Penolakan rencana akuisisi bikin saham PGN rebound
Senin, 20 Januari 2014 - 19:04 WIB
Penolakan rencana akuisisi bikin saham PGN rebound
A
A
A
Sindonews.com - Serentetan penolakan atas rencana akusisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) oleh Pertamina, mendapat sambutan positif investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada perdagangan Senin (20/1/2013), saham PGN menguat 7 persen. Pada pembukaan perdagangan, harga saham PGN Rp4.410 dan ditutup menguat pada Rp4.695.
"Penolakan dari berbagai pemangku kepentingan atas rencana Pertamina mengakuisisi PGN, mengembalikan kepercayaan investor terhadap saham PGN," kata analisi Panin Sekuritas, Fajar Indra di Jakarta, Senin (20/1/2014).
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana akuisisi PGN oleh Pertamina mendapat tentangan dari berbagai pihak. Mereka antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Ketua DPR Marzuki Alie, Komisi VI DPR RI dan berbagai kalangan lainnya.
Ketua DPR RI, Marzuki Alie menyatakan bahwa DPR bakal menolak rencana Menteri BUMN Dahlan Iskan agar Pertamina mengakuisisi PGN. Menurut Marzuki rencana akuisisi itu terlalu gegabah dan cenderung mengesampingkan kepentingan nasional.
"DPR menolak rencana akuisisi Pertamina-PGN. Sangat tidak masuk akal dan aneh rencana yang begitu strategis dan melibatkan dua BUMN besar hanya diputuskan dalam beberapa pekan," tegas ketua DPR Marzuki Ali, Jumat (17/1/2014).
Sementara, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga mengungkapkan kekecewaannya atas langkah Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tidak menginformasikan kepadanya tentang rencana akuisisi PGN oleh Pertamina. Sehingga, Hatta menegaskan sejauh ini belum ada persetujuan dari pemerintah dalam akuisisi tersebut.
"Pemegang saham akan bertanya. Jadi segala sesuatunya harus dipikirkan dengan cermat, enggak gebyah-uyah," ujar Hatta.
Anggota Komisi VI DPR resmi menolak rencana akuisisi PGN oleh Pertamina itu. Anggota Komisi VI DPR Choiruman Harahap menilai bahwa rencana PT Pertamina untuk mengakuisisi PGN belum mendesak untuk dilakukan.
"Untuk saat ini akuisisi PGN tidak dibutuhkan pemerintah. Yang lebih penting Pertamina dapat menguasai Blok Mahakam dari kepemilikan asing dan meningkatkan lifting minyak. Jika lifting minyak terus turun, defisit neraca perdagangan kita akan terus melebar karena impor migas juga akan semakin besar," tegas Chairuman di Jakarta, Kamis (16/1/2014).
Chairuman mengatakan, bahwa pada 5 Desember 2013, Komisi VI sudah melakukan dengar pendapat dengan Kementerian BUMN dan Pertamina. Salah satu kesimpulan rapat disebutkan bahwa Pertamina tidak boleh mengakuisisi BUMN lain.
Pada perdagangan Senin (20/1/2013), saham PGN menguat 7 persen. Pada pembukaan perdagangan, harga saham PGN Rp4.410 dan ditutup menguat pada Rp4.695.
"Penolakan dari berbagai pemangku kepentingan atas rencana Pertamina mengakuisisi PGN, mengembalikan kepercayaan investor terhadap saham PGN," kata analisi Panin Sekuritas, Fajar Indra di Jakarta, Senin (20/1/2014).
Seperti diberitakan sebelumnya, rencana akuisisi PGN oleh Pertamina mendapat tentangan dari berbagai pihak. Mereka antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Ketua DPR Marzuki Alie, Komisi VI DPR RI dan berbagai kalangan lainnya.
Ketua DPR RI, Marzuki Alie menyatakan bahwa DPR bakal menolak rencana Menteri BUMN Dahlan Iskan agar Pertamina mengakuisisi PGN. Menurut Marzuki rencana akuisisi itu terlalu gegabah dan cenderung mengesampingkan kepentingan nasional.
"DPR menolak rencana akuisisi Pertamina-PGN. Sangat tidak masuk akal dan aneh rencana yang begitu strategis dan melibatkan dua BUMN besar hanya diputuskan dalam beberapa pekan," tegas ketua DPR Marzuki Ali, Jumat (17/1/2014).
Sementara, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga mengungkapkan kekecewaannya atas langkah Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tidak menginformasikan kepadanya tentang rencana akuisisi PGN oleh Pertamina. Sehingga, Hatta menegaskan sejauh ini belum ada persetujuan dari pemerintah dalam akuisisi tersebut.
"Pemegang saham akan bertanya. Jadi segala sesuatunya harus dipikirkan dengan cermat, enggak gebyah-uyah," ujar Hatta.
Anggota Komisi VI DPR resmi menolak rencana akuisisi PGN oleh Pertamina itu. Anggota Komisi VI DPR Choiruman Harahap menilai bahwa rencana PT Pertamina untuk mengakuisisi PGN belum mendesak untuk dilakukan.
"Untuk saat ini akuisisi PGN tidak dibutuhkan pemerintah. Yang lebih penting Pertamina dapat menguasai Blok Mahakam dari kepemilikan asing dan meningkatkan lifting minyak. Jika lifting minyak terus turun, defisit neraca perdagangan kita akan terus melebar karena impor migas juga akan semakin besar," tegas Chairuman di Jakarta, Kamis (16/1/2014).
Chairuman mengatakan, bahwa pada 5 Desember 2013, Komisi VI sudah melakukan dengar pendapat dengan Kementerian BUMN dan Pertamina. Salah satu kesimpulan rapat disebutkan bahwa Pertamina tidak boleh mengakuisisi BUMN lain.
(izz)
Lihat Juga :