Daya saing rendah, pengusaha asing kuasai Indonesia
Selasa, 25 Maret 2014 - 15:21 WIB
Daya saing rendah, pengusaha asing kuasai Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Hımpunan Pengusaha Muda Indonesıa (Hipmi) menilai, maraknya pengusaha asing yang masuk ke Indonesia menimbulkan beberapa dampak pada pengusaha lokal. Pasalnya, hal tersebut telah menyebabkan daya saing yang tinggi antarpengusaha lokal, sehingga asing menjadi penguasa di Indonesia.
"Kamı darı sısı pengusaha ya lancar-lancar saja dı lapangan, tapı yang pentıng bagaımana regulator menıngkatkan daya saıng, terutama keberpıhakan kepada pengusaha UMKM yg harusnya dıtranslate dalam kebıjakan-kebıjakan tertentu," kata Bendahara Umum DPP Hipmi, Bayu Priawan djokosoetono pada dıskusı "Bangkıtnya Ekonomı Global dan Antısıpası Perekonomıan Domestık", di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/3/2014).
Menurut Bayu, yang juga Chaırman Blue Bırd Group Holdıng ini menyatakan, adanya missing link antara pemerıntah dan pengusaha sehıngga hal ını sering dimanfaatkan oleh asing.
"Sehingga yang berpartner mereka-mereka lagi sedangkan pengusaha lokal tidak punya sinergi dan malah menjatuhkan pengusaha sesama lokal," kata Bayu.
Sementara itu, guna mendukung pengusaha lokal terkait dengan UMKM, industri perbankan harus bisa memberikan kriteria-kriteria khusus untuk bisa meningkatkan para pengusaha Indonesia.
“Ini yang memang perlu dilakukan juga, kalau dari sisi pengusaha besar sudah punya tingkat daya saingnya sendiri,” ucap Bayu.
Terlebih, menurutnya, memasuki Asean Economic Community (AEC) yang akan berlangsung pada 2015, pengusaha Indonesia perlu dibekali lebih awal menyikapi kesiapan AEC. Pasalnya, banyak para pengusaha yang belum paham betul akan arti daya saing dalam mengahadapi AEC 2015.
“Hipmi terus mengantisipasi AEC, banyak yang belum ngeh, mereka (pengusaha) hanya berpikir ya sudah jalanin saja, mereka belum bisa berpikir ini merupakan peluang, bagaimana agar mereka bisa bersaing memasuki AEC 2015,” tutup Bayu.
"Kamı darı sısı pengusaha ya lancar-lancar saja dı lapangan, tapı yang pentıng bagaımana regulator menıngkatkan daya saıng, terutama keberpıhakan kepada pengusaha UMKM yg harusnya dıtranslate dalam kebıjakan-kebıjakan tertentu," kata Bendahara Umum DPP Hipmi, Bayu Priawan djokosoetono pada dıskusı "Bangkıtnya Ekonomı Global dan Antısıpası Perekonomıan Domestık", di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/3/2014).
Menurut Bayu, yang juga Chaırman Blue Bırd Group Holdıng ini menyatakan, adanya missing link antara pemerıntah dan pengusaha sehıngga hal ını sering dimanfaatkan oleh asing.
"Sehingga yang berpartner mereka-mereka lagi sedangkan pengusaha lokal tidak punya sinergi dan malah menjatuhkan pengusaha sesama lokal," kata Bayu.
Sementara itu, guna mendukung pengusaha lokal terkait dengan UMKM, industri perbankan harus bisa memberikan kriteria-kriteria khusus untuk bisa meningkatkan para pengusaha Indonesia.
“Ini yang memang perlu dilakukan juga, kalau dari sisi pengusaha besar sudah punya tingkat daya saingnya sendiri,” ucap Bayu.
Terlebih, menurutnya, memasuki Asean Economic Community (AEC) yang akan berlangsung pada 2015, pengusaha Indonesia perlu dibekali lebih awal menyikapi kesiapan AEC. Pasalnya, banyak para pengusaha yang belum paham betul akan arti daya saing dalam mengahadapi AEC 2015.
“Hipmi terus mengantisipasi AEC, banyak yang belum ngeh, mereka (pengusaha) hanya berpikir ya sudah jalanin saja, mereka belum bisa berpikir ini merupakan peluang, bagaimana agar mereka bisa bersaing memasuki AEC 2015,” tutup Bayu.
(gpr)
Lihat Juga :