Tantangan industri migas nasional makin berat
Rabu, 12 Maret 2014 - 11:39 WIB
Tantangan industri migas nasional makin berat
A
A
A
Sindonoews.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi industri hulu minyak dan gas (migas) saat ini semakin berat.
Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas Lambok H.Hutauruk mengatakan, tantangan di industri hulu migas itu lantaran berbagai masalah dari soal teknis hingga nonteknis semakin beragam dan kompleks. Di sisi lain, menurut dia, kegiatan usaha hulu migas masih menjadi salah satu penopang utama penerimaan Indonesia.
"Posisi industri ini akan tetap dominan hingga beberapa tahun ke depan, terlihat dari tingginya harapan pemerintah terhadap pencapaian target produksi yang ditetapkan," kata Lambok di Gedung Wisma Mulia, Jakarta, Rabu (12/3/2014).
Sesuai data SKK Migas pada tahun 2014 akan dilaksanakan survei seismik 2D sepanjang 9.020 kilometer (km), seismik 3D seluas 11.633 km, 206 pengeboran eksplorasi, 1.300 pengeboran sumur pengembangan, 989 kegiatan kerja ulang serta perawatan 33.170 sumur.
“Semua rencana kerja tersebut untuk mencapai target pemerintah, salah satunya penerimaan negara sebesar USD30,6 miliar,” kata Lambok.
Dalam APBN 2014 ditargetkan lifting minyak sebesar 870 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 7.175 juta british thermal unit per hari (bbtud). Jumlah itu setara 2,11 juta barel ekuivalen minyak per hari. Target penerimaan negara dari penjualan migas tersebut sebanyak USD30,6 miliar.
Target produksi migas dari pemerintah tersebut lebih tinggi dibanding hasil pembahasan WP&B 2014 yang memperkirakan lifting minyak sebesar 804 ribu bph dan gas bumi sebesar 6.853 bbtud.
Sementara Pelaksana Tugas Ketua SKK Migas Johanes Widjonarko dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII pada Februari lalu menyatakan bahwa SKK Migas menargetkan adanya penambahan produsi gas sebanyak 579 MMSCF dan minyak 59.382 bph dari 13 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang dapat berjalan dengan optimal pada tahun ini.
Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas Lambok H.Hutauruk mengatakan, tantangan di industri hulu migas itu lantaran berbagai masalah dari soal teknis hingga nonteknis semakin beragam dan kompleks. Di sisi lain, menurut dia, kegiatan usaha hulu migas masih menjadi salah satu penopang utama penerimaan Indonesia.
"Posisi industri ini akan tetap dominan hingga beberapa tahun ke depan, terlihat dari tingginya harapan pemerintah terhadap pencapaian target produksi yang ditetapkan," kata Lambok di Gedung Wisma Mulia, Jakarta, Rabu (12/3/2014).
Sesuai data SKK Migas pada tahun 2014 akan dilaksanakan survei seismik 2D sepanjang 9.020 kilometer (km), seismik 3D seluas 11.633 km, 206 pengeboran eksplorasi, 1.300 pengeboran sumur pengembangan, 989 kegiatan kerja ulang serta perawatan 33.170 sumur.
“Semua rencana kerja tersebut untuk mencapai target pemerintah, salah satunya penerimaan negara sebesar USD30,6 miliar,” kata Lambok.
Dalam APBN 2014 ditargetkan lifting minyak sebesar 870 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 7.175 juta british thermal unit per hari (bbtud). Jumlah itu setara 2,11 juta barel ekuivalen minyak per hari. Target penerimaan negara dari penjualan migas tersebut sebanyak USD30,6 miliar.
Target produksi migas dari pemerintah tersebut lebih tinggi dibanding hasil pembahasan WP&B 2014 yang memperkirakan lifting minyak sebesar 804 ribu bph dan gas bumi sebesar 6.853 bbtud.
Sementara Pelaksana Tugas Ketua SKK Migas Johanes Widjonarko dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII pada Februari lalu menyatakan bahwa SKK Migas menargetkan adanya penambahan produsi gas sebanyak 579 MMSCF dan minyak 59.382 bph dari 13 perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang dapat berjalan dengan optimal pada tahun ini.
(rna)
Lihat Juga :