Kebijakan moneter BI dinilai analis tepat
Sabtu, 29 Maret 2014 - 12:55 WIB
Kebijakan moneter BI dinilai analis tepat
A
A
A
Sindonews.com - Analis pasar keuangan dari Bank Mandiri, Reny Eka Putri menilai bahwa kebijakan moneter yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) tepat. Hal ini membawa angin segar untuk tren inflasi pada April mendatang.
“Dengan kebijakan BI diperkirakan dari sisi moneternya cukup mendukung kebijakan makro. Jadi, sisi inflasi masih range 4 sampai 5 persen untuk inflasi inti. Biasanya kan kalau kebijakan moneter cukup baik tidak terlalu berdampak ke inflasi umum,” ungkapnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (29/3/2014).
Reny mengatakan, kebijakan BI yang tidak mengubah ketetapan BI Rate sebesar 7,5 persen telah sesuai dengan target inflasi tahun ini sebesar 4,5 persen ±1 persen. Ditambah dengan apresiasi terhadap rupiah yang cukup besar sejak Januari lalu. Selain itu, kenaikan harga komoditas pangan yang tidak terlalu signifikan menjadi penyumbang penurunan inflasi pada April.
Di sisi lain, Reny mengatakan, kebijakan quantitative easing yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat, The Fed tidak akan berpengaruh besar kepada tren inflasi di Indonesia. “Dampak ke market sudah dibobot karena pengumumannya sudah dari minggu lalu. Faktor negatif untuk rupiah melaju lebih kuat tetap ada. Tapi, dari sisi domestik juga lebih bagus ya,” tandasnya.
“Dengan kebijakan BI diperkirakan dari sisi moneternya cukup mendukung kebijakan makro. Jadi, sisi inflasi masih range 4 sampai 5 persen untuk inflasi inti. Biasanya kan kalau kebijakan moneter cukup baik tidak terlalu berdampak ke inflasi umum,” ungkapnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (29/3/2014).
Reny mengatakan, kebijakan BI yang tidak mengubah ketetapan BI Rate sebesar 7,5 persen telah sesuai dengan target inflasi tahun ini sebesar 4,5 persen ±1 persen. Ditambah dengan apresiasi terhadap rupiah yang cukup besar sejak Januari lalu. Selain itu, kenaikan harga komoditas pangan yang tidak terlalu signifikan menjadi penyumbang penurunan inflasi pada April.
Di sisi lain, Reny mengatakan, kebijakan quantitative easing yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat, The Fed tidak akan berpengaruh besar kepada tren inflasi di Indonesia. “Dampak ke market sudah dibobot karena pengumumannya sudah dari minggu lalu. Faktor negatif untuk rupiah melaju lebih kuat tetap ada. Tapi, dari sisi domestik juga lebih bagus ya,” tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :