Pembebasan bea masuk kakao harus pertimbangkan petani

Rabu, 09 April 2014 - 18:06 WIB
Pembebasan bea masuk...
Pembebasan bea masuk kakao harus pertimbangkan petani
A A A
Sindonews.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah sepakat untuk mengusulkan pembebasan bea masuk bagi impor kakao. Usulan tersebut tinggal menunggu persetujuan Kementerian Pertanian untuk kemudian diajukan kepada Kementerian Keuangan.

Menanggapi usulan Kemperin dan Kemendag, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Andin Hadiyanto mengingatkan, pembebasan bea masuk harus mempertimbangkan keuntungan/kerugian petani.

Dia mengingatkan, pemberlakuan bea masuk 0 persen terhadap impor kakao bisa mendorong petani kakao untuk tidak menanam kakao lagi dan beralih ke tanaman lain. Pasalnya, melimpahnya kakao impor bisa menurunkan harga kakao mereka. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan produksi kakao dalam negeri makin turun.

“Kalau dibebaskan malah petani tidak dapat insentif, produksi turun, kembali ke industrinya kekurangan bahan. Memang kita harus lihat petani. Kalau pedagang okelah selalu ada margin,” tutur Andin di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jln Jenderal Gatot Subroto No 40-42, Jakarta, Selasa (8/4/2014) malam.

Sebagai informasi, saat ini impor kakao dikenai tariff bea masuk 5 persen. Impor kakao Indonesia sebagian besar dari Pantai Gading, Papua Nugini, dan Ekuador.

Kemenperin dan Kemendag mengajukan pembebasan bea masuk impor kakao dengan alasan industri kakao kekurangan pasokan. Padahal, mereka ingin meningkatkan produksi.

“Dari sisi industri memang akan mengurangi costnya, karena impor jadi lebih murah,” imbuhnya.

Karena itulah, menurutnya, perlu dikaji lebih lanjut apakah pasokan kakao dalam negeri memang tidak mencukup atau karena banyak kakao yang diekspor daripada diolah dalam negeri.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kakao Indonesia pada Januari-Februari 2014 mencapai USD51,36 juta, meningkat 27,68 persen dibandingkan Januari-Februari 2013. Sementara itu, secara kumulatif ekspor kakao 2013 menembus USD1,15 miliar.

“Impor apakah karena tidak cukup sama sekali, kalau itu salah satu pertimbangannya bisa dibebaskan. Tapi kalau masih ada yang diekspor, kita lihat lagi,” tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Laju Ekspor Biji Kakao...
Laju Ekspor Biji Kakao Sulsel Tetap Kencang di Masa Pandemi Covid-19
Harga Kakao Turun di...
Harga Kakao Turun di Tingkat Petani
Platform Webtoon Berstandar...
Platform Webtoon Berstandar Internasional ‘Kakao Webtoon’ Diluncurkan di Indonesia
Tingkatkan Nilai Produk...
Tingkatkan Nilai Produk Kakao, Kemendag Jajaki Kerja Sama dengan Italia
PT Mars Target Dukung...
PT Mars Target Dukung Peningkatan Kesejahteraan 9.000 Petani Kakao
Melihat Proses Produksi...
Melihat Proses Produksi Coklat di Doesoen Kakao
Berita Terkini
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
26 menit yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
42 menit yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
49 menit yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
54 menit yang lalu
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
54 menit yang lalu
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
2 jam yang lalu
Infografis
Dzikry Lazuardi, Analis...
Dzikry Lazuardi, Analis Persija yang Dipercaya John Herdman Masuk Tim Pelatih Timnas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved