Pariwisata berpotensi tingkatkan kesejahteraan masyarakat

Selasa, 11 Februari 2014 - 10:26 WIB
Pariwisata berpotensi...
Pariwisata berpotensi tingkatkan kesejahteraan masyarakat
A A A
KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) optimis kunjungan wisatawan mancanegara akan terus meningkat. Berdasarkan data World Economic Forum (WEF) daya saing pariwisata Indonesia pada 2013 meningkat menjadi ranking 70 dari 130-an negara di dunia.

Meningkatnya sektor pariwisata juga dilihat dari tumbuhnya hotel-hotel berbintang di daerah-daerah dan rencana pembangunan bandara udara konektivitas di 16 Destination Management Organization (DMO).

“Kami menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2014 kurang lebih 9,3 juta hingga 9,5 juta jiwa, dengan pertumbuhan sekitar 6-8 persen. Sementara, target wisatawan nusantara (wisnus) ditargetkan 250 juta sampai 251 juta atau tumbuh 1-1,5 persen dengan target devisa sebesar USD11 miliar,” ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu dalam acara diskusi panel "Indonesia Tourism Outlook and Challenges 2014" di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Satpa Pesona, Kementerian Parekraf, Jakarta, Kamis (6/2/2014).

Lebih lanjut, Mari mengatakan, target tersebut optimis tercapai. Lantaran, kinerja pariwisata pada 2013 terbilang cukup memuaskan. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) pada 2013 sebesar 8,8 juta atau tumbuh 9,42 persen dari target 8,6 juta. Capaian 2013 ini menjadi modal positif dalam rangka pencapaian target wiman di 2014 yang penuh harapan dan tantangan.

Sementara itu, tantangan yang dihadapi pariwisata Indonesia pada 2014 masih seputar infrastruktur yang masih perlu ditingkatkan. Konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman ke destinasi unggulan di Indonesia masih perlu digenjot pula. Selain itu, kualitas produk pariwisata juga masih menjadi pekerjaan rumah, yaitu sumber daya manusi (SDM).

"Karena hampir wisatawan yang menggunakan sarana transportasi udara ini lebih besar dibanding melalui darat hingga mencapai 70 persen. Namun, walaupun begitu kita juga terus mengembangkan transportasi darat maupun laut," ungkap Mari.

Menurut Menparekraf, peningkatan konektivitas penerbangan langsung dari negara sumber wisman sangat penting untuk mendongkrak pengembangan pariwisata di Tanah Air. Inilah hal yang menjadi salah satu sebab kelemahan daya saing pariwisata Indonesia. Namun yang lebih penting selain infrastruktur yang harus diperbaiki, transportasi dan telekomunikasi, kesehatan dan kebersihan, serta keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian. Pihaknya juga mendorong peningkatan kualitas produk pariwisata dengan menambah sarana dan prasarana yang memadai termasuk peningkatan jumlah penerbangan langsung tersebut.

Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Firmansyah Rahim mencontohkan, untuk membuka lokasi pariwisata baru tentu membutuhkan infrastruktur yang tentunya harus berkolaborasi dengan kementerian lainnya.

“Misalnya jalan raya harus bekerja sama dengan kementerian Pekerjaan Umum, penerbangan baru sinergi dengan kementerian perhubungan. Dengan sinergi yang akan meningkatkan pertumbuhan pariwisata," paparnya.

Sementara itu, terkait dengan target kunjungan 9,4 juta wisatawan mancanegara pada 2014 konektivitas bandara-bandara di Indonesia akan diperbaiki. "2014 kami prioritaskan konektivitas di 16 DMO (Destination Management Organization-red), yang memang menjadi destinasi yang dipromosikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif," ungkapnya.

Staf Ahli Kementerian Perhubungan Bidang Logistik dan Media, Sugiharjo membenarkan adanya prioritas konektivitas di 16 DMO, terutama di kawasan timur Indonesia yang infrastrukturnya terbatas, akan menjadi prioritas di tahun ini untuk mendorong percepatan pembangunan bandar udara.

Selain itu, menurut Sugiharjo, adanya kegiatan sailing—sebut saja Sail Komodo, Sail Wakatobi, Sail Morotai, dan sebagainya—di Indonesia juga bisa mendorong perbaikan infrastruktur dan konektivitas. "Adanya Sail Morotai, dan tahun ini Sail Raja Ampat baik untuk destinasi tersebut, mendorong pertumbuhan," ujarnya.

Jonathan L Parapak, rektor Universitas Pelita Harapan yang turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan perlunya pendidikan tinggi khusus untuk belajar pariwisata. Melalui pengembangan pendidikan pariwisata Indonesia akan bersaing dan lebih maju dari negara-negara lain.

Dengan begitu, lanjut Jonathan, dapat meningkatkan perolehan devisa pariwisata semakin besar, sehingga peranan pariwisata dalam menciptakan lapangan kerja, serta kesejahteraan masyarakat semakin besar pula.

[syarif wibowo/info]
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tumbuhkan Pariwisata,...
Tumbuhkan Pariwisata, Disbudpar Kota Batam Gelar Parekraf Festival
Pelesiran ke Batam,...
Pelesiran ke Batam, Tidak Afdol Kalau Belum Kunjungi Balerang Bridge
Menteri Sandiaga Uno...
Menteri Sandiaga Uno Pastikan Ekonomi Kreatif Sokong Ekonomi Bangsa
BPKP Kawal Akuntabilitas...
BPKP Kawal Akuntabilitas Program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Gaji PNS Kementerian...
Gaji PNS Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2024
Kolaborasi Kunci Strategis...
Kolaborasi Kunci Strategis Bangkitkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
19 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
27 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
44 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved