB-, namun masih melemahnya nilai tukar rupiah membuat laju IHSG juga tertahan.
Pelaku pasar juga lebih memilih mengamankan posisi masing-masing. Apalagi sentimen dari rilis hasil pertemuan FOMC turut mendominasi, sehingga memberikan dampak yang kurang baik bagi laju rupiah, sehingga berimbas negatif pula pada IHSG.
Di sisi lain, lagi-lagi asing memanfaatkan aksi jual yang menyebabkan pelemahan pada mayoritas harga saham untuk kembali masuk pasar. Sepanjang pekan kemarin, asing berkurang aksi jualannya hingga Rp242,488 miliar atau di bawah pekan sebelumnya senilai Rp2,22 triliun.
Pada awal pekan kemarin, tampak positifnya laju bursa saham Asia sepanjang sesi yang terimbas dari menghijaunya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan sebelumnya dan adanya spekulasi pemerintah China akan melakukan reformasi ekonomi untuk menopang pertumbuhan negaranya dan berita positif dari tetapnya peringkat BBB-, peringkat utang Indonesia oleh Fitch Rating memberikan angin segar pada IHSG.
"Di sisi lain, meski laju rupiah kembali mengalami pelemahan dan sempat menahan laju IHSG, namun IHSG mampu bertahan di zona hijau," ujar dia.
Kendati demikian, harapan pelaku pasar agar IHSG dapat mempertahankan kenaikan lanjutannya sempat pupus dengan melihat mulai berbalik arahnya bursa saham AS yang berimbas pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar hingga akhir pekan kemarin, juga masih menanggapi negatif penilaian lembaga OECD yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk emerging market dan banyaknya komentar negatif terhadap imbas kenaikan BI Rate terhadap dunia usaha.
IHSG selama sepekan kemarin kembali mengalami penurunan 17,49 poin atau 0,40 persen. Angka itu lebih baik dari pekan sebelumnya yang minus sebesar 141,27 poin atau 3,22 persen.
Di sisi lain, laju indeks sektoral tampak variatif, dimana penguatan hanya terjadi pada indeks perkebunan (3,05 persen); aneka industri (3,04 persen); industri dasar (0,32 persen); dan perdagangan (1,19 persen).
"IHSG mampu bertahan di kisaran atas target support (4.268-4.300), meski belum mampu mendekati target resisten (4.430-4.496) yang menunjukkan masih dominannya aksi jual yang terjadi. Diharapkan laju bursa saham global dapat positif, sehingga berimbas baik pada IHSG," kata Reza, Senin (25/11/2013).
Bila menilik lajunya, tampak IHSG masih dalam teritori negatif sepanjang sepekan kemarin. Meski sempat mendapat berita positif dari tetapnya rating peringkat utang Indonesia di level BBB-, namun masih melemahnya nilai tukar rupiah membuat laju IHSG juga tertahan.
Pelaku pasar juga lebih memilih mengamankan posisi masing-masing. Apalagi sentimen dari rilis hasil pertemuan FOMC turut mendominasi, sehingga memberikan dampak yang kurang baik bagi laju rupiah, sehingga berimbas negatif pula pada IHSG.
Di sisi lain, lagi-lagi asing memanfaatkan aksi jual yang menyebabkan pelemahan pada mayoritas harga saham untuk kembali masuk pasar. Sepanjang pekan kemarin, asing berkurang aksi jualannya hingga Rp242,488 miliar atau di bawah pekan sebelumnya senilai Rp2,22 triliun.
Pada awal pekan kemarin, tampak positifnya laju bursa saham Asia sepanjang sesi yang terimbas dari menghijaunya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan sebelumnya dan adanya spekulasi pemerintah China akan melakukan reformasi ekonomi untuk menopang pertumbuhan negaranya dan berita positif dari tetapnya peringkat BBB-, peringkat utang Indonesia oleh Fitch Rating memberikan angin segar pada IHSG.
"Di sisi lain, meski laju rupiah kembali mengalami pelemahan dan sempat menahan laju IHSG, namun IHSG mampu bertahan di zona hijau," ujar dia.
Kendati demikian, harapan pelaku pasar agar IHSG dapat mempertahankan kenaikan lanjutannya sempat pupus dengan melihat mulai berbalik arahnya bursa saham AS yang berimbas pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar hingga akhir pekan kemarin, juga masih menanggapi negatif penilaian lembaga OECD yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, termasuk emerging market dan banyaknya komentar negatif terhadap imbas kenaikan BI Rate terhadap dunia usaha.
IHSG selama sepekan kemarin kembali mengalami penurunan 17,49 poin atau 0,40 persen. Angka itu lebih baik dari pekan sebelumnya yang minus sebesar 141,27 poin atau 3,22 persen.
Di sisi lain, laju indeks sektoral tampak variatif, dimana penguatan hanya terjadi pada indeks perkebunan (3,05 persen); aneka industri (3,04 persen); industri dasar (0,32 persen); dan perdagangan (1,19 persen).
(rna)
Lihat Juga :