Mendag: RI perlu hati-hati sikapi pembahasan FTAAP

Sabtu, 17 Mei 2014 - 13:28 WIB
Mendag: RI perlu hati-hati...
Mendag: RI perlu hati-hati sikapi pembahasan FTAAP
A A A
Sindonews.com - Dalam pertemuan dua hari Asia Pasific Economic Coorporation (APEC) di Tiongkok pada 17-18 Mei 2014, selain dibahas dinamika ekonomi regional dan global, juga dibahas visi pembentukan Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP).

Gagasan ini kali pertama dicetuskan oleh APEC Business Advisory Council (ABAC) pada tahun 2006. Namun karena banyaknya perbedaan pandangan terutama dalam kaitannya dengan pencapaian Bogor Goals 2010/2020, gagasan ini belum menjadi perhatian khusus APEC.

“Indonesia perlu menyikapi pembahasan mengenai FTAAP ini secara hati-hati. Perundingan Trans-Pacific Partnership dan Regional Comprehensive Economic Partnership dianggap sebagai basis menuju terwujudnya FTAAP," kata Menteri Perdagangan (Mendag) RI Muhammad Lutfi dalam rilisnya, Sabtu (17/5/2014).

Kendati demikian, menurut dia, APEC tidak dapat serta-merta menggabungkan kedua inisiatif regional ini menjadi sebuah FTAAP karena keduanya berbeda, baik dalam hal ambisi maupun isu yang dicakup.

"Kita juga perlu memikirkan peran APEC ke depan yang tentunya harus tetap bersifat sukarela dan berpegang pada prinsip kerja sama, bukan sebuah forum yang mengikat secara hukum,” ujar dia.

Sementara pertemuan APEC yang dihadiri para menteri perdagangan juga membahas tentang paradigma baru perdagangan dunia. Pertemuan tahunan ini membahas mengenai paradigma baru perdagangan dunia yang dikenal sebagai Global Value Chain (GVC).

Anggota APEC sependapat bahwa perubahan pola perdagangan dunia ini perlu disikapi dengan meningkatkan fasilitasi perdagangan termasuk mengembangkan sektor-sektor jasa yang berperan sebagai pelumas bagi kegiatan sektor-sektor lainnya.

Dia menuturkan, ekonomi berkembang seperti Indonesia berkeinginan agar GVC ini bukan justru mengunci sebuah negara pada satu mata rantai, misalnya berfokus hanya sebagai produsen bahan mentah.

"Kita ingin mendapatkan nilai tambah bagi produk yang kita hasilkan dan karenanya Indonesia menekankan bahwa untuk mendukung GVC tidak cukup hanya dengan liberalisasi tetapi lebih penting dari itu adalah meningkatkan kapasitas ekonomi berkembang untuk menaiki mata rantai nilai,” tutur dia.

Pertemuan ini juga mencatat kesepakatan para anggota untuk menugaskan Policy Support Unit (PSU) melakukan kajian mendalam atas 144 produk yang dinominasikan oleh 11 Ekonomi APEC di bawah prakarsa Indonesia untuk mempromosikan produk-produk yang berkontribusi kepada pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan melalui pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

Sementara APEC dianggap berhasil untuk mendorong pembukaan pasar para anggotanya secara unilateral, masih ada sekitar satu miliar penduduk APEC yang hidup di pedesaan dan sebagian besar di antaranya belum mendapatkan manfaat langsung dari kerja sama APEC ini.

Melalui prakarsa yang diusung Indonesia tahun lalu dan didukung oleh Tiongkok, Malaysia dan PNG sebagai co-sponsor, diharapkan agar PSU dapat menelurkan rekomendasi untuk mendorong perdagangan dan investasi pada sejumlah produk agar rakyat di pedesaan memperoleh pendapatan yang lebih layak.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kemendag Catat Ekspor...
Kemendag Catat Ekspor Produk Pangan Olahan Naik 7,9%
21 Perjanjian Dagang...
21 Perjanjian Dagang Baru Dijajaki, Benua Afrika Salah Satu Targetnya
Mendag Ingatkan Pengusaha...
Mendag Ingatkan Pengusaha untuk Patuhi Regulasi IMEI
Usut Dugaan Korupsi...
Usut Dugaan Korupsi Gerobak Kemendag, Polri Analisa Transaksi Keuangan
Kejagung Geledah Kantor...
Kejagung Geledah Kantor Kemendag Sita Dokumen dan Uang Tunai
Kasus Minyak Goreng,...
Kasus Minyak Goreng, Pengamat: Cabut Izin Perusahaan yang Terbukti Melanggar
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
5 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
6 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
7 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
7 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
7 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
7 jam yang lalu
Infografis
7 Kolonel TNI AL Pecah...
7 Kolonel TNI AL Pecah Bintang, Ada Dankopaska Koarmada RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved