Kongres AS gagal sepakati pendanaan IMF

Selasa, 14 Januari 2014 - 11:30 WIB
Kongres AS gagal sepakati...
Kongres AS gagal sepakati pendanaan IMF
A A A
Sindonews.com - Anggota parlemen Amerika Serikat (AS) gagal menyepakati upaya pemberian pendanaan untuk Dana Moneter Internasional (IMF). Hal ini dipandang pemerintah sebagai kemunduran reformasi bersejarah di lembaga keuangan global untuk memberikan lebih banyak kekuatan di negara yang mengalami krisis.

Dilansir dari Reuters, Selasa (14/1/2014), berdasarkan kesimpulan Partai Republik, RUU mengusulkan anggaran belanja pemerintah federal sebesar USD1 triliun, tidak termasuk dana untuk IMF.

Selama hampir setahun, pemerintahan Presiden Barack Obama telah mendorong kongres untuk menyetujui beberapa perubahan dana krisis IMF sebesar USD63 miliar ke rekening umum dalam rangka mempertahankan kekuasaan Washington di lembaga pemberi pinjaman global tersebut.

Kongres harus menandatangani pendanaan IMF untuk menyelesaikan reformasi 2010 yang akan membuat China anggota ketiga terbesar IMF mengurangi dominasi Eropa Barat. Perubahan juga akan memberikan suara yang lebih besar ke negara-negara, seperti Brasil dan India yang mencerminkan bobot ekonomi mereka tumbuh.

Reformasi hak suara, yang dikenal sebagai kuota tidak dapat berlanjut tanpa Amerika Serikat, yang mengendalikan suara utama IMF.

Setelah menunda permintaan pada 2012 karena pemilihan presiden AS, Departemen Keuangan telah berupaya memasukkan ketentuan menjadi tagihan sejak Maret lalu. Namun, permintaan pemerintah ditanggapi skeptis oleh Partai Republik, yang mereka lihat sama saja dengan menyetujui dana baru dalam lingkungan anggaran ketat.

Departemen Keuangan AS secara konsisten membela keselamatan kontribusi mereka di IMF dan berpendapat dana negara untuk pemberi pinjaman akan membantu mengamankan kepentingan bisnis AS dengan mendorong kekuatannya bermain di luar negeri.

"Kami kecewa kongres gagal memasukkan kuota dan reformasi pemerintahan 2010 dalam undang-undang saat ini. Amerika Serikat tetap berkomitmen menerapkan kuota 2010 dan reformasi pemerintahan, serta memeriksa opsi untuk melakukannya sesegera mungkin," ujar juru bicara Depertamen Keuangan.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Ekonomi China Mungkin...
Ekonomi China Mungkin Tidak Akan Pernah Melampaui Ekonomi Amerika
Bantuan Ekonomi Amerika...
Bantuan Ekonomi Amerika untuk Greenland Berbuntut Panjang
Konspirasi Yahudi: Kisah...
Konspirasi Yahudi: Kisah Rothschild Mengacaukan Ekonomi Amerika
Didesak Situasi Ekonomi...
Didesak Situasi Ekonomi Amerika, Rupiah Akan Bergerak Sempit
3 Sinyal Ekonomi Amerika...
3 Sinyal Ekonomi Amerika Serikat di Ambang Resesi
Berita Terkini
4 Temuan Penting di...
4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD
28 menit yang lalu
Danantara Janji Ajak...
Danantara Janji Ajak Diskusi Pengusaha Tentukan Acuan Harga Komoditas yang Dibeli PT DSI
1 jam yang lalu
Rupiah Sentuh Rp17.883...
Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi
2 jam yang lalu
Harga Avtur Domestik...
Harga Avtur Domestik Turun hingga 10 Persen Mulai 1 Juni 2026, Kabar Baik buat Industri Penerbangan
3 jam yang lalu
Harga BBM Pertamax Turbo...
Harga BBM Pertamax Turbo Naik per 1 Juni 2026, Dexlite dan Dex Turun
3 jam yang lalu
Hasilkan Riset Berkelanjutan,...
Hasilkan Riset Berkelanjutan, Kayla Raih Pendanaan Global Youth Action Fund
13 jam yang lalu
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved