Indonesia defisit BBM hampir 50%
Kamis, 27 Maret 2014 - 10:18 WIB
Indonesia defisit BBM hampir 50%
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia setiap hari mengalami defisit Bahan Bakar Minyak (BBM), saat ini mencapai 608.000 barel per hari (bph). Kekurangan itu hampir 50 persen dari total konsumsi BBM dalam negeri yang mencapai 1,26 juta bph.
Menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), defisit BBM ini beriringan dengan tingginya impor BBM dan peningkatan konsumsi nasional yang tidak disertai dengan penambahan kilang baru. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen, sementara kebutuhan BBM meningkat sekitar 8-9 persen per tahun.
Setidaknya, Indonesia membutuhkan dua kilang baru guna mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Dalam laporan tersebut, juga terdapat data bahwa perkembangan konsumsi BBM bersubsidi selama dua bulan pertama 2014, kuota bahan bakar bersubsidi tahun ini sebanyak 48 juta kiloliter di prediksi tak akan jebol.
Pertamina saat ini memiliki stok BBM yang setara dengan volume 19 hari kebutuhan nasional. Pengamat Perminyakan, Kurtubi, menjelaskan ketiadaan kilang minyak yang memadai dikarenakan keberpihakan pemerintah kepada para investor asing.
"Harusnya yang wajib bangun kilang itu negara karena migas diperuntukkan bagi hajat hidup orang banyak seperti yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945. Masa asing yang kuasai BBM kita, bagaimana dengan kedaulatan energi kita ke depan," katanya, Kamis (27/3/2014).
Kurtubi menilai, opsi impor BBM memang tidak dapat dihindari karena untuk menutupi defisit BBM. "Walaupun kilang baru dibangun, kilang tersebut baru bisa beroperasi empat tahun kemudian sehingga defisit BBM akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi," ucap pakar energi ini.
Dia memprediksi, dana pembangunan kilang dengan total kapasitas 1 juta bph yaitu sekitar Rp113 triliun. Sumber dananya bisa berasal dari keuntungan Pertamina yang tidak disetor dalam bentuk dividen.
"Atau bisa juga bekerja sama bersama investor lokal. Dan yang paling penting, kilang tersebut harus tersebar, jangan hanya fokus di pulau Jawa," pungkas Kurtubi.
Menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), defisit BBM ini beriringan dengan tingginya impor BBM dan peningkatan konsumsi nasional yang tidak disertai dengan penambahan kilang baru. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen, sementara kebutuhan BBM meningkat sekitar 8-9 persen per tahun.
Setidaknya, Indonesia membutuhkan dua kilang baru guna mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Dalam laporan tersebut, juga terdapat data bahwa perkembangan konsumsi BBM bersubsidi selama dua bulan pertama 2014, kuota bahan bakar bersubsidi tahun ini sebanyak 48 juta kiloliter di prediksi tak akan jebol.
Pertamina saat ini memiliki stok BBM yang setara dengan volume 19 hari kebutuhan nasional. Pengamat Perminyakan, Kurtubi, menjelaskan ketiadaan kilang minyak yang memadai dikarenakan keberpihakan pemerintah kepada para investor asing.
"Harusnya yang wajib bangun kilang itu negara karena migas diperuntukkan bagi hajat hidup orang banyak seperti yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945. Masa asing yang kuasai BBM kita, bagaimana dengan kedaulatan energi kita ke depan," katanya, Kamis (27/3/2014).
Kurtubi menilai, opsi impor BBM memang tidak dapat dihindari karena untuk menutupi defisit BBM. "Walaupun kilang baru dibangun, kilang tersebut baru bisa beroperasi empat tahun kemudian sehingga defisit BBM akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi," ucap pakar energi ini.
Dia memprediksi, dana pembangunan kilang dengan total kapasitas 1 juta bph yaitu sekitar Rp113 triliun. Sumber dananya bisa berasal dari keuntungan Pertamina yang tidak disetor dalam bentuk dividen.
"Atau bisa juga bekerja sama bersama investor lokal. Dan yang paling penting, kilang tersebut harus tersebar, jangan hanya fokus di pulau Jawa," pungkas Kurtubi.
(izz)
Lihat Juga :